Terbaik Terbaik dari Barasuara.

Barasuara adalah band yang sedang panas-panasnya pada tahun 2015. Band ini beranggotakan Iga Massardi (vokal, gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska (vokal) dan Puti Chitara (vokal). Mereka meluncurkan debut album berjudul “Taifun” pada 16 Oktober 2015. Sebagai penikmat musik, penyuka lirik-lirik indah dan apalagi banyak bebunyian gitar yang aneh nan asik dari Iga dan TJ, saya sangat menyukai album “Taifun” ini. Di dalam 20 Album Indonesia Terbaik 2015 versi majalah Rolling Stone Indonesia, album mereka menempati posisi 2, di bawah Kelompok Penerbang Roket.

Banyak pertunjukan yang mereka lakukan di tahun 2015, karna penasaran dengan band ini, saya akhirnya telah beberapa kali menonton pertunjukan mereka, juga pada saat konser rilis album “Taifun” yang diadakan pada 22 Oktober 2015 di Rossi Musik - Fatmawati. Konser malam itu sangat berkesan bagi saya (apalagi ada beberapa pemusik yang disertakan oleh mereka, juga ada Cholil, vokalis band Efek Rumah Kaca), setelah konser — saya berkesimpulan, “Ini adalah penampilan terbaik Barasuara. Tidak akan ada pertunjukan selanjutnya yang melebihi malam ini.” Ternyata saya salah, 2 bulan setelah konser itu, tepatnya pada 5 Desember 2015, di Beer Garden — Menteng, Barasuara memberikan sesuatu yang tak akan pernah saya lupakan.

Poster pertunjukan yang dunggah di laman Instagram Barasuara.

Untuk mempermudah ingatan Anda, pertunjukan Barasuara yang saya maksud ini adalah pertunjukan yang paling banyak dikomentari di Instagram mereka. Anehnya, banyak komentator yang tidak hadir di pertunjukan itu, tapi komentar mereka lantang sekali, mereka bagaikan sejarawan yang bercerita mengenai HOS Tjokroaminoto, yang bersumber dari buku semata. Sejarawan itu bisa saja salah, tapi sejarawan itu toh tetap saja bercerita seolah-olah mereka hadir di jaman HOS Tjokroaminoto.

Pada 5 Desember 2015 itu, Barasuara tampil 2 kali dalam sehari. Pada sore harinya, mereka tampil di area Pasar Festival Kuningan - Jakarta. Sore itu, mereka tampil sekitar 20 menit saja. Mendung menjelang maghrib, mereka akhirnya harus rela tampil dengan sedikit lagu dan sedikit penonton. Janggal rasanya menonton Barasuara dengan suasana sore itu. Malam harinya, mereka segera meluncur ke Beer Garden — Menteng, saya-pun menyusul langkah mereka ke sana.

Sebelum tampil di Beer Garden, Barasuara tampil di acara ini.

Sekitar pukul 9 malam, bangunan Beer Garden yang kecil itu, dipenuhi oleh para penonton. Barasuara naik panggung sekitar pukul 10 malam. Di antara para penonton yang hadir, saya mengenali beberapa wajah mereka, mereka adalah penonton setia Barasuara. Saya berdiri di baris ketiga dari depan. Saya melihat muka-muka lelah dari para personil Barasuara yang berdiri di barisan paling belakang. Setelah album akhirnya dirilis pada bulan Oktober 2015, jadwal manggung Barasuara memang banyak sekali. Apalagi dalam setiap pertunjukan, para personil Barasuara ini bagaikan pemain Leicester City (musim 2015/2016), penuh energi dan semangat. Semua personil Barasuara (kecuali TJ dan Marco) tak pernah lupa melompat dalam setiap penampilannya.

Barasuara memulainya dengan lagu “Tarintih”. Dari detik pertama musik Barasuara terdengar, para penonton sudah menggila. Bunyi gitar Iga dan TJ seakan menjadi pertanda pesta besar sudah dimulai. Saat lagu berjudul “Hagia” (ada kutipan Doa Bapa Kami di lagu ini) dinyanyikan, para penonton mengangkat tangan, seakan-akan Beer Garden malam itu berubah menjadi Gereja kristen yang sedang mengadakan kebaktian pemuda. Sepertinya misi Iga berhasil malam itu, menabur rasa saling menghormati antar manusia. Apapun kepercayaanya.

Pada saat pergantian lagu, Marco menunjukkan rasa lelahnya, ia duduk terkapar di lantai. Iga berkomentar sekaligus menyemangatinya, “Raffi Ahmad syuting dari pagi sampai pagi lagi, dia tetap menjalaninya.” Begitulah kira-kira komentarnya. Komentar itu sering kali ia ucapkan dalam beberapa pertunjukan, sebagai pemecut semangat rekan-rekannya dan penonton.

Malam itu, tugas Iga, Puti dan Ichil untuk bernyanyi seakan tak diperlukan lagi, karna para penonton menyanyikan semua lagu mereka dengan volume suara yang lebih keras. Bayangkan, ada sekitar 200 penonton malam itu, mereka hafal semua lagu-lagu yang ditulis oleh Iga Massardi itu.

Di sela-sela pertunjukan, Iga berkomentar bahwa malam itu adalah malam terbaik dalam karirnya selama bermusik. Ia senang tampil di tempat yang kecil, lebih dekat dengan penonton. Mata yang berkaca-kaca terlihat di mata sang vokalis itu.

Konser terbaik itu terjadi ketika band yang hebat bertemu dengan penonton yang hebat juga. Malam itu, saya menemukan band dan penonton yang hebat. Meminjam judul lagu dari Dewa 19, menurut saya malam itu sungguh “Terbaik — Terbaik”.

Iga Massardi (vokalis Barasuara) bersama penonton di Beer Garden — Menteng, Sabtu (5/12/2015).
Like what you read? Give H/S a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.