Seni Teater Tak Boleh Mati

Ahadina
Ahadina
Sep 3, 2018 · 3 min read

Mari kubawa engkau ke pengalaman terbaruku beberapa hari yang lalu. Tepatnya 25 Agustus 2018, aku diajak beberapa kawanku untuk menyaksikan pertunjukan teater yang terselenggara di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya. Pertunjukan ini merupakan bagian dari Parade Teater Jawa Timur yang dihelat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Aku datang di hari ketiga, karena di dua hari sebelumnya aku ketiban acara yang kebetulan tak bisa ditinggal.

Menonton pertunjukan teater merupakan hal yang tergolong asing bagiku. Tercatat di hidupku baru sekali aku menonton teater, tepatnya di pentas tahunan yang diselenggarakan oleh ekstrakurikuler SMA-ku. Atau, biasanya aku hanya mengamati mereka –anggota ekskul teater– sibuk berlatih dengan berteriak-teriak “A I U E O”di lapangan sekolah. Sampai akhirnya barulah bertahun berikutnya aku bisa menyaksikan pertunjukan teater kembali, tepatnya di Surabaya ini.

Malam itu, aku yang cupu dari dunia per-teater-an ini dibuat melongo. Bagaimana tidak, ketiga grup teater yang tampil malam itu amat memukau imajinasiku. Mereka tampil dengan prima, membayar segala persiapan matang yang telah dilakukan.

Penampilan pertama dibuka dengan lakon “Kapai-Kapai” oleh Teater Kanjuruhan Malang. Kapai-Kapai menceritakan tentang tokoh Abu yang mencari makna kebahagiaan. Cerita Kapai-Kapai sangat menggelitik otakku, membuat pikiranku digugah oleh wacana ‘apa itu bahagia?’. Penampilan tokoh yang bernama Abu juga sangat memukau, dan bahkan di beberapa adegan Ia dan pemeran lainnya dapat mengundang gelak tawa.

Lakon berikutnya adalah “Malam ke 17” oleh teater Manunggal, Pasuruan. Menurutku, lakon ini adalah kritikan bagi pemerintah yang sedang berkuasa. Malam ke 17 menceritakan tokoh raja yang tertidur dan membuat seluruh warganya panik. Setelah dilakukan berbagai macam ruwat, akhirnya di malam ke tujuh belas raja pun bangun, namun hanya untuk buang air besar dan buang air kecil. Adegan kritikan ini juga dibumbui dengan atraksi layar hitam-putih sebagai ilustrasi ketika raja sedang buang air. Memang lucu dan sedikit menjijikkan. Namun, disitulah menurutku letak sindiran sangat rapi ditempatkan.

Malam teater itu ditutup oleh penampilan teater surealis dari lakon “Aljabar” oleh ESTO Teater, Surabaya. Menurutku, secara visual, penampilan inilah paling memukau mata. ESTO Teater menampilkan permainan cahaya dari sinar laser dan serbuk tepung, membuat penonton betah untuk melihat dan menebak tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Aljabar bercerita tentang daur hidup manusia, mulai dari Ia lahir hinga mati.

Selain uniknya jalan cerita, yang membuatku sangat kagum dengan seni teater adalah bagaimana setiap anggotanya menghafalkan naskah yang sedemikian panjang. Tak jarang, kata-kata yang digunakan pada naskah merupakan kata yang tergolong sulit untuk diucap–setidaknya bagiku. Maka, akupun makin melongo ketika melihat mereka yang dengan lihainya berimprovisasi. Teknik pencahayaan juga makin membuatku yang awam ini terheran. Sinar lampu dapat berganti dengan cekatan, mengikuti alur set yang sedang ditampilkan.

Tak lupa, musik pengiring juga berhasil membuatku merinding. Mereka sangat rampak menyanyikan setiap lagu, dengan diiringi alunan beberapa vokalis yang juga dari anggota teater yang sama. Bagiku, teater adalah wujud dari kemurnian kreativitas, yang mana semua ditampilkan secara asli, tanpa ada teriakan “CUT!” dari sang sutradara. Penonton pun dituntut untuk berkonsentrasi, karena sekali tertinggal, adegan tersebut tak bisa di-replay kembali.

Itulah beberapa alasan mengapa menurutku seni teater tak boleh mati digerus jaman yang semakin serba elektronik. Seni teater harus selalu hidup, menemani manusia-manusia yang perlu pacuan imaginasi, menembus segala realitas ragawi. Hingga akhirnya pulang, akupun berpikir “Hm.. Teater tidak boleh mati, menjadi korban era disrupsi”

    Ahadina

    Written by

    Ahadina

    ada yang fiksi ada yang nyata, silakan ditebak kalau mau

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade