ALF-0008_Postcard-010-De-Javu-2005-Acrylic-Charcoal-on-Canvas-145-x-180cm1

Kekalahan Kecil Bandung Bondowoso

Betapapun itu, dia tetap menang. Meskipun cintanya pada Loro Jonggrang dihabisi waktunya, namun abadi dalam susunan yang keseribu.

Hayat tak menyangsikan apapun. Bersama kepergian para jin, bebatuan disusunnya pada hitungan yang keseribu. Meskipun sebenarnya, matahari belum benar-benar menampakan dirinya. Begitu juga waktu belum genap menunjukan saatnya. Bersama dengan itu pula, kegagalan cintanya termaktub pada anak seorang raksasa pemakan manusia, Loro Jonggrang.

Dia tak sepenuhnya percaya Loro Jonggrang membenci dirinya. Saat Loro Jonggrang meminta dibuatkan sumur yang begitu dalam, bukan kah itu hal yang mudah? Lebih-lebih seribu candi dalam satu malam, ingatkah ayahnya pun dibunuhnya? Baginya, kecantikan Loro Jonggrang lebih-lebih memabukan. Mungkin kecantikannya kumpulan dari setiap manusia yang dimakan Prabu Boko, ayahnya.

Namun, dia tak menyangka, kegagalan menghampirinya perlahan-lahan. Menyelinap dalam kecantikan yang tiada tara. Mengajaknya berpesta semalam suntuk diiringi dentingan duka lara. Bahkan sebelum lonceng subuh sempat dikumandangkan. Tak ada lagi waktu. Bukan kehabisan. Dia hanyalah pangeran sakti mandraguna yang dihabisi waktunya.

Sesaat setelah pagi benar-benar mempertemukannya dengan takdir, dia hanya berdiri tepat didepan patung. Sebuah patung yang merupakan susunan candi yang keseribu. Patung yang masih begitu segar. Dijamahnya muka patung yang nampak tak sehalus ketika pertama kali dilihatnya. Diluruhkan jemari tangannya pada setiap lengkungan yang meskipun kasar namun terlihat masih begitu indah. Seperti tidak ada yang asing, layakanya ziarah ke tanah makam yang masih basah. Dan memang begitu adanya.

Setelah semuanya membatu, teramat juga cintanya pada Loro Jonggrang, dia tak menginginkan apapun. Selain menanggalkan kesaktiannya. Karena kini kesaktiannya tak lagi berguna. Terlebih dia juga membiarkan harapan-harapannya membatu dalam patung yang baru saja benar-benar mengeras. “Ya, ini aku Bandung Bondowoso. Aku telah menunaikan tugasku. Ijinkan aku mengakhiri semua ini ya, Gusti.”

“Inikah cinta yang senyatanya keras kepala dan tak terusik itu?” Prabu Damar Maya membisikan rasa kecewa yang nyatanya tak juga mampu mengikis hati Bandung Bondowoso yang terlanjur juga membatu. Bandung Bondowoso tetap tak bergeming. Dia tahu, ayahnya hanya ingin membujuknya tetap menjadi panglima perang Pengging. Sembari berkata-kata tentang hal yang remeh temeh tentang cinta, dia juga tahu ayahnya pun juga merasakan kekecewaan yang dirasakannya.

“Entahlah. Kini biarkan saja aku tidur. Semoga saja tak bangun kembali. Karena aku tak ingin terbangun sia-sia. Sama seperti batu yang kubangun dengan kesaktianku.” Bandung Bondowoso meratap bimbang. Namun ucapannya yang nampak seperti kiasan itu, sebenarnya hanya seorang yang kehabisan hasrat. Baginya, tak ada lagi yang harus diperbuat. Perang tandasnya, hanyalah kemenangan-kemenangan yang sama saja. Selalu menemui hilirnya pada hingar bingar dan kelegaan bagi kerajaan. Tidak lebih.


Baru sekejap mata tertidur pulas, Bandung Bondowoso terbangun. Dia mendengar desir-desir kekhawatiran menyergap menghantui ayahnya. Pikirnya, sang ayah jauh lebih hebat meskipun sudah uzur. Maka tak ada yang perlu dilakukan, lebih-lebih untuk beranjak dari peraduan. Tidak perlu. “Bandung Bondowoso, anakku. Keluarlah”

Ah! Salah! Kali ini firasat Bandung Bondowoso jauh lebih jujur dari pada nalarnya. Apa boleh buat. Mau tak mau dia mesti keluar menemui ayahnya. Walaupun baru terkantuk sekejap mata. Langkahnya sedikit gontai, bercampur rasa malas yang sungguhpun itu menggelayuti. “Ada apa ayah? Ku pikir baru sekejap aku menutup mataku”

Prabu Damar Maya begitu gusar. Dia menerima kabar jika kira-kira disisi sebelah barat Pengging ada raja yang sakti mandraguna. Raja itu mampu mengubah bumi seisinya menjadi dunia yang sangat berbeda. Sebuah dunia yang bahkan belum pernah dilihat oleh siapapun. Hanya dalam waktu singkat. Hanya dalam sekejap mata. Bahkan mengancam akan mengubah daerah pengging sesuai kehendaknya. Maka itu, Prabu Damar Maya mengirim Bandung Bondowoso untuk melawan. Namun, bukan Bandung Bondowoso yang mengajukan syarat. Justru Prabu Damar Maya.

“Anakku, aku mengijinkan engkau melepas menanggalkan kesaktianmu. Membatu layaknya anak dari raksasa yang kau cintai, Loro Jonggrang. Asalkan kau mampu mengalahkan raja di sisi barat Pengging tanpa pasukan, tanpa senjata, dan tanpa kesaktian. Sanggupkah kau, Bandung Bondowo, anakku?”

Tak ada yang perlu dipertimbangkan. Bandung Bondowoso menyetujui dan sesegera berjalan menjemput hasratnya. Hasrat yang mungkin menjadi takdir terakhirnya sebagai panglima perang. Dikepalanya hanya berisikan kemenangan yang secepat-cepatnya. Pulang, merayakan arak dalam bejana-bejana besar, lalu abadi bersama Loro Jonggrang,

Di tengah perjalanan ke arah barat, sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh. Namun keputusannya menyetujui syarat Prabu Damar Maya membuatnya sedikit kelelahan. Benar saja, selain berjalan tanpa pasukan, tanpa senjata, dan tanpa kesaktian, Bandung Bondowoso baru menyadari jalan yang ditapakinya terlihat aneh. Begitu keras. Begitu hitam. Begitu panjang. Bahkan begitu panas. Dia belum pernah menapaki jalan yang seperti itu.

Berjalan, berjalan, dan berjalan terus. Akhirnya Bandung Bondowoso sampai pada suatu tempat di persimpangan jalan. Dia begitu tercengang! Dilihatnya candi-candi yang berwarna-warni tertata sesak memenuhi tempat itu. Tak tanggung-tanggung, beberapa candi tak hanya berusaha menyesaki saja, bahkan berusaha merunjamkan ujungnya ke langit-langit. Tak hanya tanah, langit pun mulai nampak sesak. Pikirannya tertuju tajam pada ayahnya. “Apakah ini jebakan? Atau ini memang dunia yang tak pernah dilihatnya?”

Bandung Bondowoso mendapati ratusan bahkan ribuan manusia memenuhi matanya. Kali ini tak hanya tanah dan langit, matanya pun penuh sesak! Manusia-manusia yang dilihatnya berbicara dengan bahasa yang tak diketahuinya. Bahasa yang aneh baginya. Tak ada nyali baginya untuk sekedar masuk dan menyelinap kehamparan ribuan manusia yang bergerak kesana kemari kian berganti-ganti. Hanya berusaha bersembunyi dibalik satu candi ke candi lainnya sembari tidak mempercayai dunia yang dilihatnya.

Di ujung jalan itu didapati keabadian Loro Jonggrang, pikirnya. Tak ada pilihan lain, perjalanan akan terus berlanjut sampai dia menemui raja dari tanah, langit, dan mata yang penuh sesak. Meskipun tak diketahuinya tempat istana tersebut berada.

Sedikit memalingkan pandangnya ke tempat yang begitu penuh sesak, dia mendapati papan tinggi yang bertuliskan “Istana Raja” beserta arah yang menunjukan sedikit berbelok dari tempatnya berdiri. Tergesalah dia mengikuti arah itu untuk menemui sang raja.

“Ini dia! Ya, ini dia tempatnya. Ditempat ini memang tak akan pernah ada Loro Jonggrang. Namun, mungkin saja tempat ini bisa membawaku pada keabadian.”

Sembari menyembunyikan dirinya pada salah satu dari dua pohon besar yang tegak berdiri pada tanah berumput di depan istana, Bandung Bondowoso tidak tergesa. Berharap menemukan celah yang tepat untuk menerobos barisan penjaga istana. Tak lama kemudian, dia hinggap dibawah kereta yang ditarik seekor kuda yang sengaja lewat tidak jauh dari pohon tempat dia menyembunyikan dirinya. Meskipun ada pasukan yang menunggangi kereta kuda, meskipun ada penjaga gerbang istana yang bersiap, dia tetap lolos bersama kereta kuda yang sudah ditebaknya sebagai kereta istana. “Ahooooi, aku menemukan mu hai raja dari tanah, langit, dan mata yang penuh sesak ini!”, tandasnya girang yang mengusir pasukan istana dari sekitarnya tunggang langgang.

“Aku tak sudi berjalan menekuk kaki melipat tangan untuk menemui mu, raja. Keluarlah!”

“Ya, ya, aku paham. Engaku kah kisah muram durja yang dihabisi waktunya dari Pengging yang begitu melegenda itu, Joko Bandung?” Rautnya kaku. Bandung Bondowoso tersentak seketika mendengar sang raja berbicara dalam bahasanya. Lebih-lebih mengenali dirinya sebagai legenda.

“Siapa kau, wahai raja? Apa nama kerajaan yang kau hadirkan ini? Aku hanya ingin datang untuk mengalahkanmu. Sembari menemui keabadianku!” sentak Bandung Bondowoso dengan nafas yang sedikit terhela.

“Aku? Kau tak perlu lelah mencari tahu siapa aku, Joko Bandung. Aku hanyalah raja yang dihabisi sejarahnya. Sejarah, apapun itu namanya, tak ingin mengakuiku lagi. Dan kau, Joko Bandung, ingin mengalahkan aku diatas pijakan yang sebenarnya adalah tanahku?”

Bandung Bondowoso terhenyak. Dia berpikir mana mungkin seorang raja tidak memiliki sejarahnya sendiri. Terlebih, raja biasanya merupakan tahta turun temurun. Atau mungkinkah raja tersebut adalah raja yang baru saja menipu sejarah untuk berusaha menciptakan kekuasaanya sendiri? Kalaupun begitu, berarti ini bukan tanah milik raja itu lagi. Ini adalah tanah tak rakyat pikirnya dalam-dalam.

“Tak ada yang perlu kau pertimbangkan dalam-dalam. Sama seperti ketika engkau tergesa menemuiku. Ya, inilah caraku menghadirkan takdirku sendiri. Takdir yang panjang usia, berkuasa! Dan ucapkanlah selamat datang pada dunia yang tak pernah kau lihat, Joko Bandung. Inilah dunia tanpa sejarah yang ku ciptakan!”

Bandung Bondowoso tak habis pikir. Sekalipun melihat, namun dia tak percaya. Bahkan tak akan pernah percaya. Dunia yang begitu asing baginya benar-benar membuatnya mati berdiri. Raja yang ditemuinya, bahkan tak mampu membuatnya berkata-kata. Belum pernah ditemuinya baik dunia maupun raja seperti yang ada didepan matanya saat ini. Namun, dia teringat, tujuan kedatangannya adalah menemui Loro Jonggrang dalam keabadiannya. Lagi, lagi, dan lagi, tak ada pilihan. “Aku, Bandung Bondowoso, panglima perang Pengging ingin mengantarkan engkau pada takdirmu yang sungguhpun sebenarnya! Marilah berperang melawanku pada tubir-tubir maut!”

“Perang katamu? Di dunia yang tak pernah kau lihat ini, perang sudah tidak berlaku. Yang berlaku hanya sejauh mana engkau dapat berkuasa dengan apapun itu caranya. Pulanglah. Kau memang pangeran yang kehabisan waktu, Joko Bandung.”

Kembali, kembali, dan kembali lagi Bandung Bondowoso terhenyak terpaku. Dunia yang ditemuinya kali ini benar-benar begitu asing, begitu aneh. “Kau, raja yang berkuasa atas tanah, langit, dan mata yang penuh sesak oleh candi-candi yang berwarna warni dan ribuan manusia yang tergesa-gesa langkahnya, apakah benar kau seorang raja yang dipuja?”

“Tak perlu pujaan. Kekuasaan memang butuh pujaan. Tapi tak selamanya. Kebanyakan dari rakyat membenciku. Bahkan aku tak peduli apapun itu alasannya. Dan di tanah yang tak perlu kau tahu juga namanya ini, aku berkuasa penuh meskipun tak lagi istimewa seperti dahulu!”

“Membenci katamu? Aku menggunakan kesaktian ilmu ku guna mendapatkan cinta Loro Jonggrang. Begitu juga menanggalkan ilmu ku untuk menemuinya dalam keabadian. Lalu, apa guna ilmu dan kesaktian jika terpisah dari rasa cinta?” tanya Bandung Bondowoso.

Rumah Kayu Tengaran — Jogjakarta, Mei 2015

*Pernah diterbitkan dalam kumpulan cerpen 20 Tahun Balairung “Surga di Telapak Kaki Serigala” sebagai juara ketiga dalam sayembara.

Hartmantyo Pradigto Utomo

Written by

Lahir di Hobart, Tazmania. Berdomisili di Semarang. Sedang menyelesaikan studi strata 2 di Fisipol UGM, Yogyakarta, Indonesia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade