Realita Masa Kini

Haris Ardan
Nov 1 · 4 min read
Photo by Monica Silva on Unsplash

Ia masih marah, juga bertanya-tanya. Bagaimana mungkin di dunia ini, di tahun 2019 masih ada orang yang tidak mengerti arti “consent”, atau konsensus. Membandingkan pemakian bikini dengan pakaian dalam dan menertawakannya. Mereka bilang perempuan aneh. Toh bikini dan pakaian dalam sangat mirip bukan? Lalu kenapa wanita marah jika pria melihat mereka saat mengenakan pakaian dalam, tapi tenang saja ketika melihat mereka memakai bikini?

Meskipun ia sudah sering membaca istilah bahwa kebodohan manusia tiada batasnya, tapi di era inforamasi bertebaran, kenapa masih saja ada orang yang tida memiliki common sense? Apakah common sense telah menjadi uncommon? Apakah hal itu karena rendah minat baca orang Indonesia? Apakah itu karena rendahnya kualitas pendidikan kita?

Tiap kali ia membuka sosial media dan menemukan unggahan kontroversial, pertanyaan tersebut menghampiri lantas menghantuinya selama berhari-hari. Hal tersebut membuatnya pusing. Tujuan awalnya membuka gawai untuk penyegaran dari penatnya aktivitas sehari-hari sering tak tercapai akibat orang-orang bodoh di internet. Meski ia merasa telah berulang kali menjelaskan dalam tiap aktivitasnya, berusaha mengajarkan beberapa hal yang menurutnya sudah semestinya dipahami manusia beradab, tetap saja ada orang-orang bodoh baru di internet.

Mungkin betul kata orang, bahwa kita akan menemui yang kita cari. Jika berangkat ke negara religius berbasis agama namun mencari pelacuran, maka pasti kau akan menemukannya. Jika berkunjung ke negara sekuler kapitalis liberal, atau sosialis komunis, yang salah satu ungkapan meleganda dari penggagas ideologi tersebut yaitu agama adalah candu, namun mencari rumah ibadah, maka dapat dipastikan akan ditemui juga rumah ibadah.

Ingatannya akan ungkapan tersebut membuatnya merenung. Barangkali, tujuannya membuka sosial media memang bukan untuk penyegaran. Namun yang sebenarnya ia cari adalah orang-orang, untuk kemudian diajarinya. Tentu hal tersebut adalah hal yang bagus, untuk mengajar mereka yang kurang ajar, setidaknya menurutnya. Tapi jika kau sendiri tak siap untuk menerima kenyataan bahwa ada orang-orang bodoh, sebaiknya hal tersebut jangan dilakukan.

Alih-alih mendapat kebahagiaan karena menemukan yang dicari, bisa-bisa kau menjadi gila karenanya. Ada satu hal yang ia lupakan. Bahwa banyak hal di dunia ini terdistribusi secara normal. Cari sendiri distribusi normal itu seperti apa. Ah kau sepertinya tidak tahu namun juga tak ingin tahu, maka akan ia jelaskan di sini sekalian. Terdistribusi normal artinya rata-rata berada di tengah. Ada sebagian kecil yang berada di titik sangat atas, dan sebagian kecil lainnya berada di titik sangat bawah. Kekayaan misalnya. Mayoritas manusia di bumi ini berada di ekonomi menengah. Sedikit yang sangat miskin, sama sedikitnya dengan yang sangat kaya. Semakin besar sampel populasi maka akan semakin mendekati distribusi normal.

Ada satu hal yang ia sendiri lupa. Bahwa selama ini ia termasuk berada di kalangan atas, nyaris dalam segala hal. Keluarga yang fungsional, pendidikan yang bagus karena keluarganya secara ekonomi mapan, bahkan didukung dengan banyak sekali les-les untuk mengembangkan potensinya. Ini seperti peribahasa yang mahsyur. Kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Ia abai pada kondisi dirinya sendiri, namun begitu kritis atas kesalahan orang lain. Meski menyadari tentang distribusi normal dan segala hal yang terkait dengannya, ia masih menyalahkan bahwa berarti mereka yang tak peduli, mereka yang tak acuh apalagi di era informasi menjelang revolusi industri ke empat.

Maka, barangkali mereka, orang-orang bodoh di internet, jumlahnya sama sedikitnya dengan orang-orang pintar di internet. Namun karena sekali lagi ia memang mencari mereka, seakan-akan mereka berjumlah sangat banyak. Tak cuma masalah bikini dan pakaian dalam. Masalah kultur menyalahkan korban pemerkosaan juga membuatnya nyaris gila. Tak terhitung berapa kali ia membagikan jajak pendapat yang isinya menjelaskan bahwa pakaian korban tidak berkorelasi dengan tindakan pemerkosaan. Namun tiap kali ada kasus pemerkosaan, selalu ada orang yang bertanya perihal pakaian korban.

Belum lagi masalah analogi pria sebagai kucing yang tak akan menolak diberi ikan asin. Atau perempuan yang menutup diri layaknya permen, atau segudang sesat pikir yang lain.

“Common sense telah menjadi uncommon nowdays” gerutunya di kafe itu saat sekali lagi menemui orang bodoh di internet. Masalahnya adalah, sejak kapan hal tersebut telah menjadi common? Bukankah justru ide-ide tersebut adalah ide baru? Pikirannya mulai menentang idenya sendiri. Memang ia sering berdebat dengan dirinya sendiri di kala mandi atau perjalanan berkendara seorang diri. Tetapi sangat jarang terjadi ketika ia sedang duduk di kafe. Ada yang aneh dengan kopi yang kupesan kali ini mungkin? Atau dengan suasana kafe ini?

Ia mulai merenung. Mungkin memang kesalahannya menganggap hal tersebut telah menjadi common yang sebenarnya masih rare bagi mayoritas orang. Mungkin juga kesalahannya sengaja mencari orang bodoh di internet. Mungkin juga kesalahan Negaranya yang gagal dalam mendidik penduduknya agar memiliki kemampuan pikir yang tidak sesat. Mungkin juga kesalahan kapitalisme yang menghisap manusia sedemikian rupa hingga mereka lupa dengan jati dirinya. Mungkin juga kesalahan kodok yang beramai-ramai memanggil hujan lantas hujan deras turun di pagi hari lalu mengakibatkan anak-anak sekolah malas berangkat dan memilih bolos sekolah. Mungkin juga kesalahan orang tua yang mengabaikan masa emas tumbuh kembang anak untuk mengajarkan sebanyak mungkin etika dan tingkah laku bagi anak-anak mereka. Mungkin juga kesalahan produsen susu kental manis yang sebenarnya bukanlah susu. Mungkin juga kesalahan media yang gagal atas tugasnya dan kini menjelma sampah di internet dengan segala judul click-baitnya. Mungkin juga kesalahan mahasiswa yang membangun menara gading, terlalu jauh dengan realita yang ada, hanya mampu menguasai teori namun terasing dari kenyataan di masyarakat, terasing di buminya sendiri. Merasa terlalu tinggi untuk berbaur dengan mereka yang dianggap kurang berpendidikan. Yang terakhir ini jelas sekali ia tak sadar bahwa ia sendiri bagian dari mereka yang berada di menara gading.

Atas semua kemungkinan tersebut yang mana pangkal yang mana ujung, ia pun sendiri merasa kebingungan. Yang jelas ia tak akan berhenti bermain internet. Sama seperti kodok yang tak akan berhenti merindukan hujan, sekalipun ia tahu bahwa tiap kali bermain internet amarahnya akan meledak dan pusing akan menyerang kepalanya.

Barang kali ini lah yang digariskan Tuhan untuknya. Menjadi pembawa cahaya terang bagi mereka yang masih hidup di kegelapan padahal dunia telah sedemikian terang. Menjadi garam bagi dunia. Menjadi pembimbing bagi yang lain untuk mencapai nirwana. Apapun itu, yang jelas ia akan terus melakukannya. Meski itu berarti lambat laun ia menjadi gila.

    Haris Ardan

    I want to type not your typical boy but that's too edgy. Check my instagram @h.ardannf

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade