Artwork: Rasyid Agam

Mata Anjing yang Membaca Kegelisahan

Barangkali, seekor anjing mendongak dan menyalak untuk mewartakan pada kita tentang sesuatu yang ganjil dan yang luput.

Disertasi Andrew Goss yang diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan; Dari Hindia Belanda sampai Orde Baru[1] menyorot langsung operasi kuasa sebagai kemudi ilmuwan dan ilmu pengetahuan. Kebun Raya Buitenzorg (Kebun Raya Bogor) ditetapkannya sebagai arena pergulatan dengan rentang waktu yang panjang, sedari 1840 saat pertemuan pertama antara rezim Hindia Belanda dengan ilmuwan yang menghadirkan ilmu pengetahuan birokratis hingga pengukuhannya sebagai pusat reproduksi dan legitimasi kebijakan rezim Orde Baru.

Andrew Goss berpijak penuh pada ragam sumber dengan data-data yang berhamburan disetiap bagiannya; ditopang dengan logika yang ketat untuk menjadikan disertasinya sebagai kajian yang berusaha membongkar relasi-relasi senyap dalam semesta para naturalis. Diawali dengan peran sang “Humboldt van Java”, Franz Junghuhn, untuk kemudian mendaku kebesaran Kebun Raya Buintenzorg di mata internasional pada masa Michelor Treub, hadirnya Kementrian Pertanian kolonial, hingga pergeseran dan usaha nasionalisasi kebun raya setelah kemerdekaan disajikannya dengan detail dan akurat.

Andrew Goss menopang kajiannya dengan narasi-narasi kecil yang menggenapi setiap detail kisah dari kehidupan hingga intrik-intrik politik. Menjadi semakin kompleks dan menantang ketika penelusuran sejarahnya tidak disusun secara linear, melainkan menggunakan penangkapan setiap gejala krusial yang juga menyertakan irisan kesinambungan dengan gejala lainnya. Sehingga tidak mengherankan jika angka-angka penanda tahun berceceran tak berurutan, bergerak bebas di antara satu gejala menuju gejala lainnya.

Barangkali, disertasi Andrew Goss menjadi kajian yang begitu langka ditemukan di tengah-tengah klaim objektivitas dan apolitis para naturalis, jika tidak ingin mengatakan sebagai satu-satunya di Indonesia. Maka, usaha mendudukan kajiannya adalah dengan menciptakan tegangan terhadap klaim-klaim yang terlanjur pekat: bahwa ilmu pengetahuan alam tak selalu objektif, bahkan juga tak pernah lepas dari jerat yang-politis.


Dari sekian pemaparan terhadap tarikan sejarah yang merentang antara kondisi global dengan kolonial, terdapat satu bab penting yang patut disorot: Pencerahan Gaya Kaum Nasionalis. Bab tersebut menampilkan diri sebagai bab yang tercecer dan tidak memiliki banyak keterkaitan dengan narasi utama Kebun Raya Buitenzorg. Namun, yang menjadikannya perlu mendapat sorotan adalah dikarenakan Andrew Goss menyituasikan titik awal dari garis ketergantungan ilmuwan Hindia Belanda hingga Indonesia kedepannya yang bertaut dengan setiap fase rezim pemerintah justru pada bab tersebut.

Pencerahan Gaya Kaum Nasionalis didaulat dengan klaim terhadap Boedi Oetomo yang lahir pada 1908 sebagai pemantik lahirnya gerak pembebasan Hindia Belanda dari jerat kolonial. Bahkan secara terang sebagai satu-satunya di permulaan abad 20[2]. Boedi Oetomo ditampilkan lewat figur-figur kompromis dalam usaha pembebasan: menggunakan ilmu pengetahuan Belanda untuk melawan kolonialisme Belanda. Sekaligus juga kegagalan Boedi Oetomo meraih pembebasan dalam waktu dekat, tetapi tidak dengan pertautannya dengan gaya pendidikan dan ilmu pengetahuan pencerahan yang seolah-olah menjadi cara satu-satunya.

Pemaparan tersebut membawa pada suatu muara bahwa Andre Goss menyatakan harapan untuk meraih pembebasan bagi Hindia Belanda belumlah mampu lepas sepenuhnya dari tempurung Belanda. Justru melahirkan bentuk-bentuk yang kontradiktif dan mendekati usaha peniruan yang tidak kreatif (serupa tapi tak sama)[3]. Ditujukkan dengan gamblang dari figur-figur ilmuwan yang berlatar priyayi, pendidikan Belanda[4], dan mencita-citakan pencerahan Barat. Juga, pergeseran posisi Boedi Oetomo di tahun 1910-an yang semakin menunjukan kedekatan dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ketidak-mampuan mencari gagasan selain pencerahan Barat, berujung pada keluluhan kompromi pada kuasa Hindia Belanda.

Kondisi sosial politik di awal abad ke-20 yang dipaparkan oleh Andre Goss senyatanya juga mengesampingkan, tetapi bukan meniadakannya sama sekali, peran-peran dari organisasi lainnya yang cukup berpengaruh. Peran-peran organisasi lain ditetapkannya hanya sebagai “catatan kaki”. Sebut saja SI yang mulai “berpolitik” tahun 1911 di bawah kepemimpinan H.O.S Tjokroaminto yang mampu memberikan harapan besar bagi usaha pembebasan dan sekaligus mencipta tegangan pada gagasan pembaratan Boedi Oetomo[5]. Berikut juga ISDV yang lahir pada 1914 yang diprakarsai Henk Sneevliet.

Usaha menyampingkan tersebut menguatkan posisi Andrew Goss yang dengan sengaja menyituasikan garis belenggu ketergantungan antara ilmuwan dengan pemerintah dan berusaha memberlakukannya secara general –sesuai dengan sifat kehadiran dan kebutuhan bab Pencerahan Gaya Kaum Nasionalis. Permulaan tersebut jugalah yang mengarahkan pembacaan Andrew Goss untuk selalu memukul rata gagasan-gagasan ideologis setiap rezim pemerintahan, bahwa tidak ada perbedaan antara Kolonialisme Belanda, Awal Kemerdekaan, Demokrasi Terpimpin, hingga Orde Baru. Seluruh beban ketergantungan dipikul sebagai bentuk pertanggung-jawaban oleh setiap rezim pemerintahan.


Ada yang dibiarkan tidak hadir dan lenyap begitu saja. Andrew Goss dengan penuh pertimbangan melenyapkan tahun-tahun pergerakan, tahun-tahun yang diriwayatkan dengan kemunculan berbagai gerak pembangkangan, pemberontakan, dan pemogokkan. Sebuah tahun-tahun yang penuh dengan “kegelisahan” untuk selalu menyepuh upaya-upaya pembebasan[6].

Perbedaan geo-politik antara Batavia dan Buitenzorg dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur memang mampu mendudukan prasyarat-prasyarat politik yang berbeda. Tetapi, sejauh kajian sejarah berbicara, situasi tahun-tahun pergerakkan adalah juga suara yang mampu menembus tingkat lokal dan meluber ke berbagai daerah di Jawa. Barangkali juga, bentuk keterwakilan suara pembebasan untuk tanah Jawa pada khusunya dan Hindia Belanda pada umunya.

Seberapapun usaha untuk tidak menghadirkkan dan melenyapkan, tahun-tahun pergerakkanlah yang melahirkan tokoh-tokoh dengan karya yang mampu mengganggu dan mengusik kekuasaan kolonial. Sekaligus menampakkan kekerdilan rezim Hindia Belanda. Karya sastra Bacaan Liar, surat kabar dan pamplet subversif, diskusi terbuka bersama buruh-buruh kereta api, upaya pemogokkan massal[7], hingga pemberontakkan bukanlah hal sepele yang patut diabaikan.

Sastra Bacaan Liar dilahirkan sebagai usaha tegangan bagi Balai Pustaka yang terlanjur hadir bagi kepentingan-kepentingan pemerintah kolonial[8]. Setiap usaha mendaras Bacaan Liar adalah juga usaha protes sekaligus bentuk politik emansipasi terhadap karya-karya yang bertahun-tahun lama dibiarkan mewartakan kebungkaman. Sebut saja syair Sama Rata dan Sama Rasa dan novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, novel Hikajat Kadiroen karya Semaoen, hingga Rasa Merdika karya Soementri. Sedari kehadiran awal karya Mas Marco Kartodikromo hingga pembuangan Boven Digoel, sedari 1918 hingga 1926, adalah rentang yang terlalu singkat bagi harapan untuk menggapai jalan pembebasan.

Selain karya sastra, arah gerak perlawanan juga dapat dirangkum dalam berbagai karya-karya jurnalistik. Sebut saja surat kabar Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Medan Moeslimin, Sinar Hindia, dan Islam Bergerak yang menghadirkan karya jurnalistik dari Mas Marco Kartodikromo[9], Semaoen[10], hingga Haji Misbach[11]. Sebagian besar karya tentu menuntut, tidak saja sebagian porsi untuk mendapatkan kebebasan, tetapi semutlak-mutlaknya kemerdekaan.

Hingga akhirnya kehadiran pasal 153 bis dan ter yang diberlakukan pada 1 Mei 1926 adalah kabar yang tak menyenangkan bagi beberapa lembaga pers[12]. Stigma hasutan radikal, penyebaran kebencian, ekstrimis, pemantik pemogokan besar, hingga keributan atas usaha menggulingkan pemerintah Hindia Belanda menjadi landasan untuk memberangus penerbitan karya-karya sastra “liar” dan pers yang mencoba membangkang. Selain juga Gubernur Jenderal D. Fock dan Dewan Hindia yang turut menggenapi daya guna Kantor Bacaan Rakyat sebagai jalur kontrapropaganda melalui mingguan Pandji Poestaka dan bulanan Sri Poestaka. Usaha pemberangusan dan pelarangan tersebut yang adalah wujud kekerdilan rezim kolonial Hindia Belanda dihadapan sebuah karya tulis, sebuah karya yang menyorak suara pembebasan.


Tidak dihadirkannya peristiwa dari tahun-tahun pergerakan membawa konsekuensi terhadap pembacaan sejarah. Bukanlah permasalahan mengenai keberimbangan dan informasi. Melainkan pembacaan sejarah yang rawan menjadi suatu kanon sebagai usaha peresmian sejarah, bahwa tidak ada sejarah lain selain yang (layak) ditampilkan dalam teks. Hingga membawa pada sebuah dampak yang fatal: penenggelaman fakta.

Barangkali, fakta dalam peristiwa sejarah yang cukup berjarak jauh dengan masa sekarang memang tak mungkin terselami seluruhnya. Setiap pembaca dan penulis masa sekarang belum tentu merasakan langsung dan ikut andil dalam sebuah peristiwa sejarah masa lalu. Maka, tugas setiap teks adalah hadir untuk memangkas jarak, meski tidak mungkin sepenuhnya, bagi pembaca dan penulis di masa sekarang; menafsirkan setiap teks dan menerimanya sebagai sebuah peristiwa bagi pemahaman masa sekarang[13]. Penafsiran dan pemahaman tentulah ditopang melalui keterkaitan antar teks.

Maka, menghadirkan fakta baru dalam peristiwa “sejarah yang lain” sebagai usaha pertautannya pada pembacaan teks sejarah resmi mampu membawa pada terbukanya kemungkinan-kemungkinan penjelajahan ilmu sosial dan kesenian. Sebagaimana meneroka pada karya-karya sastra Bacaan Liar dan jurnalistik pada tahun-tahun pergerakkan yang penuh dengan “kegelisahan” untuk terus menjajaki berbagai kemungkinan cara meraih pembebasan, pemahaman tentang situasi dan kondisi Kebun Raya Bogor tidak saja berpijak pada peristiwa-peristiwa sejarah besar yang resmi dan populer. Melainkan berangkat dari situasi dan kondisi yang senyatanya terjadi untuk menariknya sebagai konsekuensi-konsekuensi dari lanskap ekonomi-politik global. Sehingga ilmu sosial dan kesenian mampu merengkuh relevansi dan daya gugahnya dengan jangkauan yang lebih luas.


Andrew Goss adalah mata elang. Pembacaan sejarahnya berusaha menerka gejala-gejala yang nampak mencolok dari langit-langit, dari “sejarah resmi” di Indonesia. Sedang, kita adalah mata anjing yang berusaha mewartakan pembacaan sejarah dari bawah, dari bumi yang sebenar-benarnya kita pijak. Untuk kemudian menggaungkannya di udara.

Jogjakarta, April 2018.

*Pernah ditayangkan di: http://malya.org/archive.html

[1] Goss, Andrew. 2014. Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan; Dari Hindia belanda sampai Orde Baru. Terj. Agung Sedayu dan Tasha Agrippina. Depok: Komunitas Bambu.

[2] Ibid. Halaman 166.

[3] Konsep peniruan yang tidak kreatif disarikan dari konsep Mimikri dari Homi Bhabha yang menyatakan bahwa subjek yang terjajah berusaha meniru subjek penjajah dengan gamblang dan tidak menyembunyikannya. Subjek terjajah menolak keterjajahan tetapi sekaligus mengakuinya, serta mengadopsi dan menggunakan cara pandang subjek penjajah. Keadaan Mimikri mengisyaratkan subjek yang belum lepas sepenuhnya dari keterjajahan.
Bhabha, Homi. 1994. The Location of Culture. London dan New York: Routledge. Halaman 88

[4] Scherer, Savitri. 2012. Keselarasan & Kejanggalan; Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abd XX. Terj. Jiman S. Rumbo. Depok: Komunitas Bambu. Halaman 21

[5] T McVey, Ruth. 2009. Kemunculan Komunisme Indonesia. Terj. Tim Komunitas Bambu. Depok: Komunitas Bambu. Halaman 16

[6] Upaya mendefinisikan tahun-tahun pergerakan disarikan dari pembacaan atas kajian Takashi Shiraisi. Kegelisahan dimaksudkan sebagai titik awal munculnya kesadaran akan kebutuhan untuk pembebasan dari kekangan Hindia Belanda. Tahun-tahun tersebut menghadirkan nama-nama besar dalam pergerakan: H.O.S Tjokroaminoto, Mas Marco Kartodikromo, Tjipto Mangunkusumo, Dauwees Dekker, Semaoen, hingga Misbach. Arah gerakan memang serempak, yaitu berusaha merebut kebebasan dari kolonialisme. Namun, cara pandang dan upaya merek sangat beragam. Pada akhirnya, cukup menemui kebuntuan saat diberangus dan dipenjarakan oleh pemerintah kolonial di Boven Digoel.
Shiraisi, Takashi. 2005. Zaman bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Terj. Hilmar Farid. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

[7] Ingleson, John. 2013. Perkotaan. Masalah Sosial, dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial. Terj. Iskandar P. Nugraha. Depok: Komunitas Bambu. Halaman 69

[8] Sulton, Agus. 2017. Sastra Liar Masa Awal; Resistensi Kaum Pergerakan. Yogyakarta: Kendi. Halaman 60

[9] Dwi Hartanto, Agung. 2017. Doenia Bergerak; Keterlibatan Mas Marco Kartodikromo di Zaman Pergerakan (1890–1932). Yogyakarta: Kendi.

[10] Semaoen. 2017. Semaoen; Penuntun Pergerakan: Tulisan-Tulisan Terpilih dari Soeara Ra’jat, Sinar Hindia, Masa Baroe 1917–1922. Yogyakarta: Kendi.

[11] Misbach, H.M. Haji Misbach Sang Propagandis; Aksi Propaganda di Surat Kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak (1915–1926). Yogyakarta: Kendi dan Octopus.

[12] Maters, Mirjam. 2003. Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras; Pers Zaman Kolonial dan Pemberangusan 1906–1942. Terj. Mien Joebhaar. Jakarta: Hasta Mitra, Pustaka Utan Kayu, KITLV. Halaman 229

[13] Ricoeur, Paul. 1976. Intepretation Theory: Discourse and The Surplus of Meaning. Texas: Texas Christian University Press. Halaman 43

Lahir di Hobart, Tazmania. Berdomisili di Semarang. Sedang menyelesaikan studi strata 2 di Fisipol UGM, Yogyakarta, Indonesia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade