Macet tapi Sempet

Haris Ardan
Nov 1 · 3 min read
Photo by Pedro Afonso on Unsplash

Malam minggu. Seakan sudah kewajiban bagi kawula muda untuk keluar dari rumah di waktu itu. Terserah dengan siapa, teman, keluarga, pasangan, atau bahkan sendirian. Yang penting jangan di rumah. Terserah melakukan apa, pergi ke warung yang menyediakan layanan wi-fi lantas menghabiskan waktu bermain segala jenis permainan daring, berpacaran seperti umumnya muda-mudi, atau bahkan sekadar berkendara keliling kota. Yang penting jangan di rumah.

Begitu pula dengan Putra. Haram hukumnya untuk malam minggu di rumah. Maka sudah sejak hari kamis ia mengajak Dini untuk pergi minggu itu. Hubungan mereka berdua memang baru hangat-hangatnya. Sekalipun masih belum resmi berpacaran, tapi terhitung malam mingguan sudah 2 kali mereka lakukan.

Sepakat untuk bertemu pukul 7 di rumah Dini, untuk selanjutnya menonton pagelaran kesenian di salah satu paguyuban di sudut kota mereka. Sejak sebelum azan maghrib berkumandang, Putra sudah selesa mandi. Agar ketika azan bisa bergegas ke masjid lalu bersiap berangkat. Orang tuanya tak begitu mempermasalahkan terkait anak mereka yang akan pergi, toh setiap hari dia pergi bermain bersama teman-temannya.

Selepas ibadah maghrib langsung Putra bersiap untuk kencan ketiganya. Bukan dengan 3 perempuan, melainkan kencan ke-tiga dengan Dini. Rambutnya disisir rapi, tak lupa ditambah gel agar tahan lama. Ia pastikan telah memakai pakaian yang sopan namun tetap nampak cukup gahar. Agar tidak ada yang berani mengganggu Dini, pikirnya.

Ia engkol motor paruh baya miliknya lantas mulai berkendara menuju rumah Dini. Sudah hafal di luar kepala kapan mesti berbelok ke kanan dan kapan ke kiri. Padahal ia bukan orang yang mudah hafal masalah jalan dan tempat. Tapi untuk kasus rumah Dini, cintalah yang menghafalkannya, kelakar Putra pada teman-teman satu tongkrongannya satu waktu.

Masih sisa lebih dari setengah jam ia sudah sampai di sekitar rumah Dini. Seperti biasa yang akan ia lakukan adalah mencari angkringan terdekat, lantas memesan segelas teh panas sembari menyesap sebatang tembakau. Lalu dikabarinya Dini agar segera bersiap karena sudah setengah 7. Setelah Dini benar benar siap, ia menghampiri rumah Dini yang hanya berjarak 2 menit dari angkringan.

Seusai pamitan dengan orang tua Dini seraya menjelaskan ke mana dan apa yang akan mereka lakukan, mereka bergegas berangkat.

“Kenapa buru-buru sih? Masih jam segini juga lho” tanya Dini sembari memakai helmnya

“Kalau nggak mau telat, kita harus berangkat lebih cepat. Di depan nanti ada pembangunan jalan”

“Ah, iya ya. Sekarang ini kan di mana-mana pembangunan. Dampaknya di mana-mana macet, menurutmu gimana itu Put?”

“Aku sih ga masalah sama macet, selama sama kamu. Toh malah membuat kita punya waktu lebih lama di jalan?” Putra sekali lagi menunjukan kapabilitasnya dalam memanfaatkan tiap momen untuk merayu Dini. Dan Dini sama sekali tidak bisa menjawab selain kekeh kecil serta mencubit pinggang Putra yang mengakibatkan mereka hampir menabrak pengendara yang lain. Beruntung Putra masih bisa menyeimbangkan kembali motornya sehingga tidak perlu ada drama yang tidak perlu.

“Hampir nabrak gara gara kamu ini lho” gerutu Putra seakan hendak memarahi Dini karena kecerobohannya

“Kamu sih. Bahas macet juga sempet-sempetnya gombal. Parah banget mulut kamu ternyata. Kalau tadi beneran nabrak, yang salah itu mulut kamu. Mulutmu harimaumu Put.”

“Dan mangsa paling disukai harimauku pastilah harimaumu”

Dan begitulah malam minggu mereka berjalan lancar dengan menonton pagelaran seni. Lalu pulang sedikit ngebut karena takut sampai rumah Dini terlalu malam. Bagaimanapun Putra tak ingin melanggar ucapannya sendiri pada orang tua Dini. Bahwa maksimal sampai pukul sepuluh malam. Setelah perjalanan yang cepat dan memacu fokus, Putra terlambat sepuluh menit. Begitu takut bertemu orang tua Dini, pastilah ia akan kabur kalau bukan karena dipaksa Dini dan norma adat ketimuran. Sekali lagi dalih yang dipakai adalah macet. Ayahnya pun mafhum, bahkan ia terkejut mereka benar-benar berusaha sampai rumah sebelum pukul sepuluh. Maklum, kata Ayah dini, kalau yang dulu dulu bilang jam 10 itu biasanya sampe rumah udah mau jam 11. Yang penting angka depannya masih 10.

Setelah satu dua basa-basi yang lain, Putra pamit pulang. Tak enak dengan tetangga kalau jadi omongan. Maka ia pulang dengan kebanggan. Setidaknya dalam prespektif Ayahnya, ia paling berusaha tepat waktu dibanding dengan yang dulu. Tapi ada juga sedikit ketakutan. Apakah yang dulu itu benar-benar dulu? Atau ada orang lain yang tidak diceritakan Dini? Dihabiskannya kemacetan saat pulang dengan merenungkan hal itu.

    Haris Ardan

    I want to type not your typical boy but that's too edgy. Check my instagram @h.ardannf

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade