Risalah Pergerakan

Bukan, ini bukan tentang Hasan al Banna yang sedang membangkitkan semangat para ikhwah. Bukan pula kata-kata bernyali singa-singa podium. Ini adalah kisah pengecut orang gagal yang ciut

Orang ini ingin memulai langkah revolusioner dalam hidupnya. Mendobrak segala kemapanan dalam hidupnya. Merobohkan status quo yang lama bercokol dalam dirinya. Segala niat sudah bulat. Darah juang sudah siap direlakan. Demi pembebasan. Demi reformasi dalam hidupnya. Demi cita-cita luhur yang diidam-idamkan rakyat: memiliki kekasih.

Apa daya. Upaya pergerakan nyatanya sia-sia. Jarak jauh menuju hatinya masih belum tergapai melalui long march yang gegap gempita. Ada pihak lain yang berusaha menunggangi hatinya dan sudah lebih jauh bergerak. Si pejuang ini pun tersadar. Sebanyak apa pun pergerakan ia buat, pengaruhnya tidak akan banyak. Ia mencoba bergerak mendekati dengan seribu langkah, tetapi tidak sadar sudah tertinggal sejuta langkah.

Pergerakan pun sepertinya akan kembali sia-sia. Ia tak kuasa mengorganisir kembali segala nyali di dalam dirinya. Segala logistik perjuangan sudah habis terkuras. Dan ini terjadi berulang-ulang. Ia mulai sadar bahwa mungkin rezim kesendirian memang tidak mudah tunduk. Relasi kuasa antara dia dan pihak lain memang terlalu tangguh untuk diruntuhkan. Alih-alih berjuang dengan darah, air mata justru yang tertumpah.

Tanpa letus tembakan, tanpa gas air mata, harapan mulai buyar, membubarkan dan melarikan diri. Tunggang langgang dipentung rasa takut yang dibikin sendiri. Segala idealisme sudah lenyap di hadapan sang tiran bernama kesedihan. Pergerakan pun sia-sia. Semua mimpi rakyat hati harus kembali dikubur dalam-dalam.

Apabila perasaan dipendam tidak diungkapkan, suara dibungkam sendiri karena takut penolakan dan langkah cepat orang lain maka hanya ada satu kata: lemah!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.