Blog dan Eskalasi Isu

We are the 99%”. Begitulah tajuk yang digunakan oleh gerakan Occupy Wall Street yang menarik perhatian banyak orang di tahun 2011 silam. Siapa yang menyangka bahwa tajuk utama dari gerakan mendunia ini ternyata berasal dari blog bernama wearethe99percent.tumblr.com. Siapa yang menduga bahwa nama dan isi dari blog tersebut bisa menginspirasi gerakan anti kesenjangan yang mendunia tersebut.

Blog wearethe99percent -dan rangkaian liveblog yang menyertai gerakan- tersebut menjadi penanda bahwa blog dapat menjadi salah satu cara untuk menginisiasi suatu isu menjadi sebuah gerakan sosial yang luas. Terlepas dari ide gerakan ini telah sempat muncul sebelum blog tersebut mengudara, pemilihan slogan gerakan serupa dengan blog tersebut menjadi tanda bahwa blog memiliki peran dalam menggerakkan banyak orang di dunia. Slogan yang catchy seperti blog tersebut membuat eskalasi gerakan menjadi lebih mudah.

Tentu tidak bijak pula jika mengecilkan tulisan-tulisan di dalamnya. Bersama situs lain seperti OccupyWallSt.org, blog ini menjadi corong dari penyebaran gagasan mengenai golongan 99% yang justru termarjinalisasi dari berbagai kebijakan. Blog tersebut menjadi sarana bagi penyebaran gagasan-gagasan mengenai kesenjangan ekonomi dari kelompok orang kaya yang hanya 1% dengan rakyat biasa yang lebih mayoritas.

Kondisi-kondisi tersebut menunjukkan bahwa blog dapat menjadi kendaraan awal bagi eskalasi bagi isu publik yang jarang dilirik. Saat media arus utama belum mengarahkan pandangan pada isu tersebut blog mampu mengisi kekosongan penyebaran informasi suatu isu. Blog -bersama media sosial- kemudian menjadi salah satu saran dalam mengorganisasi banyak massa.

Blog tidak seperti karya tulis lainnya yang harus bebas nilai. Blog tidak semata memberikan informasi kepada para pembacanya tetapi dapat secara aktif mengadvokasi suatu isu atau mengajak orang lain agar terlibat atau peduli dalam suatu masalah.

Blog merupakan medium yang tepat untuk memberikan ruang kepada isu-isu yang tidak dapat diakomodasi oleh media arus utama. Industrialisasi media membuat media kerap berhati-hati memilih topik yang akan diberitakan. Media cenderung tidak ingin mengambil risiko dengan membahas isu sensitif yang rawan caci dan protes tetapi tidak mampu menaikkan oplah, klik atau rating. Internet dalam konteks ini blog, menjadi penanda mengambang yang dapat digunakan siapa saja tanpa kepemilikan media.

Tentu saja di era yang swasembada hoax saat ini blog sebagai medium yang bebas dapat pula menjadi sarana untuk penyebaran berita palsu. Sebagaimana pedang yang tergeletak begitu saja, blog dapat menjadi senjata bagi siapa pun, baik para advokat isu-isu sosial maupun penyebar hoax dan kebencian. Alih-alih misi yang luhur dan mulia, isu yang tereskalasi kemudian adalah isu yang menyesatkan. Kunci ada pada blogger sebagai pemegang pedang tersebut.

Terlepas dari fakta bahwa blog dapat menjadi sarana penebar kepalsuan nomor 1, sebaiknya jangan dulu menggantungkan harapan begitu saja. Untuk saat ini sepintas blog sebagai medium pemberdayaan, persuasi dan advokasi terdengar ambisius dan utopis. Tetapi manakala media arus utama semakin takluk pada modal dan saluran legal formal seperti DPR kian mampet, blog dapat hadir untuk memunculkan wacana alternatif. Di situlah peran blogger yang peka terhadap isu-isu sosial menjadi amat krusial. Meski perlu diakui saat ini blog hanya sebatas menjadi media pembentuk wacana saja, tetapi siapa tahu di masa depan blog dan blogger dapat benar-benar berpengaruh dalam mengubah suatu kebijakan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Harishmawan Heryadi’s story.