Melaut

Sore di dermaga, menyaksikan kapal-kapal nelayan berjejer bagai tank-tank dan kapal selam milik TNI. Tapi dia tidak seperti mereka, mempunyai otoritas mengamankan negara dari ancaman represif memecah bela bangsa. Melainkan tanggungjawab mulia; memberi kami penghidupan pikiran dan jasati. Dia bahkan menjadi petarung tangguh di lautan, menjelajah seantero selat Makassar; menaklukkan badai yang menghadang; menerpa derasnya ombak dilautan. Untuk menyuplai pasokan ikan di pasar tradisional, juga pasar modern.

Namun, sayangnya berita belakangan terakhir yamg kudapat dari salah satu teman yang tinggal di pesisir galesong mengatakan, kalau laut akan terus tergerus oleh penambangan-penambangan pasir milik “entah siapa”, mengambil pasir di laut menimbulkan banyak permasalahan alam yang sudah lama hidup berdampingan dengan manusia. Kapal itu katanya milik Belanda dan orang-orang disini menganggapnya sebagai bentuk penjajahan baru bagi masyarakat pesisir. Lagi-lagi penambangan ini tidak lain adalah tuntutan pembangunan, katanya! Atau penambangan ini sebagai penambangan kapital dalam meraup keuntungan kelas/kelompoknya?

Jujur saja, hatiku serasa ingin berkata “sampai kapan keburukan ini akan berakhir” , lantas aku sampai pada pemahaman sementara, kalau dunia memang selalu seperti ini dan akan terus ada kejahatan dimanapun dan kapanpun. Tetapi, yang seharusnya kita perbuat bukan meratapi, melainkan mengubahnya dengan hal sederhana menjadi cinta akan laut yang luas dan tidak berlebihan dengannya.

Para nelayan dan kapalnya adalah pelengkap keharmonisan alam yang Tuhan ciptakan, aku berjalan disepanjang tepi laut, memperhatikan aktifitas mereka yang tengah memilah dan memindahkan hasil tangkapan dari jaring yang berlubang. Pelabuhan Galesong senja itu, membawa setiap orang yang belajar pada pemaknaan diri yang selalu meng-aku, sikap yang selama ini sibuk dengan urusan pribadi, bercanda, menertawakan mereka nelayan; orang2 yang dianggap kumuh dan tidak beradab adalah pukulan telak untuk yang belajar dan tidak ber-asa.

Mereka seakan kehilangan sastra, mengedepankan ilmiah dan mengukurnya dengan metode tanpa rasa: membuat kebijakan atas dasar ilmu pengetahuan, justru malah menjadikannya sebagai umpan/alat pemupuk modal. Aku yang selalu manja dengan buku, justru membuatku terenyuh dan tertampar dengan kepandaian tembok sekolah/universitas (pendidikan); sebagai alat penguasa.

Mereka menjadikan pribadi yang lupa berterima kasih pada kapal, laut, ikan, udang, nelayan dan bahkan Tuhan sebagai penyedia semua-Nya. Mencetak dengan semaunya, menyodorkan gelar sarjana sebagai iming-iming kesuksesan hidup yang memuja para absolute power yang berkuasa.

Dan pada akhirnya setiap angin yang berhembus di sore ini, aku percaya selalu ada doa yang terucap. Begitupun dengan nelayan yang berdiri tegap mencintai laut dan bukan menantang-Nya. Akan selalu ada harapan bagi yang berusaha, “Karena kebenaran akan terus hidup, sekalipun kau lenyapkan, kebenaran tak akan mati”. Ingatlah pekerjaan ini tidak kotor, dia tidak kumuh, justru yang kotor dan kumuh adalah ketidaktahuanmu itu sendiri. Dan buat teman-teman yang berjuang, setiap keringat kalian adalah bentuk ibadah ketaqwaan kita kepada Tuhan.

Sore yang menyenangkan~

Like what you read? Give A Hasyim Asyari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.