Surat dari Desa KKN

Tanah Karaeng

Pagi itu menjadi waktu yang terpanjang; menanti kedatangan mobil yang akan mengantarkanku berangkat ke salah satu daerah penghasil garam di Sulawesi Selatan, tepatnya kabupaten Jeneponto. Keberangkatan ini bukanlah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah ini, sebab tanah ini merupakan tanah kelahiran kakek dan nenekku sendiri. Kedatanganku kali ini, bukan untuk merayakan satu hari besar dalam perayaan umat beragama, tetapi menjalankan salah satu tuntutan perkuliahan, yang katanya adalah bentuk pengabdian suatu nilai-nilai ilmu pengetahuan yang telah kami dapatkan diruang perkuliahan.

KKN/ Kuliah Kerja Nyata, kata ini lagi nge hitz dikalangan mahasiswa-mahasiswi yang mendapat jatah mencicipi pertemuan antar berbagai disiplin keilmuan; melaksanakan keberpihakan suatu ilmu kepada manusia. Kebetulan penempatan lokasiku sendiri, terletak di daerah Jeneponto. Kami berjumlah lima belas orang yang terbagi lagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang yang menempati satu posko disetiap desa. Sebelum aku berangkat kelokasi, ada beberapa teman yang menjadi referensi, tentang kuliah kerja nyata ini. Ada beberapa mengatakan, lebih khusuknya seperti ini : “Jangan mako terlalu rempong disana nanti, lebih banyakji tidurnu itu dibanding pengabdian, sama siapkan memangmi film-film nu. Karena kalau habismi prokermu bergaul mamiko itu sama masyarakat”

Pernyataan para teman-teman saya ini yang telah berpengalaman kurang lebih seperti redaksi di atas, aku belum bisa terlalu jauh menyimpulkan. Masih terlalu dini menyimpulkan pernyataan-pernyataan diatas, sedangkan hari ini baru menjadi awal pembuka untuk mengenal substansi dari kuliah kerja nyata. Tapi, ini bukanlah media untuk menjelaskan semua itu, karena yang terpenting bagiku proses belajarnya menjadi bagian inheren masyarakat. Oh iya, perkenalkan teman-teman posko Tompobulu yang tidak kalah serunya; Ihsan adalah salah satu dari dua lelaki tampan yang ada diposko ini, kemudian ika yang juga tidak kalah serunya denga ciri khas di wajah; kacamata sebagai penanda bagi dirinya yang paling baper (kebelet nikah lebih cocok), terus ada atri dia orang bone, tapi logatnya tidak seperti orang bone─bercampur antara Bahasa Indonesia ala jekerde dan Bugis, dia cukup aktif dalam berbicara, membuat suasana posko menjadi rusuh sama seperti ika, kemudian yang terakhir ada saudara se-Indonesia dari Buton Tengah, namanya rima: diperjalanan dia hanya diam, kami berempat awalnya tidak terlalu mengurusi kediaman dibalik wajah lusuh itu, mungkin teman-teman yang lain berpikir dia anaknya kalem, ternyata dibalik diamnya dia menyembunyikan luka yang amat dalam─dia mabuk naik mobil. Yahh alhasil kami tertawa dengan kencangnya, sambil memberikan minyak penghilang rasa mabuk sebagai pertolongan pertama.

Perjalanan ini menjadi pelajaran bagi kami semua, terlepas jenis KKN yang ga jelas ini, katanya Tematik Desa Membangun Jeneponto, awalnya dengan penuh semangat pengabdian dan berharap ketemu jodoh; harus luntur dengan ketidakprofesionalan instansi yang terkait. Bayangkan, awal wawancara kita disampaikan kalau ini adalah kerjasama dengan salah satu kementrian terkait, dan harapan yang terlalu melambung tinggi─akhirnya mengambang di kloset-kloset kampus, alhasil setiba dilokasi, teman-teman tidak mengerti dengan informasi simpang siur yang diberikan. Program-program untuk desa membangun itu seharusnya sudah terjelaskan sejak sebelum pemberangkatan kelokasi, tapi data-data yang kami terima dipembekalan, sama sekali tidak menjelaskan tentang program kementrian apa yang harusnya kami integrasikan dengan program pemerintah desa setempat.

Masih dalam cerita awal Tanah Karaeng, aku dan beberapa teman tercengang melihat keindahan panorama sore yang menyambutku dengan derasnya hujan puncak penuh kabut. Derasnya rintikan hujan dan lebatnya kabut menjadikan pemandangan ini semakin sempurna dimataku yang selama ini terjebak dengan tingginya tembok pengetahuan kampus. Kota membuatku sombong dan lupa dengan keberadaan jagad raya, pikirku ini adalah kesesatan dijalan dan menjauhi untuk pulang, semua itu akibat dari rutinitas tumpukan surat dan perintah atasan. Lagi-lagi kota menjadikanku manusia yang terasing dari diriku sendiri.

Desa yang aku tempati tidak terlalu membutuhkan tenaga extra untuk mencapainya, akses menuju kesana juga sudahh sangat bagus, ditambah keramahan penduduk yang masih homogen. Sore itu menjadi kedatangan yang luar biasa untuk terus dikenang. Mungkinkah ini namanya cinta?? Saya rasa terlalu berlebihan untuk mengatakan ini cinta, karena pikiranku sendiri selalu berucap merindukan kota yang tidak perlu takut untuk kehilangan jaringan ponsel yang selama ini membuatku candu. Setiba di posko, yang kebetulan adalah rumah kepala desa sendiri.

Kepala desa disini dipimpin oleh kartini-kartini abad 21, Ibu Desa menyambut kami sejak pertemuan penyambutan di kator kepala daerah Jeneponto. Saking baiknya, tiga dari kepala desa yang diundang, hanya ibu desa yang menyempatkan waktunya untuk hadir dan menjemput kami menuju ke lokasi. Ditambah ada adik yang bernama Daeng Pole: mempunyai perawakan badan yang sedikit berukuran jumbo, rambut pirang kemerah-merahan dan kebiasaan anak-anak seusia pada umunya, selalu membutuhkan perhatian lebih. Dan yang terakhir ada Bapak Haji: Itu sebutan yang kami sematkan kepada suami ibu desa ini yang menurut hemat kamus saya, bapak type lelaki idaman wanita; pendiam dan amat ramah bagi siapa saja yang bertemu dengan beliau.

Didalam rumah ternyata masih ada lagi manusia baru yang tidak kalah serunya, yakni Seila dan Kasma, kedua anak ini ternyata keluarga ibu desa yang membantu memberes-bereskan rumah ibu, sekaligus Seila menjadikan ibu kepala desa sebagai orangtuanya sendiri. Mereka berdua inilah yang setia mengantarkan kami kemanapun kami minta.

Akhir tulisan untuk hari ini, setidaknya tembok-tembok dan macetnya kota tidak hadir di desa ini, sedikit memberiku kelegahan. Kami ibarat lepas dari penjara yang mengikis kemanusiaan siapa saja yang terperangkap dengan gemerlap kota, membentengi diri dengan prioritas individu dan aku harap semoga saja tidak ada di desaku.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated A Hasyim Asyari’s story.