Pic by katemangostar

Membudayakan bahasa Inggris menghadapi MEA

Hardiansyah
Aug 23, 2017 · 3 min read

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dicetuskan pada tahun 2015 baru dimulai. Pelan tapi pasti satu persatu komponen akan menjalankan fungsinya untuk sebuah pasar bebas dan kemakmuran masyarakat Asia tenggara. Bahasa Inggris dipandang akan menjadi bahasa resmi ASEAN. Sempat ada usaha pengusulan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN namun sepertinya hal tersebut masih dalam tahap sebuah usulan. Ketika Indonesia mengajukan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN, Malaysia pun mengajukan bahasa Melayu yang dinilai sebagai akar bahasa Indonesia dan yang lebih pantas menjadi bahasa ASEAN. Sampai saat ini kedua bahasa sama-sama punya peluang untuk menjadi bahasa ASEAN karena paling banyak penuturnya di kawasan.

Terlepas dari menjadi bahasa resmi ASEAN atau tidak, bahasa Inggris yang juga menjadi bahasa internasional sudah sewajarnya kita pahami sebagai bahasa asing yang akan kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia. Pemahaman pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa dunia perlu diinternalisasi di masyarakat dengan pendekatan dari pendidik atau pun orang tua di rumah. Kemudian yang lebih penting adalah mengubah kerangka berpikir masyarakat di negri ini bahwa bahasa Inggris sudah selayaknya jadi bahasa kedua yang semua orang sudah bisa dan biasa menggunakannya. Sesuai judul dari tulisan ini, saya lebih memilih kata membudayakan dari pada membiasakan yang terdengar lebih memprovokasi untuk usaha meningkatkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.

Guru dan pendidik dari sekolah dan kursus tentunya sudah memiliki berbagai metode pengajaran agar siswa dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Begitu juga siswa, mereka punya banyak sumber untuk belajar bahasa Inggris dari berbagai buku, video, sosial media dan multimedia lainnya. Namun keberhasilannya masih bisa dibilang minim. Umumnya permasalahannya adalah siswa masih malu dan bahkan tidak mempraktekkannya, akibatnya belajar bahasa menjadi tidak maksimal. Membudayakan bahasa Inggris saya nilai bisa jadi salah satu usaha untuk membuat proses mempelajari bahasa Inggris tersebut menjadi lebih mudah dengan pertimbangan if you don’t use it, you may lose it.

Belajar bahasa asing sudah saatnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi keberadaan bahasa daerah dan nasional kita. Tentunya kita bisa menempatkan kapan menggunakan bahasa daerah, kapan kita berbahasa Indonesia dan kapan kita berbahasa Inggris. Bahasa Inggris yang sudah menjadi lingua francaglobalisasi bukanlah kita pelajari sebagai alat pengembangan diri namun posisinya adalah sebagai alat yang penting dalam ekonomi dan bisnis. Dengan kata lain, kita berbahasa Inggris karena alasan ekonomi.

Jika kita lihat posisi kita, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang masyarakatnya bekerja keras untuk belajar dan bisa bahasa Inggris. Mari kita lihat China, Russia dan Brazil yang bukan negara berbahasa Inggris, masyarakatnya percaya kemampuan berbahasa Inggris membawa mereka pada kesempatan baru di dalam negri dan bahkan luar negri.

Dalam sebuah penelitiannya Christopher McCormick, seorang peneliti dari EF research, menjelaskan bahwa negara-negara dengan bahasa Inggris yang lebih baik berakibat pada ekonomi yang lebih baik. Christopher menepatkan posisi Singapore sebagai contoh negara dengan English Proficiency Index tinggi dengan Gross National Income Per Capita yang tinggi juga. Posisi ini berada jauh diatas Brazil dan India.

Pertimbangan lainnya juga adalah, saat ini pemimpin bisnis memilih negara mana yang masyarakatnya berusaha memperbaiki kemampuan bahasa Inggris untuk menarik investasi global seperti bisnis yang akan mereka lakukan. Negara mana yang mereka dapat merekrut orang-orang yang bisa bekerja untuk sebuah lingkungan internasional, dan dinegara mana mereka bisa merelokasi karyawan mereka yang penutur bahasa Inggris. Pertanyaan pertanyaan tersebutlah yang harus dijawab dan direbut sebagai kesempatan oleh Indonesia dengan segera. Karena tentunya diantara negara ASEAN Indonesia harus bersaing dengan Singapore, Malaysia, Phillipines dan Thailand.

Posisi Indonesia dibanding dengan negara ASEAN Sendiri dari sisi English Proficiency Index (EPI) nya menurut penelitian adalah; Indonesia berada pada posisi ke-tiga di ASEAN. Nomor satu EPI tertinggi adalah Malaysia dan yang kedua adalah Singapura, diikuti kemudian Vietnam, Thailand dan Kamboja. Indonesia berada pada posisi berbahasa Inggris dengan kemampuan sedang. Malaysia dan Singapura berada pada posisi berbahasa Inggris dengan kemampuan tinggi. Keberadaan posisi EPI tersebut tentunya kurang lebih menggambarkan bagaimana iklim investasi bisnis di ASEAN. Investasi banyak masuk melalui Malaysia dan Singapura dari pada Indonesia.

Sudah saatnya momentum Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015 dan kedepan, kita masyarakat Indonesia dikenal sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya sudah mengerti, paham dan bisa berbahasa Inggris. Hal awal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan membudayakan bahasa Inggris di kantor-kantor dan institusi pendidikan. Hal ini tentunya akan berakibat kepada kesempatan yang baik bagi masyarakat Indonesia untuk mengakses pendidikan, teknologi dan bisnis internasional yang lebih baik. Kita sepakat untuk membudayakan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah — the sina qua non of global business today.

)
    Hardiansyah

    Written by

    A teacher, a learner and a TEDx organizer. www.tedxkesawansquare.com

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade