Bidak Yang Bijak
“Aku hanya menjalankan tugasku. Tujuan dari keberadaanku”
Di belakang Raja dan Mentri, ketika sedang beristirahat nongkrong di warung kopi, sering kali Pion dihina oleh yang lainnya. Yang paling angkuh tentu saja Gajah. Merasa besar secara fisik maupun kedudukan. Ia duduk di sebelah raja, dan pasangannya di sebelah Mentri.
Meski jumlahnya banyak, Pion hanya bisa berpasrah dan menerima keadaan. Bukannya tidak ingin melawan, hanya saja keadaan tidak mengizinkan. Siapa ia hingga berani membantah Gajah yang jelas-jelas memiliki kemampuan jauh darinya. Pion hanya tahu cara berjalan pelan, sedangkan Gajah mampu berlari menerjang.
Warung kopi itu penuh oleh kesombongan-kesombongan tiap-tiap mereka. Kuda yang mampu melompati siapa saja merasa paling hebat. Benteng yang pada keadaan tertentu bisa bertukar posisi dengan Raja tak mau kalah. Meski terletak di ujung jauh, ia masih lebih baik dari Pion.
Raja yang memimpin mereka adalah raja yang arif. Tak pernah sekalipun ia menghina Pion. Raja mengerti, bahwa tiap bagian dari mereka adalah penting. Hilang satu berarti petaka. Sayang hal tersebut tak dipahami ajudan-ajudannya. Pion sebagai kasta terendah tak pernah berhenti mendapat penghinaan di belakang Raja.
“Jangan maju Pion, kau hanya mengorbankan dirimu sendiri dengan begitu!”
“Tidak mengapa, Tuan. Hamba menyadari bahwa untuk alasan inilah Hamba ada. Melindungi Yang Mulia, meski berarti berkorban nyawa.”
“Benar Raja, biarkan saja dia” Gajah ikut mendukung keputusan Pion, membisiki sang Raja agar hilang satu dari 8 orang yang menurutnya hanya menganggu saja.
“Kenapa kau tak segera mengambil langkah? Kita tidak punya banyak waktu.” Hari sekali lagi menekan Agung agar segera menyelesaikan permainannya.
“Tunggu sebentar, Har. Aku masih mendengarkan percakapan antara Raja, Pion, serta Gajah. Mereka sedang dilanda dilema. Pion ikhlas mengorbankan diri, Raja tak ingin ia mati sia-sia sehingga melarangnya. Sedang Gajah yang angkuh membisiki Raja agar biar saja Pion mati, toh dia tak berguna.”
Kebingungan atas ucapan temannya, Hari menganggap Agung hanya sedang berbicara ngawur agar memberinya waktu lebih lama untuk berpikir.
“Ah. Memang benar Pion adalah yang paling bijak diantara mereka. Ia yang paling mengerti tugasnya. Berkorban untuk kemenangan bersama. Lihatlah, orang yang memahami tujuan akan keberadannya akan dengan senang hati memenuhi tujuan tersebut. Meski itu berarti mati.”
