Makan Sirih Berpinang Tidak

Ini kedua kalinya Sirih mendapati jalan raya berujung jurang. Aspal, batu dan tanah menurun beberapa langkah lalu amblas begitu saja tertelan bumi. Rangka beton yang menjorok ke mulut jurang mencengkeram udara tebal.

Sirih bisa menghindari itu jika tebing tinggi di sisi-sisi jurang tidak terlalu curam untuk dilewati. Apalagi tebingnya basah akibat embun di lumut dan paku-pakuan. Dari atas pelana tidak terlihat sambungan jalan raya di seberang. Semua putih, putih sejauh panah melayang.

Hutan di kanan-kiri sunyi, bagai tertidur oleh napas dingin dewi dari Barat. Terbayang sang dewi bersandar di pangkuan ular naga perak berkepala sebelas ratus, napasnya memuntir udara sana-sini. Beberapa utas kabut juga menyerupai leher naga yang meliuk. Sirih membalas napas dewi dengan sekali embusan. Putih.

Dia tampar pipinya sendiri. “Nona Embun Perak bukan berasal dari Barat,” gumamnya. “Mana ada.”

Nalar mengajarkan Sirih untuk mencari sungai terdekat dan melanjutkan perjalanan dari situ, atau sekalian menuju pantai Utara. Hanya saja dia tidak yakin Utara ada di mana. Kemarin lembah diguyur hujan, ditambah lagi jalan yang berlika-liku membuat Sirih kehilangan arah. Bisa saja dia sedang menghadap Utara sekarang.

Dia embuskan napas lagi sebelum memandang atas. Langit cerah namun tertutup awan merata, seperti layar putih diterangi lampu, sehingga tidak bisa diketahui letak Matahari. “Balik ke lembah kalau begini.” Tidak disangka seperempat hari perjalanan ini sia-sia.

Bunyi becek kecil terdengar saat Sirih menggiring Cerana balik. Dia condongkan badan ke arah kaki depan sampai terlihat bercak merah tedas di dekat tapak Cerana. Alisnya bertaut. Segera Sirih turun dan mencolek bercak tadi.

Dengan sekali isapan napas Sirih tahu ini apa. Bekas menginang. Terhidu pula wangi gerusan cengkih dan kering tembakau. Sirih menyeringai. Dia menahan tawa sambil berdiri. “Ada-ada saja,” katanya kepada Cerana, meski si kuda tidak akan mengerti. Mata Sirih menyipit saat tergelak.

Ibunda Ratu tidak pernah menambah tembakau saat menginang. Dayang-dayangnya pun tidak. Seisi istana tidak ada yang menginang pakai tembakau. Sekalipun begitu, beliau selalu menyimpan hadiah tembakau dari mancanegara di kotak tempurung hitam.

Kotak tersebut dibungkus kain, simpulnya lumayan rumit. Sirih kecil pernah coba membuka, tetapi salah tarik membuat simpulnya makin erat. Baru ketika remaja dia dan adiknya mengerti cara membuka simpul itu. Sirih remaja tidak penasaran lagi setelah bisa membuka kotak tembakau. Lain halnya dengan Pinang. Maka tidak jarang Sang Ratu mendapati daun-daun tembakau berkurang.

Akhirnya Sirih lepas tawa yang sedari tadi ditahan. “Enggak berubah, kamu,” sahutnya ke hutan di kanan jalan. Bercak kinang memang mengarah ke sana. Dia duduk di pelana, menarik napas dalam, menemukan semangat yang sempat hilang. Dalam senyum dia pacu Cerana menuju hutan.

Suasana hutan masih mirip dengan jurang jalan raya. Tidak ada kicauan ceria di pepohonan, tidak ada belukar warna-warni. Semua tertidur dibuai kabut lengang. Ketika siang datang, Sirih sudah jauh di pelosok, masih menyusuri kaki tebing. Perutnya mulai lapar, namun ada yang lebih mendesak dari makan: kandung kemihnya penuh gara-gara udara dingin.

Bahaya kalau berkemih di pohon. Dia belum tahu ada hewan buas apa di sini. Tapi ini sudah tidak mungkin ditahan. Berburu-buru menengok ke segala arah, berkat bantuan jemari sinar Matahari dari sela-sela dedaunan dia bisa melihat ada semacam ceruk di kaki tebing.

Sirih langsung turun dan berlari-lari kecil. Ceruk tersebut rupanya memiliki sungai kecil di bawah bebatuan. Beruntung sekali! Setelah ini dia tinggal mengikuti aliran air sampai bertemu sungai yang lebih besar. Tanpa pikir panjang dia lepas senapan dari punggung dan menyegerakan urusan.

Sebelum berdiri untuk mengikat celana, Sirih menyadari ada yang janggal. Di salah satu batuan terdapat canang yang isinya sudah lapuk.

Orang tua manapun selalu mengajari bahwa buang air di hutan tidak boleh sembarangan. Bahkan sebisa mungkin jangan lakukan di tengah hutan. Salah-salah kita bisa menodai tempat persembahyangan, dan yang disembah tidak akan senang apabila sesajinya kotor. Maka dari kecil harusnya sudah dibiasakan untuk memeriksa sekitar dan mengucap permisi apabila ingin buang air.

Dia harus memberi sesaji minta maaf. Perlahan Sirih bangkit, ikat celana, dan menengok ke arah Cerana.

Rembesan sinar Matahari seolah-olah mengejek Sirih. Yakin sekali dia bahwa tadi Cerana ditinggalkan tepat di bawah sinar, tetapi sekarang tanah itu kosong. Hampir mengumpat dia saat melihat ini. Mana semua makanan ada di tas pelana.

Tapi dia yakin Cerana tidak jauh dari sini. Kalaupun dibawa macan, Sirih bawa senapan. Mungkin satu-satunya yang menguatirkan adalah tersesat di antara pohon. Kini dia menyesal kenapa sampai memejamkan mata saat berkemih.

Pelatuk dikokang setengah. Dari labu diambil mesiu sejumput lebih. Caping digalakkan, lalu sebagian besar dimasukkan ke laras bersama peluru, dilantak dua kali. Pelantaknya tidak dipasang lagi ke bawah laras. Dengan senapan siaga di tangan kanan dan pelantak di kiri, Sirih berjalan sambil menyabet semak-semak.

Bersiul panjang sampai dua lusin kali pun masih belum terdengar suara kuda menyahut. Sesekali dia mendapati bekas gesekan benda tajam di batang pohon, dan lembaran beludru dirubung semut. Di antara sabetan semak Sirih makin takut Cerana kenapa-kenapa. Dia juga tidak bisa mengenali jika sedari tadi ada jejak. Belum pernah Sirih belajar berburu. Satu-satunya yang dia tahu adalah berbuat berisik agar hewan buas takut.

Tanah di depan mulai menurun sejauh setengah lusin langkah. Sambil berjalan miring Sirih melihat berkas sinar Matahari di antara pepohonan, kira-kira sejauh satu umbanan dari sini. Berkas-berkas itu seperti jatuh mengenai cermin. Cermin di tengah hutan? Sirih makin penasaran.

Pada akhirnya dia tidak tahu itu cermin atau bukan, karena pantulan cahaya yang tadi terlihat dari jauh sudah menghilang begitu Sirih sampai di bukaan berumput. Ada bukit cadas di kiri depan, dengan kolam dangkal di kaki yang mungkin tadi dia anggap cermin. Mengintip dari balik bukit adalah kuda yang sudah dikenal.

Lega rasanya mengetahui bahwa Cerana baik-baik saja. Setidaknya Sirih yakin bahwa tidak ada pemangsa di hutan ini. Dia pasang kembali pelantak ke bawah laras. Lain kali dia tidak akan lupa mengikat cais sebelum meninggalkan Cerana. Sirih ingin makan siang dahulu di bukaan sini, selain karena tempatnya nyaman Cerana pun bisa merumput. Sehabis makan dia bisa kembali ke ceruk bercanang untuk memberi sesaji.

“Cerana,” panggil Sirih sambil mendecak. “Sini.” Si kuda berjalan mendekat. Ketika tangannya mencoba meraih kepala Cerana, pantulan cermin kembali hadir di balik bukit. Matanya silau sejenak. Dalam satu kedipan muncul sesosok gadis menggantikan cahaya silau.

Rambutnya perak. Cermin yang sedari tadi dilihat bukanlah kolam, melainkan rambut si gadis. Sirih sulit percaya akan hal ini. Belum pernah ada gadis belia berambut perak. Gadis itu sedang bersimpuh di depan daun pisang, makan nasi memakai dua tangan. Menyadari bahwa nasi tersebut pasti sebelumnya terbungkus pincuk, Sirih melirik tas di belakang pelana: simpulnya terbuka. Perut Sirih kembali keroncongan. Tangan kirinya meraih gagang senapan untuk menodong, “Berhenti,” katanya.

Si rambut perak menengok. Alis Sirih turun. Dia yakin sebelum ini ranting-ranting pohon berada di belakang gadis itu, tetapi sekarang para ranting berada di rambut perak gadis, membentuk semacam topeng bersama potongan kulit kayu dan sepasang angga. Topeng tersebut setengah disingkap ke atas agar mulut si gadis bisa makan.

“Kamu pencuri?” tanya Sirih. “Itu bekal saya.”

Gadis topeng ranting menggeleng.

“Itu bekal saya. Kamu siapa?”

Si gadis membalas dengan mulut penuh. Sirih sadar makanan di mulutnya belum ditelan. Tidak akan bisa dapat jawaban jika begini.

Masih menodong, Sirih berkata kembali, “Telan dulu baru jawab.”

Gadis itu menurut. Dia telan nasinya dengan nyaring. Lambung Sirih iri setengah mati. “Kudanya datang membawa makan,” jawab si gadis. Ada logat asing di suaranya, seperti bunyi ranggasan daun terinjak.

“Mana mungkin. Kuda saya pasti diculik ke sini, supaya bisa kamu curi barangnya.”

“Makanan Nona sudah jadi milikku.”

Sirih menunjuk nasi dengan moncong laras. “Ke sinikan makanannya dan kamu saya biarkan pergi.”

“Tidak bisa. Makanan Nona milikku.”

Telunjuk kiri Sirih menarik pelatuk ke kokang penuh, galang senapan disangga ketiak. “Sekali lagi menolak, saya tembak.”

Gadis topeng ranting kembali menoleh ke arah nasi. Melihat itu, Sirih mulai meregangkan todongan. Namun, alih-alih membungkus dan menyerahkan nasi, si rambut perak meraih dan melanjutkan makan. Sirih melepaskan tembakan peringatan.

Cerana meringkik dan mulai berlari, tetapi Sirih berhasil menggenggam caisnya dan menenangkan. Ketika asap putih hilang perlahan, dia bisa melihat lagi ke arah si gadis. Sejenak dia kira tembakan peringatannya berhasil membuat gadis itu kabur, namun saat asap yang menutupi rumput hilang dia mendapati sesosok mayat. Sirih menarik napas berat. Dia tidak bermaksud membunuh, apalagi membunuh di tengah hutan. Peluh bermunculan di anak rambutnya karena dia harus ke kuil terdekat dan kembali lagi ke sini untuk upacara celaka maut, belum lagi mayatnya harus dia kubur sendiri.

Menyadari bahwa tidak ada pilihan lain, Sirih beranjak mendekat. Apa yang terlihat membuatnya beku di tempat. Dalam perantauan, Sirih tahu bahwa sawah-sawah di luar negeri tidak memiliki padmasari. Petani mereka mengikat tongkat dan jerami sehingga menyerupai manusia. Anehnya orang-orangan ini tidak diberi sesaji, dibiarkan begitu saja di tengah sawah.

Di depan Sirih tergeletak orang-orangan sawah. Bukan mayat. Kain kusam yang bolong akibat peluru bukan berisi jerami, tetapi daun-daun merah kering. Bau mesiu dan timah bercampur dengan sobekan daun setengah gosong, seperti mengisap pipa di kala hujan. Tidak ada topeng ranting.

Hutan pasti memainkan pikirannya. Mustahil barusan dia berbicara dengan orang-orangan, apalagi orang-orangan yang bisa makan nasi. Buktinya nasi di tanah sudah habis setengah. Dengan hati-hati dia bungkus kembali nasi itu. Lebih cepat keluar dari hutan ini, lebih baik. Tentu saja sebelum itu Sirih harus menyusun sesaji. Ada sekipas lontar berisi tata canang sari di tas.

Baru balik badan untuk mengembalikan nasi ke tas, dia dikagetkan oleh gadis topeng ranting. “Sesajinya sudah tidak perlu lagi,” katanya, yang tidak diindahkan Sirih karena sontak lompat mundur selangkah. Tangan kirinya melepas pincuk untuk menyambar pelantak, melepaskan dari laras, dan menghunus ke arah si gadis. Secara ajaib tidak ada nasi yang tumpah ke rumput.

“Kamu masih hidup!”

Topeng ranting yang dipakai masih setengah tersingkap, hanya memperlihatkan mulut. Gigi di antara bibir gelapnya cengar-cengir. “Nasi Nona kuanggap pengganti sesaji,” katanya lagi. Gadis ini tidak peduli dengan ujung pelontak yang bisa menusuk lehernya kapan saja.

“Kamu ini apa.”

Si gadis tergelak. Sambil senyum dia berkata, “Ikuti aliran dari kolam sini kalau mau balik ke jalan raya,” lalu menurunkan topeng sampai pas dengan wajah. Mata kirinya berkedip. Dia balik badan sampai rambut peraknya terkibas, kembali menjadi cermin yang memantulkan cahaya silau. Mau tak mau Sirih memejamkan mata. Meski terpejam, dari balik kelopak terlihat cahaya remang akibat terang di depan. Ketika sudah agak gelap, Sirih membuka mata.

Gadis rambut perak bertopeng ranting sudah tidak ada. Sebagai gantinya, seekor rusa muda berbulu putih keperakan duduk di rumput, kedua angganya sewarna dahan tanpa kulit. Kedua tangan Sirih terkulai, pasrah meyakini bahwa yang dilihat adalah nyata. Saat sang rusa jantan menengok, Sirih jatuh terduduk. Dia bingung harus melakukan apa setelah mengalami kejadian ini. Lapar di perutnya pun seolah-olah hilang. Pastinya lontar canang sari di tas tidak perlu lagi dibaca.

Hari demi hari Sirih menyadari bahwa masih banyak wajah tanah air yang belum dia ketahui. Siang ini Ibu Pencipta berbaik hati memberinya kesempatan berkenalan dengan alam damai. Untuk ini Sirih bersyukur.

Di bawah naungan bukit, mereka bertiga makan siang bersama. Sirih membuka pincuk baru, rusa putih lanjut makan nasi beserta daun pisangnya, Cerana merumput sambil diikat ke pohon. Tidak lupa dia isi pundi air di kolam. Beres cuci muka dan merapikan baju, Sirih naik Cerana, mengucapkan salam terima kasih kepada sang rusa yang mulai mengantuk. Dia yakin bisa mencapai jalan raya sebelum sore. Kelak sesampainya di pertemuan sungai Sirih bersajak, Ada hal-hal yang tidak layak dipusing sangat, ada pula hal-hal layak untuk diingat, seperti gadis berkeloyak jadi pejantan secara lingat.