Puting

Ketika mentari menukikkan cahayanya di langit timur, aku terbangun, merengek minta dekapan. Rengekanku lalu mengundang langkah kaki cantik nan seksi.

Tubuh dari kaki itu hanya terbungkus kain jarik dan BH. Rambutnya masih acak-acakan. Terurai memanjang menutupi punggung belakang.

Lalu tangannya mulai menyibak tirai kelambuku. Ia meraih tubuhku dengan perlahan. Tangannya sangat lincah. Tapi ia agak terkejut setelah meraih daerah kemaluanku.

Basah. Tapi ia malah tersenyum.

“Ah, kau memang pintar membuatku repot, Sayang. Sebagai hukuman, aku akan mengecup keningmu.”

Aku hanya melongo menatapnya. Lalu aku memejam sejenak. Sekejap kecupan itu berbau alkohol. Namun ritual pembuka yang ditunaikannya membuatku nyaman.

Kemudian, ia mulai menyembulkan payudara kirinya dari dalam BH, dan mulai mendekatkannya ke bibirku. Aku menawa singkat. Benda montok itu pun kuhisap dengan penuh hasrat.

Puting warna gelap itu mengairi aku dengan air susu kehidupan. Tapi entah kenapa, kenikmatan gunung yang menggelantung di dada itu tak lagi terasa.

“Ooeek, ooeek.”

Mulutku hanya bisa merengek. Tangisanku memecah kesunyian hingga kidung favoritku ia dendangkan:

“Pok ame ame belalang kupu kupu, pok biar rame pagi pagi minum susu”.

Tak ada kata-kata yang dapat aku ucapkan kepadanya.

Kenapa aku hanya mendapati wajahmu saat pagi hari dengan apek tembakau di puting susumu, ibuku yang cantik?

Mulutku bergumam dalam bahasa para bayi. Hanya sepi yang membisu mengantar maksudku ke dalam dada Ibu.