Ulama dan Literasi Hukum Dunia

Belakangan ini wacana mengenai urgensi audit terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyeruak. Publik mempersoalkan keengganan lembaga pemberi fatwa tersebut untuk menjalani proses audit keuangan dalam aktivitas mereka terutama dalam hal sertifikasi halal. Publik menganggap, ulama meskipun memiliki derajat tinggi di dalam piramida social umat Islam bukanlah kelompok yang imun terhadap peraturan dan hukum negara. Keengganan MUI untuk menjalani mekanisme audit dianggap publik sebagai bentuk aplikasi status orang suci dalam agama ke dalam interaksi dalam hukum duniawi. Dalam konteks tertentu, keengganan MUI ini seolah menunjukkan mereka tidak benar paham terhadap hukum duniawi meski memiliki pemahaman luas biasa terhadap hukum agama.

Masyarakat tentu mafhum dan memberikan respek kepada para ulama atas kesalehan dan kecerdasan mereka dalam ilmu agama. Akan tetapi, secara umum dapat diamati bahwa para ulama cenderung tidak sadar bahwa pemahaman akan hukum dunia saja tidak cukup. Para ulama tersebut cenderung melepaskan fakta bahwa mereka hidup di negara hukum dengan peraturan sekuler. Hukum di negara ini tidak banyak memberikan perlakuan khusus kepada para ulama. Dengan kata lain, di mata hukum sekuler, di mata hukum dunia, ulama pelaku hukum agama ini sama saja derajatnya dengan manusia lainnya.

Rendahnya kesadaran dan pemahaman ulama terhadap hukum dunia ini dalam kadar tertentu dapat menjadi bom waktu. Merupakan hal yang lazim bagi para ulama untuk berinteraksi secara baik dengan manusia manapun. Bermuamalah apalagi bersilaturahim bagi para ulama merupakan hal yang sangat dijaga oleh para ulama tersebut. Dalam berbagai kasus, merupakan hal yang lumrah bagi para ulama menerima hadiah ataupun sedekah dari para jamaahnya. Modal sosial sebagai figur berpengaruh membuat para ulama seringkali memiliki jamaah yang memiliki status terpandang seperti pejabat ataupun pengusaha. Pejabat atau pengusaha ini pun kerap tak ragu memberikan hadiah atau sedekah kepada ulama tersebut baik kepada pribadi ulama ataupun institusi pesantren yang dipimpinnya.

Yang menjadi kekhawatiran kemudian adalah pejabat atau pengusaha tersebut tidak dapat selalu dikatakan bersih. Dengan kondisi negeri yang begitu carut marut adalah lazim bagi masyarakat untuk melihat pejabat korup. Dalam kondisi tertentu, dapat saja ulama tersebut menerima dana bantuan dari pejabat bermasalah. Dalam konteks agama menerima bantuan atau hadiah boleh jadi adalah hal yang halal. Akan tetapi, di dalam konteks duniawi, para ulama tersebut dapat saja tersangkut kasus pencucian uang. Dapat dimengerti bahwa para ulama tersebut menjalankan Surat Al Hujurat ayat 12 bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa. Akan tetapi, para ulama juga harus menyadari bahwa ada undang-undang №8 Tahun 2010. Tentu para ulama tersebut tidak ingin meninggalkan pondok pesantren dan menuju pondok jeruji.

Fenomena pemilihan yang kerap memanfaatkan popularitas dan modal social juga menarik para ulama untuk mengikuti pemilihan umum baik kepala daerah maupun anggota legislative. Lagi, rendahnya literasi akan hukum dunia dapat berbahaya bagi para ulama yang sudah menduduki jabatan publik. Popular di berita mengenai gratifikasi di mana ada uang atau hadiah dalam jumlah tertentu yang diberikan kepada pejabat publik.

Sekali lagi, para ulama yang senantiasa berinteraksi dan berbuat baik kepada semua orang tentu terbiasa menerima hadiah dari banyak orang. Akan tetapi dalam konteks posisinya sebagai pejabat publik, hal tersebut diharamkan oleh hukum dunia. Terlebih jika ulama tersebut ingin melanjutkan perbuatan baiknya untuk membantu pihak swasta tersebut. Alih-alih berakhir di Jannah­-Nya, ulama tersebut dapat berakhir di gedung paling angker di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Sungguh kami tidak ingin ulama yang kami cintai harus berakhir di hotel prodeo. Ulama tidak sepantasnya berada di tempat yang sama dengan para koruptor dan bandit lainnya. Tulisan ini merupakan bentuk sayang kami pada ulama agar terhindar dari jerat hukum dunia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.