Festival Kuliner Tjap Toendjoengan Surabaya: Rupa-Rupa Hidangan dengan Bumbu Keberagaman
“Orang Surabaya itu doyan makan! Mau jual makanan apa aja pasti ada yang beli” ujar bapakku di suatu sore. Kalimat itu disampaikannya dengan keyakinan yang penuh, seolah premisnya sudah tak mampu lagi untuk disangkal. Aku yang saat itu adalah seorang mahasiswa pendatang baru di Surabaya pun hanya mampu meresponnya dengan kalimat bernada ragu: “Oh.. masak sih, pak?” dan kemudian bapak menyampaikan beberapa argumen terkait opininya tersebut dengan sangat lengkap, seolah ingin mempertegas posisi dirinya sebagai seorang Surabaya Born and Raised. Alhasil, diskusi ringan itupun berakhir dengan janjiku pada diri sendiri untuk membuktikan omongan bapak suatu saat nanti. ‘Awas aja sampe ngga bener..’ ucapku saat itu — tentunya hanya di dalam hati. Memang, sebagai anak, kadang aku sungguh keras kepala.
Hari berganti hari, kuakui tidak sulit untuk mencari makanan di Surabaya. Mulai dari Ubi Cilembu yang asli Sumedang hingga lobster segar yang katanya diangkut khusus dari Tarakan pun tak mustahil untuk ditemui di Surabaya. Warung kaki lima hingga restoran mewah, semua tersedia, tinggal pilih saja yang mana yang sesuai dengan isi dompetmu. Atau, jika ingin menghemat waktu dan tenaga, kusarankan untuk datang saja ke beberapa Festival Kuliner yang terselenggara di Surabaya-seperti pengalamanku beberapa bulan lalu.
Diawali dengan kebingungan dalam mengerjakan tugas mata kuliah fotografi, aku dan seorang temanku sepakat untuk berburu gambar di sebuah festival kuliner bertajuk “Tjap Toendjoengan”. Festival tahunan dalam rangka Hari Ulang Tahun Surabaya ini berlokasi di kawasan East Coast Pakuwon City, Surabaya. Kunjunganku yang berlangsung pada 4 Mei 2018 ini merupakan pengalamanku yang pertama. Dan menurutku, atmosfer yang ditawarkan Festival Tjap Toendjoengan sungguh berbeda dengan beberapa festival makanan lain yang pernah kudatangi. Festival ini mengusung tema kebudayaan Surabaya, terlihat dari dekorasi utama yaitu panggung joglo yang menghadap kursi penonton. Pun nama ‘Toendjoengan’ sendiri diambil dari sebuah nama jalan ikonis milik Surabaya, yaitu Jalan Tunjungan.

Berlangsung di malam hari, nyatanya Festival Tjap Toendjoengan mampu menyerap banyak pengunjung. Bahkan, aku dan temanku kesulitan untuk sekedar mencari tempat duduk, karena semua bangku dipenuhi warga yang sedang menikmati makanan.
Dari segi koleksi, festival ini menyediakan puluhan stand yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari makanan asli Indonesia, hingga kuliner khas negara tetangga antara lain Malaysia, Singapura, dan Thailand. Makanan yang tergolong halal hingga non-halal bagi umat muslim pun tersedia. Tapi tenang, pengunjung muslim tidak akan keliru karena stand yang menjual makanan non-halal selalu memberikan tanda pada stand-nya.
Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari sepuluh ribu hingga tujuh puluhan ribu rupiah. Metode pembayaran yang diberlakukan juga cukup unik. Yaitu pengunjung harus melakukan registrasi kartu khusus pengunjung di sebuah stand, dan nantinya segala pembayaran di seluruh stand harus menggunakan kartu ini. Ketika ditanya mengenai alasan, panitia mengaku bahwa cara ini digunakan untuk membantu proses administrasi kegiatan festival, dan juga sebagai sarana kerjasama sponsor dengan salah satu bank.
Disamping makanan, sejumlah hiburan juga ditampilkan pada festival ini. Penampilan band yang beranggotakan penyandang disabilitas, spot untuk berfoto, hingga komunitas seni yang menyediakan jasa lukis karikatur wajah.

Selain keberagaman kuliner dan hiburan, aku juga mempelajari suatu hal dari Festival ini, yaitu tentang tingginya toleransi yang dimiliki oleh warga Surabaya. Tidak ada yang protes atau demo untuk merobohkan stand makanan non-halal misalnya, ataupun saling gontok persaingan antar penjual aneka kuliner. Semua terlihat damai dan menyenangkan di mataku. Asap makanan seolah berebut untuk memanjakan hidungku. Bunyi kocokan es batu juga terdengar rancak di telinga. Ah, malam itu merupakan pengalaman yang indah bagi aku dan temanku.
Sepengetahuanku pula, ada persepsi yang menempel bahwa kawasan East Coast Pakuwon adalah kawasan yang banyak dikunjungi oleh warga etnis Tionghoa. Hebatnya, festival “Tjap Toendjoengan” hadir seolah untuk menyangkal persepsi tersebut. Warga Surabaya dari beragam kultur dan etnis datang kemari untuk berburu hidangan lezat. Semua saling berduyun untuk meramaikan event tahunan kota tercintanya, Kota Surabaya.
Sepulang dari Festival Tjap Toendjoengan akupun teringat dengan perkataan bapakku. Ya, kini aku mengamini bahwasannya; warga Surabaya sangat doyan kulineran — sambil mencari hiburan.
