Ringkasan Kajian AQL, 27 Agust 2016

Penceramah: Dr. Adian Husaini

Kita harus memperbaiki sudut pandang pada agama, dunia, kehidupan, dan akhirat. Sudut pandang sangat menentukan sekali. Orang yang melihat hidup di dunia saja, akan salah pandang, salah tujuan. Kalau sudut pandang sudah salah, maka perilaku pun akan salah.

Sudut pandang muslim terhadap kehidupan:

· Saat ini orang dilabeli berdasarkan pekerjaan/profesinya. Bukan sosok keperibadian-nya yang dilihat, bukan sosok individu manusianya, tapi pekerjaannya dan “kursi jabatan”nya. Kehormatan hanya di secarik kertas (lembar ijazah).

· Manusia lebih tertarik untuk menghias luar dirinya. Bukan menghiasi “dalam diri” dengan takwa, namun terlalu terpaku menghias yang di”luar diri”nya (contoh: pakaian, kecantikan, kemewahan).

· Yang dicari apa? Perut? Seolah-olah kebutuhan hidup hanya dari perut

· Manusia adalah ruh. Ada unsur ke-Tuhanan dalam diri manusia. Ruh adalah objek ilmu. Manusia bukan sekedar fisik (raga) saja, namun ada komponen ruh. Fisik akan binasa, namun ruh akan selalu ada. Ruh yang membedakan manusia yang bernyawa dengan manusia yang meninggal. Ruh/jiwa butuh makanan. Jiwa kita butuh ibadah dan dzikir. Kalau ga dzikir, jiwa akan gelisah dan ga tenang.

· Kalau seorang LGBT berkata: “kenapa saya harus dilarang, toh ini urusan saya, dan saya tidak mengganggu orang lain”. Maka jawaban seorang muslim adalah: ”tapi ini adalah mungkar. Islam mengajarkan untuk mencegah dan menolak kemungkaran.”

· Al-Quran yang penting bukan hanya di hafal saja, tapi yang paling penting seberapa besar posisi Al-Quran menjadi pedoman hidup kita? Seberapa besar posisinya dalam kehidupan kita sehari-hari?


Sudut pandang muslim terhadap negara:

· Agama (tauhid) adalah identitas, lebih tinggi diatas konstitusi

· Definisi kita terhadap negara maju adalah negara yang kaya secara ekonomi, dan bersifat materialistis. Sebagai seorang muslim, definisi kita terhadap negara yang maju adalah jika penduduk suatu negeri bertakwa. Sebagaimana Allah berfirman:” Jika suatu penduduk negeri bertakwa, makan akan aku berikan berkah.”

· Ingat lagu: “Bangunlah JIWA-nya, Bangunlah RAGA-nya”? à konteks JIWA dalam hal ini, membangun aspek ruhaniahnya.

· Supaya hati tidak condong dengan dunia, maka harus dengan ilmu. Tujuan hidup kita adalah mencapai kebahagiaan di akhirat, tanpa melupakan dunia.

· Hikmah akan diberikan oleh Allah pada orang yang ikhlas


Sudut pandang muslim terhadap pendidikan anak:

· Pengajaran kepada anak: adab dulu, baru ilmu. Kurikulum terpenting adalah penguatan keluarga. Pada umur baligh, berapapun usianya, harus sudah siap menjadi pendidik.Kelaurga muslim jangan hanya tauhid, namun harus tau isu-isu yang beredar yang mampu mengacaukan tauhid.

· Islam tak melarang perempuan menjadi professional, yang penting mengetahui fitrahnya. Ilmu yang harus dicari seorang perempuan adalah pembinaan keluarga terbaik. Menjadi muslim tugasnya adalah melanjutkan risalah Rasulullah, menjalankan risalah ajaran tauhid.


Sudut pandang muslim terhadap karir dan pekerjaan:

· Jangan sebatas orientasi kerja/karir. Tapi berorientasilah pada ilmu yang dibutuhkan umat.

· Bekerja sampai titik profesional. Ketika sudah bisa mandiri, tidak usah bergantung pada kantor. Muslim harus menaklukan dunia dan mempunya kemandirian dalam menghadapi zaman. Seorang muslim harus punya suatu keahlian dan ilmu yang membuatnya mandiri, serta memiliki kemampuan berwirausaha.

· Bagaimanapun usahakan mengajar. Guru bukan profesi, tapi panggilan jiwa.

· Setiap kesempatan yang Allah berikan kepada kita, mahal harganya. Punya ilmu? Ayo ajarkan! Ini bagian dari dakwah. “Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu.”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated harus produktif’s story.