Kampus (Rindu ½ Mati)

Di malam yang sudah semakin membeku, aku teringat dengan dunia hari itu, saat dimana tidak ada ketakutan dan kecemasan keterpisahan. Kupandangi foto demi foto, mereka berbicara kepadaku─menyampaikan setiap makna yang tersirat. Salah satu foto yang dulu tidak berharga sama sekali, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang amat rumit untuk dipahami. Ternyata, setiap kisah selalu saja menyimpan cerita masa depan, pikirku.

Tahun ini sudah memakan waktu kurang lebih tiga tahun untuk memahami foto itu, aku masih ingat kejadiannya dimana, malam itu menjadi keceriaan bersama; menikmati hidangan makan malam dirumah kawan Mega, perumahan dekat kampus. Lauknya ikan bakar yang menggoda selera, serta makanan pokok nasi memeberikan asupan anak kampus yang kelaparan. Waktu itu kami tidak pernah berpikir kapan ini akan berakhir, yang terpikir hanyalah menyelesaikan makanan sebanyak mungkin. Semua yang ada di foto itu, boleh dikata telah menyelesaikan studi, hanya beberapa orang lagi yang masih bertarung dengan padatnya rutinitas kampus. Kawan yang berada diujung telah mengemban sebuah amanah mahasiswa─pimpinan lembaga kemahasiswaan di tingkat Fakultas. Kawan yang satu ini, cukup rumit namun sederhana; hanya butuh Milo dan suguhan bacaan pemikat hati. Sebenarnya, dia adalah teman seperjuanganku dikampus, kami mulai saling mengenal sejak awal kehidupan kampus menghampiri, kala itu kami sering belajar bersama; mencari dan mencari sebanyak-banyaknya ilmu yang ada, kawan yang satu ini juga piawai dalam mempengaruhi, tidak heran dia bisa mengakomodir kepentingan berbagai pihak, pemikiran sederhana mengantarnya pada penguasaan organisasi dan keilmuan yang mumpuni, aku berdoa semoga kawanku ini selalu dipanjangkan umurnya agar bisa terus berkarya bersama dalam kemaslahatan hidup orang banyak. Dari hal itu banyak gagasan-gagasan yang baru kami temukan, itulah cerita dari perkembangan seorang mahasiswa yang selalu saja menuntut perubahan ke arah yang dipenuhi dengan cinta kasih ibu.

Kemudian kawan yang tepat berada di sampingku, juga tidak kalah serunya. Sempat kami bertiga berkunjung ke salah satu daerah di Sumatera─kisahnya silahkan baca edisi dua kota. Dia yang paling hatam persoalan perempuan, semenjak aku mengenalnya, entah sudah berapa perempuan yang dia ceritakan kepadaku. Sepertinya kawan yang satu ini memilik daya tarik kharismatik menaklukkan hati seorang wanita; semoga saja dia masih setia. Perempuan itu ibarat bunga-bunga revolusi yang bisa menyejukkan hati para manusia yang ditolak zamannya. Mereka hadir memberi kecerahan hari yang dipenuhi perlawanan azeeek.

Begitu kira-kira persahabatan kami, sebenarnya aku memiliki sekumpulan kawan yang siap turun mengabdi kepada masyarakat, namun hanya itu dulu yang bisa aku ceritakan. Aku tambah satu, namanya Arya, bukan Arya Stark yang selalu mnenjadi idaman lelaki penikmat Game Of Thrones, dia adalah teman saya yang memiliki karakter paling unik dan paling jago nembak cewek─walaupun kebanyakan harus berhenti berharap. Orangnya paling revolusioner ciealahh, bahkan kalau soal pujangga; dialah orangnya. Banyak yang bisa kupelajari dari pemikirannya yang selalu mendobrak setiap gagasan, watak retorika yang menggebu-gebu, tak khayal membuatnya terkadang jatuh pada guyonan humoris.

Aku tambah yang terakhir, dua orang perempuan yang terkadang menjengkelkan, namun selalu di rindu tiap dia jauh. Amel dan Maryam, kedua orang ini ibarat orangtua yang selalu menemani disaat musibah kampus menghampiri hahaa; musibah kampus itu, saat kebutuhan pokok mulai habis, dialah yang menyelamatkan. Kedua perempuan ini adalah pengurus BEM di salah satu lembaga intra kampus. Mereka kadang-kadang berada pada jalur kesunyian, namun ketika kebutuhan nikmat hidup menghampiri─membohongi kami, bahkan diri sendiri adalah kebiasaan mereka berdua. Namun, mereka tetaplah perempuan yang bisa dijadikan calon istri idaman setiap lelaki. Kematangan berpikir, serta kedewasaan dalam menentukan kebijakan─mereka bisa diandalkan. Aku menulis ini dari jarak tempuh kira-kira 4 jam untuk sampai kesini menggunakan kendaraan roda empat, sambil membawa buku-buku untuk Rumah Baca.

Orang-orang yang ada dalam kampus telah mengajarkan kita semua arti untuk menerima perbedaan, celaan kampus berbeda dengan celaan yang ada diluar, celaan itu hanya untuk menguji hubungan satu dengan yang lainnya. Maka dari tulisan sederhana; aku berharap banyak. Teruslah mengingatkan untuk membaca, berdiskusi dan tentunya teruslah hidup! Sebab kita akan bertemu tepat di masa yang telah dijanjikan pada kitab-kitab kita.

Ternyata rindu bisa membawa baper , sebenarnya rindu itu apa (?) ─mengheningkan seketika pikiran yang terjangkit virus KKN.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.