
Dearest Sister
“Sudah sepuluh tahun kami tidak melihat matahari…”
“Hmm… apalagi ya? Aku harus menjadikan ini karya terbaikku” aku menyandarkan badan ke kursi belajarku sambil mengacak-ngacak rambut sebahuku yang baru aku rapihkan setelah mandi.
Namaku Vloine, perempuan berumur 14 tahun yang mempunyai cita-cita sebagai penulis seperti William Shakespeare karena karya-karyanya sangat hebat dan masih dikenang hingga sekarang, salah satunya adalah Romeo and Juliet. Aku sangat suka dengan namaku karena terdengar seperti violin, sebelum meninggal mama adalah seorang Pianist dan aku selalu duduk disampingnya ketika dia sedang bermain piece favoritnya yaitu Nocturne, seperti seorang Violinist yang mengiringi pemain piano dalam sebuah concour kami berdua sering hanyut dalam dentunan nada, satu-satunya kenangan dengan mama adalah foto kami sedang bermain piano membelakangi jendela diterangi cahaya matahari.
Aku tinggal berdua dengan kakakku, namanya Noil, usia kami selisih 11 tahun dan dia adalah kakak yang cuek. Aku sedikit jengkel dengan sifat kakakku, setiap harinya dia selalu duduk didepan jendela ditemani segelas teh hangat sambil menatap langit dengan serius dan jarang sekali menyapaku, entah apa yang dipikirnya. Sejak ayah dan ibu meninggal kak Noil harus mencari uang untuk kebutuhan kami berdua, sebelum kak Noil lulus sekolah saudara dan para tetangga selalu membantu kami dalam hal apapun, tapi sekarang kak Noil menolak untuk dibantu dan ingin berusaha sendiri supaya tidak merepotkan orang lain, dibalik kecuekkannya kakak adalah orang yang bertanggung jawab.
Ya, langit kami memang sudah seperti ini, sudah sepuluh tahun langit menjadi gelap dan selalu hujan setiap harinya, aku tidak begitu ingat apa yang terjadi dengan langit 10 tahun yang lalu karena aku masih kecil, saat aku tanya kak Noil ada apa dengan langitnya dia terdiam dan menatapku seolah-olah seperti menyembunyikan hal yang tidak boleh kuketahui, aku hanya diceritakan olehnya bagaimana keindahan langit saat pagi, siang, dan sore selalu mempunyai keindahan yang berbeda, tapi sekarang dengan keadaan langit yang seperti ini membuat semua cerita itu hanya terdengar seperti sebuah dongeng bagiku.
Hari ini seperti biasanya, aku menulis, menulis, dan menulis. Menulis adalah hobiku bahkan sejak kecil sudah ada beberapa karyaku yang terpapar dimajalah anak-anak, banyak yang memanggilku “Si Genius Kecil” karena diusiaku yang baru enam tahun walau sempat beberapa tahun aku meninggalkan hobi ini karena aku mulai bosan tapi sahabatku Rin selalu mendorong dan mendukungku untuk terus menulis. Perempuan yang selalu ceria ini adalah teman masa kecil dan juga pembaca setiaku, sejak kecil tiap kali aku menyelesaikan sebuah cerita dia selalu menjadi orang pertama yang membacanya, melihatnya serius membaca dan bagaimana emosinya meluap saat membaca karyaku membuatku senang dan ingin terus membuat lebih banyak karya lagi.
“Emm Rin, menurutmu cerita ini harus dibawa kearah mana ya? Aku benar-benar belum tahu bagaimana mengembangkan cerita ini” tanyaku pada Rin, Rin menghiraukanku dan matanya melihat tajam ke kak Noil
“Rin? Hey!” insting isengku mengatakan bahwa ini saat yang tepat untuk menggoda dia
“Ah! Iya apa-apa??” Rin terkejut mendengar teriakku
“Hmm aku tahu apa yang ada dipikiranmu, isinya pasti kakakku-“ Rin langsung membungkam mulutku, wajahnya yang memerah menoleh kearah kak Noil yang sekilas melihat aneh kami berdua dari tempat duduknya. Setiap hari minggu Rin selalu datang ke rumahku dan dia selalu seperti ini, sifatnya yang selalu ceria kadang berubah jadi perempuan pemalu ketika kak Noil ada di rumah.
“Vloine! Jangan keras-keras ngomongnya, aku gak berpikir begitu kok” suaranya dari keras semakin kecil dan lembut tapi tangannya masih membungkam mulutku keras sekali sampai membuat aku sesak.
“Ri-n!! Lep-lepaas! Give up give up!!” Rin langsung melepas cengkraman kuatnya itu, aku mengecek pipiku sambil berpikir “sungguh kekuatan yang luar biasa dari cewek semanis ini”, sudah jelas terlihat kalau Rin itu suka sama kak Noil tapi dia malu untuk mengungkapkan itu, dan akan terus seperti ini kalau dilihat dari sifatnya kak Noil yang bahkan menyapa Rin saja tidak pernah.
“Aku bukannya kenapa ya, aku hanya khawati- eh maksudku bingung melihat kakakmu selalu termenung disana terus, kalau dia tidak punya teman bagaimana?” tanya Rin sambil memainkan rambut panjangnya tanpa sadar.
“Temannya kak Noil pernah kesini, Ghina namanya, lebih tua dari kak Noil dan dia selalu memakai toga putih mungkin dia seorang dokter”
“Eh? Lebih tua dari kakakmu? Tapi syukurlah kalau begitu” ekspresinya campur aduk setelah mengetahui itu, sepertinya dia cemburu. Begitulah Rin, ekpresinya selalu mudah ditebak dan aku bisa menggodanya kapan saja.
“Vloine, aku pergi dulu” kak Noil beranjak dari kursinya, mengambil payung dan membuka pintu.
“Mau kemana kak?” kak Noil menutup pintu dan langsung pergi, suara hujan yang lumayan keras membuat suaraku tidak terdengar olehnya. Mungkin dia bertemu temannya, karena setiap kak Noil libur dia pergi dan pulang saat sudah sore.
Hari sudah sore aku hanya sendirian di rumah, kak Noil belum kembali dan Rin sudah pulang sejak tadi, rasa bosan menyeretku kedalam perpustakaan keluargaku disana terdapat banyak buku peninggalan papa yang sangat banyak, pikirku mungkin akan ada beberapa yang bisa kujadikan bahan refrensi. Buku-buku dibarisan bawah dan tengah lemari besar ini sudah hampir aku baca semua jadi aku mengambil tangga untuk menggapai buku barisan atas karena tinggiku hanya 160cm, saat sedang memeriksa satu-persatu dipojok lemari aku melihat sebuah kotak kayu berukuran sedang yang tertutup buku dan dikunci menggunakan PIN angka.
“Bagaimana cara membukanya?” pikirku penasaran
“Ah! sepertinya aku tahu” langkahku langsung menuju ke meja kak Noil, aku pernah melihat angka ‘7905’ kecil dicatatan kak Noil. Aku membukanya dengan segera karena tupai penasaran ini tak bisa menunggu lama lagi. Didalamya ada beberapa foto dan dokumen, foto keluargaku dan… langitnya cerah, mataku terbelalak lebar melihat foto tersebut.
“Jadi ini langit yang sebenarnya” pikirku takjub, dibawah foto-foto ini ada dokumen yang bertulis tangan ‘Dearest Sister’ aku yakin ini kepunyaan kak Noil, aku tanpa ragu melihat isinya disitu hanya ada tulisan tangan, lalu aku membacanya perlahan
“Tanggal 07 September 2005 adalah puncak dari penelitian kami, aku dan ayah menciptakan mesin perubah cuaca untuk membantu para petani, kami menyebutnya ‘Projek Kesejahteraan’ sejauh ini berkembang cukup baik namun persentase keberhasilannya hanya 50%. Tetapi dengan egoisnya ayah tetap ingin melanjutkan karena dia yakin pada kemampuan dirinya dan memang sudah banyak waktu dan biaya yang terbuang karena ini, aku tidak bisa membiarkan begitu saja, aku menentang keras untuk dilanjutkan dan akhirnya dia setuju untuk membatalkan operasi.
Esoknya aku sedang dikafe dekat rumah, terdengar suara ledakan didampingi petir besar yang menyambar daerah rumahku, tanpa pikir panjang aku langsung berlari karena aku memiliki firasat buruk tentang itu, firasatku benar ayah melakukan Projek Kesejahteraan tanpa sepengetahuanku, tak jauh dari mesin besar itu ayah dan ibu berbaring sudah tak bernyawa, aku bergegas kekamar Vloine, dia pingsan dan terluka parah. Projek Kesejahteraan gagal total dan menyebabkan alam menjadi tidak seimbang, langit menjadi gelap permanen, hujan setiap waktu, dan keluargaku hancur.
Sekarang yang kupunya hanya Vloine, dia mengalami koma dan jantungnya diperkirakan akan berhenti berdetak karena Vloine jantungnya lemah sejak kecil, salah-satunya jalan adalah mentransplantasi jantungnya dengan Syndia Reactor yang dipakai untuk menjadi inti mesin Projek Kesejahteraan, mungkin ini egois tapi aku tidak ingin Vloine mati.
Kututup dokumen itu perlahan, air mataku mulai jatuh setelah tahu yang sebenarnya, aku menoleh karena kak Noil yang sudah berada disampingku, dia kaget dan bicara terbata-bata
“Itu-, kamu kenapa…”
“Kak… apa ini semua benar?” tanyaku sambil mengelap air mata. Kak Noil hanya diam
“Kak! Tolong jawab!” aku menatap lurus kak Noil dengan mata yang masih bengkak
“Iya” jawabnya sambil memalingkan wajah
“Dan aku ini bukan manusia lagi kan?”
“Maksudmu apa?”
“Karena ledakkan besar seperti itu mustahil jika tubuhku masih utuh, iya kan?”
“Iya, kamu terlalu pintar Vloine” kak Noil duduk lemas tak berdaya dan menundukkan kepalanya
“Terlalu cepat untukmu mengetahui semua ini, tapi apa boleh buat. Kamu terluka parah dan beberapa bagian tubuhmu sudah tak berfungsi, jadi aku meminta tolong Ghina untuk menggantinya dengan mesin, itu bisa berkembang menyesuaikan usiamu jadi kamu tidak akan tahu” sambungnya dengan ekpresi yang tenang bukan cuek seperti biasanya
“Begitu ya, aku.. lebih tenang sekarang” senyum kecilku mulai muncul, kak Noil juga tersenyum lega
“Satu pertanyaan lagi kak, apa Syndia Reactor ini bisa… untuk mengembalikan keadaan langit?” dengan wajah yang masih tersenyum aku memegang dadaku yang berdetak layaknya jantung manusia, ekspresi kak Noil langsung berubah ketika mendengar pertanyaanku.
“Tidak… Vloine kamu tidak berpikir untuk melakukan itu kan!? Vloine!!” ini pertama kalinya kakak membentakku seperti itu, dia langsung berdiri dan memegang bahuku dengan ekspresi marah dan ketakutan. Dari reaksi kakak aku sudah tahu kalau jawabannya adalah “iya”
“Tapi aku yang menyebabkan semua ini! Banyak orang yang kesulitan karena hujan setiap hari, karena kakak lebih memilih menyelamatkanku daripada menyelesaikan masalah ini dan terus berbohong pada diri sendiri dan orang lain bahwa kakak tidak bisa mengatasinya kan? Aku selama ini selalu bertanya-tanya bagaimana cara mengembalikkan langit seperti semula, dan ternyata akulah jawabannya”
“Bukan begitu! Aku sudah berjanji pada ibu untuk selalu melidungimu! Katamu kau penyebabnya!? Jangan bercanda! Ini semua salahku, seandainya.. dari awal aku tidak setuju dengan projek gila ini, semua ini tidak akan terjadi” kak Noil berlutut dan menangis dengan sangat penuh penyesalan, melihat kak Noil seperti ini membuatku tidak bisa menahan tangisku lagi, senyumku hilang dan air mataku mengalir…
Disuasana yang sedang haru didepan pintu perpustakaan sosok Rin sudah berada disana, matanya sudah penuh air mata, kurasa dia mendengar semuanya. Rin berlari dan langsung memelukku dengan erat.
Bersambung