21 Pelajaran dari Bitcoin Bagian Pertama: Filosofi

Tulisan di bawah paragraf ini adalah karya Dergigi yang sudah saya usaha terjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan sebaik mungkin. Disclaimer: Lisensi yang saya gunakan adalah CC BY-SA 4.0, yang berarti kalian dapat pergunakan sebebasnya asalkan anda menggunakan lisensi yang sama. Siapkan sabuk pengaman, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Saya berharap tulisan ini dapat membuka cakrawala teman-teman saya sebangsa dan setanah air untuk tidak melihat suatu hal dari satu sisi. Mari kita mulai.

BAGIAN PERTAMA: FILOSOFI

Bitcoin adalah balita dari berbagai disiplin ilmu. Layaknya analogi si Buta yang sedang memeriksa seekor gajah, semua orang yang melakukan pendekatan pada teknologi ini juga akan melihatnya dari berbagai sisi. Itulah yang akan memberikan kesimpulan berbeda-beda akan karakter si binatang.

Si Buta Memeriksa Gajah Bitcoin

Pelajaran berikut adalah beberapa asumsi saya yang dipecah-pecah dari Bitcoin dan kesimpulan yang saya dapat. Pertanyaan-pertanyaan filosofis akan immutability (kekekalan), scarcity (kelangkaan), locality (lokalitas), dan identitas akan ditelusuri pada empat pelajaran pertama.

Pelajaran kelima menjelajahi bagaimana kisah asal muasal Bitcoin yang tidak hanya mengagumkan tapi juga esensial dalam sistem yang leaderless (tanpa pemimpin). Saya harap anda bisa melihat dunia Bitcoin sebagai sesuatu yang mendidik, mengagumkan, dan menghibur seperti yang saya lihat. Saya mengundang anda untuk mengikuti si white rabbit dan bersama-sama menjelajahi dalamnya lubang kelinci ini. Baiklah, enjoy the fall!

  • PELAJARAN KE-1, KEKEKALAN DAN PERUBAHAN

Bitcoin memang sulit dijelaskan secara inheren. Ini adalah hal baru, dan berbagai upaya untuk membandingkannya dengan konsep-konsep yang pernah ada — baik menyebutnya emas digital, atau uang internet — tidak akan dapat mendefinisikannya secara keseluruhan. Namun apapun analogi yang orang gunakan, dua aspek Bitcoin ini bersifat esensial: desentralisasi dan kekekalan (immutability).

Satu cara untuk memahami Bitcoin adalah dengan menganggapnya sebagai kontrak sosial otomatis (automated social contract). Software dari Bitcoin sendiri adalah salah satu puzzlenya, dan berharap untuk merubah Bitcoin dengan merubah software tersebut adalah sebuah upaya yang sia-sia. Seseorang atau suatu pihak harus meyakinkan semua pihak yang terlibat di jaringan untuk mengadopsi perubahan yang akan dilakukan, yang lebih terlihat sebagai sebuah upaya yang bersifat psikologis dibandingkan upaya bersifat software engineering.

Kalimat berikut ini akan terdengar aneh pada awalnya, layaknya segala hal yang ada di dunia Bitcoin ini, tapi saya percaya bagaimanapun juga bahwa ini benar: Anda tidak akan mengubah Bitcoin, tetapi Bitcoin yang akan mengubah anda.

“Bitcoin akan lebih mengubah kita dibandingkan kita mengubahnya.” -Marty Bent

Sudah begitu lama waktu yang saya lalui untuk menyadari betapa dalamnya makna ini. Semenjak Bitcoin hanyalah sebuah software dan bersifat open-source, orang-orang dapat mengubahnya semau mereka, benar kan? Salah. Sangat salah. Dan secara tidak mengejutkan, pencipta Bitcoin pada awalnya telah mengetahui ini semua.

Sifat Bitcoin adalah ketika versi 0.1 nya dikeluarkan, desain intinya sudah mutlak begitulah adanya untuk selama-lamanya.” Satoshi Nakamoto

Sudah banyak orang yang berupaya mengubah sifat Bitcoin. Sejauh ini mereka semua gagal. Meski telah banyaknya cabang (fork) dan coin alternatif (altcoins) lain yang bermunculan, jaringan Bitcoin terus melakukan apa yang pada awalnya dilakukan sama pada saat node pertamanya online. Altcoins tidak akan berpengaruh apa-apa dalam jangka panjang. Dan forks dari Bitcoin suatu saat akan mati sendiri. Bitcoin adalah yang utama. Selama pemahaman fundamental kita terhadap matematika dan/atau fisika tidak berubah, Bitcoin si honeybadger tidak akan peduli apa yang terjadi.

“Bitcoin adalah contoh pertama bentuk kehidupan yang baru. Dia hidup dan bernafas dalam dunia internet. Dia terus hidup karena dia bisa membayar orang untuk membuatnya tetap hidup […] Dia tidak bisa dirubah. Juga tidak bisa dibantah. Dan tidak bisa diutak-atik. Tidak bisa dikorup. Dan tidak bisa dihentikan […] Jika perang nuklir menghancurkan setengah dari planet kita, dia akan terus hidup, tak terkorup. Ralph Merkle

Detak jantung dari jaringan Bitcoin akan melampaui detak jantung kita semua.

Menyadari hal diatas telah merubah saya begitu jauh. Hal ini mengubah preferensi waktu saya, pandangan politik saya, dan sebagainya. Duh, bahkan hal ini mengubah pola makan orang-orang. Jika ini semua terdengar gila bagi anda, tenang saja, anda tidak sendirian. Semua ini memang gila, tapi semua ini sedang terjadi.

Bitcoin mengajarkan saya kalau dia tidak akan berubah. Tapi saya.

  • PELAJARAN KE-2, KELANGKAAN AKAN SEBUAH KELANGKAAN

Secara umum, kemajuan teknologi membuat banyak hal terlihat begitu melimpah. Semakin banyak orang yang dapat menikmati sesuatu yang sebelumnya merupakan kemewahan. Seperti yang kita nikmati sekarang. Seperti yang ditulis oleh Peter Diamandis dalam Abundance: “Teknologi adalah mekanisme pembebas sumberdaya. Dia dapat menjadikan apa yang pada awalnya langka menjadi begitu melimpah.”

Bitcoin, yang pada dasarnya adalah sebuah teknologi maju, merusak tren ini dan menciptakan sebuah komoditas baru yang benar-benar langka. Beberapa orang bahkan berargumen bahwa ini adalah salah satu benda yang paling langka di alam semesta. Jumlah pasokannya tidak dapat terinflasi, tidak masalah betapa banyak daya dan upaya orang-orang untuk mencoba menciptakannya lebih banyak.

“Hanya ada dua hal yang benar-benar langka: waktu dan bitcoin.” Saifedean Ammous

Secara paradoksikal, Bitcoin melakukannya dengan mekanisme peng-copy-an. Transaksinya disebarkan, bloknya diperbanyak, buku besar terdistribusinya — didistibusikan. Semua ini adalah permainan kata yang pada intinya adalah peng-copy-an. Gila, Bitcoin bahkan meng-copy dirinya sendiri ke sebanyak-banyaknya komputer yang ia bisa, dengan memberikan intensif pada mereka yang menjalankan nodes secara penuh dan menambang blok baru.

Semua penduplikasian ini secara ajaib berfungsi dengan baik sebagai usahanya menciptakan kelangkaan.

Dalam zaman yang serba melimpah, Bitcoin mengajarkan saya apa itu kelangkaan yang sesungguhnya.

  • PELAJARAN KE-3, REPLIKASI DAN LOKALITAS

Mari kesampingkan mekanika kuantum, lokalitas sebenarnya bukanlah sebuah masalah dalam dunia fisik. Pertanyaan seperti “Dimana X?” dapat dijawab dengan simpel, baik X adalah orang ataupun objek. Tapi dalam dunia digital, pertanyaan dimana akan menjadi sesuatu yang membingungkan, tapi tidak mustahil untuk dijawab. Dimanakah email anda sebenarnya? Jawaban bodoh-bodohan yang umum adalah “di server”, yang berarti bisa saja di komputer siapa saja. Tapi, jika anda ingin melacak storage setiap device yang memiliki email anda di dalamnya, secara teori, anda dapat melakukannya.

Dalam dunia bitcoin, pertanyaan “dimana” akan sungguh-sungguh tricky. Dimana, secara tepatnya, bitcoin anda?

“Kubuka mataku, melihat sekitar, dan bertanya sesuatu yang tak dapat dihindari, layaknya habis dioperasi: ‘Dimanakah aku?’”Daniel Dennett

Masalahnya bersifat dua lapis: Pertama, buku besar yang terdistribusi secara harfiah benar-benar terdistribusi penuh secara replika, yang berarti buku besarnya berada dimana-mana. Kedua, bitcoin itu tidak ada. Tidak hanya secara fisik, tapi secara teknis.

Bitcoin melacak setiap set output transaksi yang tidak terkirim, tanpa harus mengacu pada sebuah entitas yang merepresentasikan sebuah bitcoin. Eksistensi akan sebuah bitcoin ini disimpulkan dengan melihat sebuah set transaksi ini dan menyebut setiap entry dengan 100 juta unit dasar sebagai bitcoin.

“Dimana dia, saat ini, dalam transit?[…] Pertama, bitcoin itu tidak ada. Begitulah adanya. Benda ini tidak eksis. Tapi ada catatan di buku besar (ledger) yang dibagikan […] Mereka tidak eksis di tempat fisik. tapi buku catatannya secara esensial eksis di setiap lokasi. Geografi jadi sesuatu yang tidak masuk akal disini — geografi tidak akan membantu anda menjelaskan kebijakan anda disini.”Peter Van Valkenburgh

Lalu, apa yang sebenarnya anda miliki ketika anda mengatakan “saya memiliki bitcoin” jika bitcoin itu tidak ada? Hmm, apa anda ingat kata-kata aneh yang anda dipaksa untuk catat oleh wallet yang anda gunakan? Ternyata kata-kata magic ini adalah apa yang sebenarnya anda miliki: sebuah mantra sihir yang dapat digunakan untuk menambahkan catatan ke buku besar publik itu — kunci untuk “memindahkan” bitcoin. Inilah kenapa, untuk berbagai tujuan, private key anda adalah bitcoin anda. Jika anda berpikir saya mengada-ada, coba saja kirimkan saya private keys yang anda miliki.

Bitcoin mengajarkan saya bahwa lokalitas adalah pekerjaan yang begitu rumit.

  • PELAJARAN KE-4, MASALAH IDENTITAS

Nic Carter, dalam penghormatannya kepada perlakuan Thomas Nagel akan pertanyaannya tentang seekor kalelawar, menulis sebuah karya yang membicarakan pertanyaan berikut: Bagaimana rasanya menjadi bitcoin? Secara brilian, dia menunjukkan blockchain publik secara umum, dan Bitcoin secara khusus, yang mengalami teka teki serupa layaknya Kapal Theseus: Bitcoin manakah yang asli?

“Bayangkan betapa kecilnya persistensi komponen Bitcoin. Semua basis kodenya telah ditulis ulang, dirubah, dan diperluas sedemikian rupa hingga tidak menyerupai versi originalnya lagi […] Catatan akan siapa yang memiliki apa, buku besarnya, secara virtual adalah satu-satunya sifat persisten dari jaringannya […] Untuk dinilai benar-benar leaderless, anda harus memasrahkan sebuah solusi mudah dengan memiliki satu entitas yang dapat menentukan satu mata rantai sebagai rantai yang sah.”Nic Carter

Sepertinya kemajuan teknologi terus memaksa kita untuk menganggap serius pertanyaan filosofis ini. Cepat atau lambat, mobil yang dapat mengemudikan dirinya sendiri akan menghadapi contoh dunia nyata dari masalah trolley, yang memaksa mereka untuk membuat keputusan etis mengenai nyawa siapa yang lebih berharga.

Cryptocurrency, terutama sejak hard-fork pertamanya, memaksa kita untuk berpikir dan menyetujui mengenai metafisika akan sebuah identitas. Secara mengejutkan, contoh nyata terbesar yang kita miliki berujung pada dua jawaban yang berbeda. Pada tanggal 1 Agustus 2017, Bitcoin terbagi menjadi dua kubu. Market memutuskan bahwa chain yang utama adalah Bitcoin original. Setahun sebelumnya, pada tanggal 25 Oktober 2016, Ethereum terbagi menjadi dua kubu. Market memutuskan bahwa chain yang sudah dirubah adalah Ethereum yang original.

Jika benar-benar terdesentralisasi, pertanyaan yang disajikan dalam Kapal Thesesus harus dijawab secara berkelanjutan selama jaringan transfer-nilai ini terus eksis.

Bitcoin mengajarkan saya bahwa desentralisasi bersifat kontradiktif dengan identitas.

  • PELAJARAN KE-5, KONSEPSI TAK BERNODA

Semua orang suka kisah tentang asal muasal yang seru. Cerita asal muasal Bitcoin adalah salah satu yang mengasyikkan, dan detil-detil akan hal tersebut bersifat jauh lebih penting dari yang dipikirkan orang-orang. Siapa itu Satoshi Nakamoto? Apakah dia seseorang atau sekelompok orang? Apakah dia laki-laki atau perempuan? Apakah dia alien penjelajah waktu, atau AI yang begitu canggih? Apapun teori-teori aneh itu, mungkin kita tidak akan pernah tau kenyataannya. Dan ini merupakan sesuatu yang begitu penting.

Satoshi memilih untuk menjadi anonim. Dia menanamkan benih-benih Bitcoin. Dia terus tinggal cukup lama untuk memastikan jaringannya tidak mati dalam kelahirannya. Kemudian dia menghilang.

Apa yang terlihat sebagai sebuah permainan anonimitas sebenarnya begitu krusial untuk sistem yang terdesentralisasi. Tidak adanya kontrol sentral. Tidak adanya otoritas sentral. Tidak adanya inventor. Tidak ada yang harus diprosekusi, disiksa, diblackmail, atau diperas. Sebuah konsepsi tanpa noda dalam teknologi.

“Salah satu hal terbaik yang dilakukan Satoshi adalah lenyap menghilang.” Jimmy Song

Sejak kelahiran Bitcoin, ribuan cryptocurrency lain diciptakan. Tidak ada satupun kloningnya yang memiliki kisah asal muasal serupa. Jika anda ingin menggantikan Bitcoin, anda harus melampaui kisah asal muasalnya. Dalam perang ide, narasi menentukan kelangsungan hidup.

“Emas dijadikan fashion sebagai perhiasan dan digunakan untuk barter lebih dari 7000 tahun yang lalu. Kemilau cahaya emas membuatnya dianggap sebagai hadiah dari para dewa.”Gold: The Extraordinary Metal

Layaknya di masa kuno, Bitcoin mungkin dianggap sebagai hadiah dari para dewa. Tidak seperti emas, asal muasa Bitcoin begitu manusiawi. Dan saat ini, kita tahu siapa para dewa yang menjaga dan mengembangkan jaringannya: semua orang di seluruh dunia, anonim ataupun tidak.

Bitcoin mengajarkan saya bahwa narasi itu penting.

  • PELAJARAN KE-6, KEKUATAN FREE SPEECH

Bitcoin adalah sebuah ide. Sebuah ide, yang mana dalam bentuknya yang sekarang, adalah sebuah manifestasi mesin yang secara keseluruhan ditenagai oleh teks. Setiap aspek dari Bitcoin adalah teks: Whitepapernya adalah teks. Softwarenya yang dijalankan oleh para nodesnya pada dasarnya teks. Buku besarnya adalah teks. Public dan Private keysnya adalah teks. Setiap aspek dari Bitcoin adalah teks, yang mana setara dengan speech.

“Kongres tidak akan membuat hukum yang melarang tentang pendirian agama, atau melarang praktik bebasnya; atau yang memotong kebebasan berbicara, atau pers; atau hak rakyat untuk berkumpul secara damai, dan mengajukan petisi kepada pemerintah untuk mengatasi keluhan.” First Amendment to the United States Constitution

Meskipun pertempuran terakhir dari Perang Crypto belum dilakukan, akan sangat sulit untuk menkriminalisasikan sebuah ide, apalagi sebuah ide yang berbasiskan atas pertukaran pesan teks. Setiap kali pemerintah berusaha untuk melarang teks atau speech, kita akan melalui sebuah jalan yang berakhir pada abominasi seperti bilangan ilegal dan bilangan prima ilegal.

Selama ada bagian di dunia yang membebaskan speech, Bitcoin tak akan dapat dihentikan.

“Tidak ada transaksi Bitcoin yang membuat Bitcoin berhenti menjadi teks. Semuanya bersifat teks, selalu […] Bitcoin adalah teks. Bitcoin adalah speech. Itu tidak dapat diregulasi di negara bebas seperti Amerika Serikat yang memastikan hak yang tidak dapat dicabut dalam Amandemen Pertamanya yang secara eksplisit mengeksklusikan kegiatan penerbitan dari pengawasan pemerintah.” Beautyon

Bitcoin mengajarkan saya bahwa dalam masyarakat bebas, kebebasan berpendapat (Free speech) dan software bebas tidak dapat dihentikan.

  • PELAJARAN KE-7, KETERBATASAN PENGETAHUAN

Mengenal Bitcoin adalah pengalaman yang membuat saya jadi rendah diri. Saya merasa saya tahu banyak hal. Saya merasa saya berpendidikan. Saya merasa saya setidaknya memahami sains komputer. Saya mempelajari itu selama bertahun-tahun, jadi saya harus tahu segalanya tentang signatur digital, hashes, enkripsi, keamanan operasional, dan jaringan, ya kan?

Salah.

Mempelajari semua hal fundamental adalah yang membuat kinerja Bitcoin begitu sulit. Memahami semuanya secara mendalam hampir mustahil.

“Tidak ada seorangpun yang menemukan dasar dari lubang kelinci Bitcoin.” Jameson Lopp

Daftar dari buku yang saya harus baca terus meluas lebih cepat dari yang mampu saya baca. Daftar dari artikel dan penelitian yang perlu saya baca tidak ada habisnya. Terus ada podcasts yang selalu membicarakan tentang hal ini yang terus dapat saya dengarkan. Begitu membuat saya rendah diri. Lebih jauh lagi, Bitcoin terus ber-evolusi dan hampir mustahil untuk terus update dengan inovasi yang terakselerasi ini. Debu-debu yang ada pada lapisan pertama bahkan belum dibersihkan secara keseluruhan, dan orang-orang sudah mulai membuat lapisan kedua dan sedang berusaha membuat lapisan ketiga.

Bitcoin mengajarkan saya bahwa saya tahu begitu sedikit tentang semuanya. Dia mengajarkan saya kalau lubang kelinci ini tidaklah memiliki dasar.

Techno-politics and Blockchain enthusiast, writer wannabe, M.A in IR

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store