(2) “Kota”

DUA KOTA

Ini kisah perjalanan. Tentang tiga orang yang tidak mencari tapi menemukan.

PALEMBANG. OKTOBER 2016.

Gaung kota yang gemerap seiring dijadikannya kota ini sebagai salah satu icon penyelenggara Asean Games 2018 mendatang. Mendengar kata Palembang, tentulah batin kita terkoneksi dengan kerajaan Sriwijaya yang penaklukannya hingga Asia Pasifik. Bumi sriwijaya. Tanah melayu yang yang masih penuh dengan ukhuwah Islamiyah. Eksistensi majelis-majelis dakwah yang terus mengumandangkan kebenaran dan kesucian Ilahiah di setiap sudut kota empek-empek masih terdengar jelas. Ketika kakiku pertama menginjak di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kusempatkan menginjak rumah suci (masjid), merasakan hebatnya getaran batin yang menusuk pada sendi-sendi kehidupan.

Banyak perenungan yang muncul tentang kekuatan cinta antar umat beragama selama di kota ini. Pun tentang hal-hal yang kurasa perlu dibicarakan atau diperbincangkan. Pemahaman agama misalnya. Pemahaman agama yang menuju pada radikalisme untuk diwaspadai bersama, Mengapa? pemahaman yang tidak bijak akan sangat mudah digiring oleh wacana yang dibangun seseorang atau kelompok untuk memecah belah kesatuan negara kita. Memanfaatkan agama sebagai motor penggerak untuk menindas manusia adalah hal yang sangat dibenci oleh Islam. Perbudakan, eksploitasi dan kerusakan merupakan musuh bagi agama Islam yang mencintai kedamaian. Aku teringat kata-kata KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam bukunya Risalah Aswaja Dari pemikiran, Doktrin Hingga Model Ideal Gerakan Keagamaan yang berkicau “Kita wajib berhati-hati dalam belajari ilmu. Jangan sampai kita belajar ilmu kepada orang yang bukan ahlinya”. Mantap bukan?

JAKARTA, NOVEMBER 2016

Ibu kota. Gedung-gedung menjulang tinggi ke langit karena tanah kian menyempit. Konsolidasi besar-besaran sedang terjadi di kota ini. Menuntut gubernur petahana di proses hokum lantaran ucapannya dianggap menistakan agama Islam. Entahlah.

Keteledoran pemesanan tiket memaksa aku dan rekan-rekan berpetualang sebelum pulang. Melihat para mujahid berkumpul, terlantung di ibu kota, membuat kami mencari keteguhan dan pertolongan hanya pada-Nya. Ini hanya awal latihan kepemimpinan dimulai!

PEMIMPIN ATAU PEMIMPI?

Ada banyak hal yang membicarakan tolak ukur seseorang mampu bisa dikatakan sebagai pemimpin sejati. Proses menjadi pemimpin sendiri ada tiga. Pertama, bagaimana manusia mampu memimpin benda-benda yang tak bergerak dan tak berakal. Kedua, bagaimana manusia mampu memimpin hewan-hewan yang mempunyai akal, namun berada pada titik terendah sehingga gerak yang dilakukan hanya berdasarkan insting. Ketiga, barulah kita pahami bagaimana memimpin seorang makhluk Tuhan yang paling mulia dan punya kedudukan tertinggi di sisi-Nya dengan kemampuan kodrati yang dimiliki manusia. Rasionalitas. Menjadi pemimpin tentu belajar bijaksana serta toleran sejak dalam pemikiran. Sayangnya, hari ini sudah terlalu banyak orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin dan melupakan bagaimana cara menjadi orang yang dipimpin. Hal yang juga berperan dalam kehidupan berkeluarga.

Bicara kepemimpinan, teringat pada aksi 4 November lalu. Ketokohan ulama dalam memimpin ummat. Sosok pemimpin kharismatik yang didamba seakan memberi pertanda tidak akan pernah habis dalam sejarah peradaban umat manusia. Lagi, sayangnya argumentansi aksi damai kehilangan konsistensi saat aksi yang digelar sejak pagi hingga petang dinodai oleh oknum yang mengambil keuntungan dibalik keadaan yang mendesak dalam perebutan kuasa. Hingga akhirnya, para pejuang Islam harus menanggung perihnya gas air mata.

Reaksi sepaket dengan konsekusensi. Stabilitas negara diguncah, akan ada nyawa yang mempertanggungjawabkan semua yang terjadi pada peristiwa tersebut. Diri ini bukan ahli dalam agama, namun aku percaya bahwa Islam bukanlah agama salah. Penganutnya sendiri yang keliru dalam mempelajarinya.

GERAKAN PERUBAHAN

Ini bukan jargon politik yang bertopeng untuk kebaikan bangsa dan negara. Hanya gerakan yang berulang tiap zaman. Gerakan yang selalu kita bincangkan untuk melawan penindasan. Gerakan mahasiswa yang identik berdasar pada kekuatan intelektual. Semangat idealis pula terkadang membuatnya arogansi dengan kepunyaan Sang Kuasa.

Bicara kemerdekaan, belum bisa kita maknai bersama. Banyak persoalan. Penanaman Pancasila misalnya. Kenapa? agar kita tak lagi membahas tentang ideologi untuk bangsa ini. Kita selalu menuntut perubahan. Perubahan apa yang sebenarnya kita inginkan? Gerakan selalu terjadi dalam lingkungan sosial. Setiap hal yang berbau materi tidak akan pernah diam. Ia akan selalu bergerak sesuai dengan hukum praktisnya. Selalu mengarah kepada perubahan di tiap geraknya. Seperti Maulana Rumi tafsirkan: baru dalam realitas jiwa dan alam. Bahwa jiwa dan dunia senantiasa baru. Namun anehnya kita tak pernah menyaksikan kebaruan atau perubahan itu. Kita hanya menyaksikan perubahan. Layaknya perubahan pergantian waktu dari sebuah proses gerak.

Perubahan mana pula yang kita maksud? Apakah jika terdapat hal baru yang melekat pada diri kita? Seperti saat kita memakai baju baru? Lagi-lagi bukan tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas tercederainya nilai-nilai kemanusiaan seseorang lantaran pertimbangan ekonomi yang mereka anggap sebagai musibah untuk kehidupan. Lalu apa? Siapa? Haruskah mereka menuntut atas dasar persamaan kebebasan dan kesadaran yang dimiliki setiap manusia? Sepertinya paham humanisme akan tetap eksis dalam peradaban ini.

Humanisme sendiri topik yang licin kata si F.Budi Hardiman. Bukan sebuah istilah dengan pengertian tunggal yang mudah disepakati. Kebanyakan kita akan merasa asing kata ini dicangkokkan dalam Bahasa kita. Kalangan religius menganggap paham ini sebagai musuh berbahaya yang harus ditangkal. Sebaliknya, mereka yang tercekik oleh doktrin-doktrin agama menganggap humanisme sebagai jalan pembebasan yang memberi mereka nafas hidup merdeka. Pembahasan humanisme juga sangat erat hubungannya dengan kita jika kita menginsafi bahwa para pendiri bangsa memandang penting paham ini untuk mewadahi pluralisme masyarakat kita dan mencantumkannya sebagai sila kedua. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Humanisme tidak hanya mendasari pada kekuatan akal kodrati dan praksis hak-hak asasi manusia, civil society, dan negara hukum demokratis. Melainkan juga mendorong aksi-aksi solidaritas global yang melampaui negara, ras, agama, kelas sosial, dan seterusnya. Kemudian disumbangkan dalam kegiatan institusi PBB. Gagasan tentang toleransi agama adalah prestasi lain yang disumbangkan oleh humanisme pencerahan Eropa abad ke-18 kepada peradaban modern. Keyakinan akan potensi akal melandasi perjuangan kemanusiaan untuk menegakkan keadilan dan perdamaian sampai dewasa ini. Humanisme tidak tinggal diam di langit-langit abstraksi, tapi turun ke bumi dan berpijak kuat dalam pikiran dan tindakan praktis manusia.

Kita hidup di masa yang penuh dengan kemudahan akses informasi dan pengetahuan yang semakin maju. Penanda kemajuan peradaban umat manusia dalam menjalani kehidupan. Kekuatan akal yang menjadi tolak ukur, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan baru untuk menyongsong peradaban yang toleran antar sesama. Semangat humanisme, gerakan umanisti pada zaman Renaisans abad ke-14 sampai ke-16 dan memuncak pada humanisme Pencerahan Eropa abad ke18. Gerakan humanis modern. Upaya untuk menghargai kembali manusia dan kemanusiaannya dengan memberikan tafsiran rasional yang mempersoalkan monopoli tafsir kebenaran yang dahulu kala dipegang oleh kombinasi ajaib agama dan negara. Kongkalikong antar pemerintah dan otoritas gereja pada abad pertengahan Eropa yang melakukan penindasan terhadap rakyat dan mengatasnamakan agama untuk menguasai manusia pada saat itu. Gerakan Humanisme inilah yang kemudian melakukan pemisahan antara kekuasaan politis dari agama atau sekulerisasi yang sangat dikritik sampai pada saat ini.

Bagi beberapa pandangan, pemisahan agama dan negara terjadi sejak era Renaisans yang menginginkan sekulerisasi agama dan negara. Namun, dalam pandangan pancasila pemisahan itu tidak terjadi. KeTuhanan dijadikan nomor satu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah yang menjadikan negara Indonesia itu bukanlah negara teokrasi, namun negara demokrasi yang menempatkan Tuhan di atas. Demokrasi Religius: seperti yang pernah seorang dosen FISIP UH katakan.

Kesadaran akan potensi yang dimiliki setiap manusia itu sama. Potensi kodrati ‘akal’ yang dimiliki setiap manusia.. Kita hidup pada masa dimana kebenaran dan kesucian tidak lagi menjadi prioritas setiap orang. Agama mulai redup dalam perbaikan struktur sosial masyarakat. Agama hari ini dijadikan sebagai keterpisahan antar manusia. Mari kita merenungkannya kembali.

Hormatku

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.