Tukang Sayur yang Simetris

Belajar mengerjakan sesuatu dengan baik & benar dari pedagang sayur di pasar malam.

Foto: Dokumentasi pribadi @hardyslo

Udah ga usah bagus-bagus bungkusnya ntar juga disobek.

Udah ga usah rapih-rapih, ga usah perfeksionis deh.

Pernah denger yang kaya gtu?

Menurut gw ga ada yang salah dengan melakukan sesuatu dengan benar.

Lucu ya, ketika lo ngerjain sesuatu dengan benar malah dianggap “salah”.

Gw rasa ini udah jadi semacam budaya yang kurang sehat.

Mengerjakan sesuatu dengan biasa-biasa saja, ga usah bagus-bagus.

~

Dulu gw pernah punya supervisor, yang selalu dia tekankan adalah kesempurnaan.

Gw dan temen satu tim dituntut buat ngerjain hal-hal yang mungkin menurut orang-orang receh/sepele, tapi harus dengan sempurna. Sangat detail oriented.

Di suatu kesempatan gw coba tanya dia soal hal ini.

Dia bilang gini, “Kalau lo ngerjain pekerjaan dengan sempurna itu bukan untuk perusahaan, bukan untuk gw atau untuk siapa-siapa, tapi untuk diri lo sendiri.”

Gw diem, dia lanjut ngomong lagi.

“Attitude mengerjakan pekerjaan dengan sempurna itu akan meningkatkan nilai/value diri lo sebagai seorang pekerja dengan sendirinya, dimanapun lo bekerja nantinya.”

~

Dan beberapa hari lalu gw liat tukang sayur di pasar malam deket rumah, gw liat mereka rapih banget ngatur sayurannya.

Padahal nanti bakalan diubek-ubek juga sama ibu-ibu bawel.

Tapi setiap sore gw lewat situ mereka selalu menata tumpukan sayuran dengan sangat rapi dan teratur.

Tiap jenis sayuran ditumpuk sesuai jenisnya, bisa dibilang berbaris hampir simetris.

Padahal mereka bukan karyawan, bukan pekerja kantoran, kemungkinan besar juga bukan sarjana. Tapi mereka memperlakukan pekerjaan dan dagangan mereka dengan serius, dan tidak main-main.

~

Tapi kan kesempurnaan hanya milik tuhan? Sedangkan kita hanya manusia biasa?

Nah, justru itu. Karena kita cuma manusia biasa yang bisa saja salah, ekspektasi yang di set haruslah cukup tinggi.

Misal kita ekspektasi hasil 100% maka yang kita dapat kemungkinan besar dibawahnya, bisa 80% sampai 90%.

Tapi kalau ekspektasi kita “biasa-biasa aja”, 70% misalnya, hasilnya ya akan dibawahnya lagi bisa 60% bahkan cuma 50%.

Yang udah usaha mati-matian aja bisa gagal, sedangkan yang usahanya biasa-biasa aja pengen hasil luara biasa? Ngarep.

~

Cara kita bekerja adalah cerminan dari kepribadian kita, jika kita mau mengerjakan sesuatu dengan baik ya itulah kepribadian kita.

Namun jika kita mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan dan setengah hati, ya hanya sebatas itulah kualitas diri kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.