Menunggu “Meledaknya” Para Pemain Potensial di Semen Padang.

Menjelang ISC 2016 bergulir pada 29 April 2016, Semen Padang merekrut beberapa pemain asing, dan bukan sesuatu yang mengherankan jika SPFC merekrut pemain asal Brasil. Tren pembelian pemain Brasil ini sedang marak di klub-klub bola lokal kita. Ntah karna harganya lebih murah atau karna skillnya lebih mantep dibanding pemain-pemain asal Afrika.

Beberapa rekrutan SPFC itu adalah Cassio Francisco (21 Nov 1989), kelahiran Sao Paulo, defender, 186 cm, 79 kg. Klub terakhir yang dibela adalah Tombense FC. Di level timnas, pada 2009, dia bermain untuk Brasil U-21. Kemudian ada Marcel Sacramento (29 tahun), 182 cm, bermain sebagai penyerang. Terakhir ada Dieco Dos Santos yang bermain sebagai pemain tengah. Semoga info yang saya dapat dari Instagram SPFC ini benar adanya.

Prestasi terakhir SPFC adalah ketika mereka berhasil masuk final Piala Jenderal Sudirman, berhadapan dengan Mitra Kukar. Di laga final, Yanto Basna, bek Mitra Kukar yang sedang berada di puncak penampilan, susah ditembus oleh barisan penyerang Semen Padang.

Kelemahan SPFC adalah barisan depan Semen Padang. Saya tak begitu senang ketika mereka berkali-kali percaya dengan Hendra Bayauw. Saya merasa, Bayauw ini adalah jiplakan Nani yang sedang merumput di tanah Asia. Bawa bola sana-sini, tapi tak ada arti. Oh Nani, oh Bayauw. Untunglah, SPFC kini tak memakai jasa Bayauw lagi.

Mari kita membicarakan pemain potensial SPFC.
Irsyad Maulana (Payakumbuh, 27 September 1993). Rahmad Darmawan, pelatih yang pernah menanganinya di Arema mengatakan bahwa "Pemain ini sangat potensial talentanya". Setelah memperkuat Arema, Irsyad memilih untuk pulang kampung dan memperkuat Semen Padang. Dia merasa betah di Arema, tapi dia ingin dekat dengan keluarga yang sudah 6 tahun ia tinggalkan. Ketika Irsyad bertekad pindah ke kampung halaman, Arema ngasih penawawan yang menggiurkan kepada Irsyad, salah satunya adalah memberikan fasilitas rumah untuk keluarga Irsyad tinggal di Malang, tapi akhirnya Irsyad menolak hal itu. Irsyad memilih pulang. Hal lain yang menjadi pertimbangan Iryad memilih Semen Padang dibanding Arema adalah kesempatan bermain. Irsyad yang masih muda itu harus bersaing dengan Beto Gonzalves dan Samsul Arif, penyerang Arema saat itu.

Dia adalah pemain depan yang banyak menusuk lewat sayap kiri. Jika anda perhatikan kengototannya, staminanya dan akselerasinya, dia sangat mirip dengan Ferdinand Sinaga, penyerang PSM Makassar yang juga pernah merumput di Semen Padang. Saya berharap Irsyad bisa membuktikan kehebatannya di ISC 2016 ini, saya melihat Nil Maizar berkali-kali memainkan Isryad dari menit pertama, ada harapan untuk Irsyad semakin matang di klub ini, juga memantapkan kekompakan di lini depan dengan Riko Simanjuntak dan Nur Iskandar.

"Irsyad walau masih muda, mau belajar dari senior dan mendengar arahan pelatih. Irsyad pemalu tapi banyak bekerja, tekun, disiplin dan tidak cepat merasa puas." (Alm. Suharno — Pelatih Arema)

Riko Simanjuntak (26 Feb 1992). Setelah 3 minggu bersama Surabaya United, tiba-tiba Riko ditelpon dan ditawarkan kontrak yang menarik dari Semen Padang, Riko ditawarkan kontrak selama semusim, akhirnya Riko pun memilih meninggalkan Surabaya United (yang kini kabarnya menjadi Surabaya United Bhayangkara). Mengenai gaji dan kontrak, Semen Padang memang dikenal dengan klub yang sehat secara finansial. Selain karna kontrak yang menarik, alasan Riko pindah ke Semen Padang adalah karna lokasi klub Padang itu lebih dekat dengan kampung halaman Riko yang berada di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Riko cemerlang ketika tahun lalu bersama Persegres Gresik, memulai pekan-pekan awal di QNB League. Lincah, cepat dan ngotot (khas pemain asal Sumatera Utara) adalah gaya permainan Riko Simanjuntak.

Masih banyak yang perlu ditulis di Medium ini mengenai Semen Padang, tapi apa daya, saya harus mengerjakan hal yang lain, saya nampaknya harus tidur cepat, biar nanti dini hari bisa nonton Champions League antara Atletico vs Barcelona. Lain waktu, saya sambung lagi tulisan ini.

Sukses Semen Padang !

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Legendario’s story.