Unang Tortori Na So Gondangmu

O tahe, na boha do inanta on? Mardemban pe lao husan-huson tijurna”, umpatku dalam hati.

Oalah, terkadang Aku kesal dengan benakku sendiri. Seringkali aku kesal melihat seseorang. Gatal ingin mengomentari ibu-ibu yang makan sirih sambil membawa partijuran tapi malah meludah di sembarang tempat. Atau si Ibu meludah di tempatnya, tetapi sebagian dari noda sirih itu masih menempel di sudut kiri wajahnya.

Atau ketika melewati jalan setapak di kampung kami ini dan melihat teman-teman yang kencing sambil menghadap pephononan. Aku sadar aku bukanlah seorang pecinta alam yang fanatis, tapi khan mereka harusnya tidak kencing disitu.

Atau mendengar anak kecil yang menangis meraung-raung mengganggu istirahatku. “Ini si Ibu kenapa sih tidak bisa mendiamkan anaknya? Dikasih ASI pasti udah diam.”

Aku kesal karena bukankah hal-hal seperti itu terjadi setiap hari?

Aku menjadi berang ketika menyadari bahwa seakan-akan ada sniper di kepalaku yang siap membidikkan komentar judes tentang apapun yang dilakukan setiap orang. Apakah hanya Aku yang pernah mengalami seperti ini?

Perlahan aku mulai sadar bahwa aku harus belajar menghentikan kebiasaan ini. Iya, sudah menjadi kebiasaan. “Si Ibu tidak meludah di halaman rumahmu. Kau juga tidak tahu betapa beratnya pergulatan hidup yang mungkin Ia sedang alami dan dia coba alihkan dengan makan sirih terus-menerus? Lagipula, siapa tahu, dengan penampilannya yang bukbas itu, pernahkah Kau masuk ke rumahnya dan melihat foto profil anak-anaknya? Bagaimana kalau ternyata mereka semua lulusan dari universitas terbaik dari luar negeri, bukan hanya dari Indonesia lho?”.

Aku tidak tahu.

Tapi mengapa Aku harus memikirkannya? Banyak Ibu yang meludah juga selain yang tadi barusan berpapasan denganku. Bagaimana kalau mereka juga berfikir hal yang sama denganku. “Siapa sih pemuda lajang ini? Sepertinya dia sudah tua tetapi tak satupun gadis kampung ini yang pernah jalan dengannya. Jangan-jangan dia punya masalah asmara yang tak tersembuhkan.”

Begitulah. Saat terfikir demikian, barulah aku merasa sedikit fair. Jika aku bisa bebas mengomentari apapun tentang orang lain dalam benakku, maka orang lain pun bisa melakukan hal yang sama denganku. Komentar yang muncul dari bermacam reaksi, mulai dari yang terkesan penuh decak kagum hingga yang muak dan benci tanpa alasan.

Sepertinya semua orang, pada suatu saat, merasa gatal ingin mengomentari siapapun yang muncul di hadapan mereka, dan mulai merasa kesal dengan dirinya sendiri mengapa fikiran seperti itu harus muncul.

Tetapi, mungkin tidak semuanya. Bahkan beberapa orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa bisa saja perduli denganKu dan ingin supaya Aku bisa sedikit lebih riang, tidak nyinyir dan mulai mengganti isi batokku yang penuh dengan bualan tak penting itu. Semoga saja, kalau Aku ketemu orang ini, Aku tidak menghajarnya atau mempertanyakan mengapa ia sampai berfikiran seperti itu terhadapku.

Sepertinya ini menjadi siklus yang berulang.

Rimanya tetap, hanya melodinya yang berubah. Nyiyir atas sikap dan ucapan sesorang, kemudian berdamai lagi. Berdamai dengan beragam rasionalisasi yang Aku ciptakan sendiri.

Besoknya nyinyir lagi, tapi kali ini karena memang sikap dan ucapan orang itu mulai terasa menyebalkan. Berdamai kembali.

Besok-besoknya pun masih nyinyir, soalnya si kawan itu sudah mulai mengancam orang lain dengan tindakannya yang penuh penghinaan dan umpatan itu.

Sama seperti kali ini.

Kami berkenalan di suatu pesta adat. Ngobrol sebentar di lapo. Saat itu perhelatan pesta pangolion dari teman sekampung. Banyak tamu juga datang dari kampung-kampung sekitar. Aku duduk di meja kecil di sudut paling ujung lapo yang ramai karena dikunjungi tanpa henti oleh tamu pesta. Mungkin karena di tempat itu, kami berdua saja yang pemuda, kami pun mulai saling sapa dan berbasa-basi. Umumnya yang lain orang tua, setidaknya sudah “maradat”, yakni menjadi suami atau isteri dari seseorang.

Bagi orang Batak, berbasa-basi berarti martarombo. Aku kenalkan diriku dan versi yang aku tahu tentang margaku ketika dia menanyainya. Dia pun sebaliknya. Kami pun mulai lebih intens “menjual” versi tarombo yang kami tahu tentang marga dari lawan bicara. Sedikit menghangat. Mungkin karena selain cuaca agak terik, satu dua seruput dari gelas-gelas tuak sudah juga menghangatkan perbincangan kami.

Hingga, ketika aku mengatakan bahwa Haromunthe dulunya berasal dari marga Munthe, tapi lalu menjadi marga baru sebagai konsolidasi dari pelanggaran yang pernah dilakukan oleh pemula marga itu, ia lalu menghentakkan gelasnya agak keras ke atas meja. Beberapa orang di sekitar kami pun melihat kami dengan pandangan agak was-was.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Tarombo. Apalagi tentang apa artinya menjadi bagian dari pemegang teguh Tona Nai Ambaton. Maka lebih baik Kau diam”

“Unang tortori na so gondangmu,”, serunya sambil berambus pergi.

Beberapa saat sebelumnya kami bahkan sempat terasa mulai dekat. Hingga sempat bertukar akun facebook, tapi sementara ini, begitulah pertemuan kami.

Aku tertegun saja. Setidaknya Aku jadi mengerti mengapa banyak orang memilih untuk menahan diri untuk tidak memberi komentar.

Bahkan ketika diminta.


Originally published at haromunthe.com on August 18, 2015.

Like what you read? Give Donald Haromunthe a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.