Pressing

Persipura Jayapura gagal mencetak lembaran baru di Piala AFC (30/9). Langkahnya terhenti di babak semifinal setelah menyerah telak 2–10 (secara agregat) dari finalis musim lalu, Al Qadsia Kuwait. Kendati begitu, Persipura patut mendapat apresiasi.

Skuat Jacksen F Tiago sanggup menerobos semifinal. Bahkan “Mutiara Hitam” secara mengejutkan melewati Al Kuwait — juara bertahan dan penguasa gelar terbanyak AFC Cup — di perempat final. Kekalahan dari Al Qadsia akhirnya terkesan representasi antiklimaks. Namun juga tak perlu disesali karena kekalahan datang dari perwakilan Kuwait – negeri superior di AFC Cup dengan tiga final sesama wakilnya.

Hasil ini justru membarui gambaran. Inilah bukti anyar level sepak bola Indonesia secara terbatas. Andai bukan Persipura, bisa jadi tidak sampai semifinal. Bahkan Arema Cronus hanya mentok di 16 Besar.

Tapi menyaksikan permainan Jayapura dalam dua leg semifinal, saya teringat sekaligus mengamini ucapan pelatih timnas senior Indonesia, Alfred Riedl.

“Kita kesulitan membangun serangan karena ketika baru memulai sudah mendapatkan tekanan. Di Indonesia tidak banyak yang bermain pressingseperti ini, sehingga pemain sempat berpikir dan melihat posisi kawan,” kata Riedl dikutip Detikcom pasca menjalani latih tanding tanpa gol dengan Yaman di Jakarta bulan lalu.

Ah itu dia. Pressing. Kata itu hilang dari sekian kesimpulan saya setelah mempelajari dan menganalisa filosofi dan prinsip permainan (kompetitif) Indonesia dalam empat tahun terakhir. Istilah itu terlewatkan untuk menyempurnakan jawaban pertanyaan mengapa sepak bola Indonesia terkesan berjalan mundur.

Semua tergambar dengan jelas saat menyaksikan kekalahan timnas U19 di Spanyol dan menyerahnya timnas U23 dari Thailand U23 di sepak bola pria Asian Games, serta Persipura. Lepas dari perbedaan kualitas dan taktik, Indonesia memang tak akrab dengan sepak bola pressing.

Kelihatannya sepele. Masalahnya, sepak bola kini seakan nirsekat. Para pemain lokal bermain relatif nyaman seperti biasanya karena hanya menghadapi sesama. Tapi akan berbeda bak langit dan bumi ketika menghadapi tim luar. Ini seperti mengulangi masa praktik langganan 3–5–2 di klub-klub Indonesia pada akhir 90-an dan awal 2000 yang justru jadihandycap bagi para pemain ketika berhadapan dengan tim/pemain asing.

Permainan sepak bola (kompetitif) saat ini demikian cepat. Pemain diminta tidak lengah dan tidak kehilangan bangunan permainan. Itu sebabnya pressing jadi dasar permainan. “Press from the first minute to the last,” tulis FourFourTwo dalam pencerahan filosofi taktik.

Atau lihat praktik Jose Mourinho saat memerintahkan anak asuhnya di Inter Milan agar “tidak aktif merebut bola” kala menghadapi Barcelonapada 2010. Tapi Mou meminta para pemainnya aktif melakukan pressing. Tentu saja, kesannya paradoks. Tidak aktif merebut bola tapi rajin menekan? Ini memang berbau canggih — mentransformasi filosofi permainan ke dalam pecahan taktik dan strategi.

Beberapa praktik pressing ketat lainnya bisa ditemui pada permainan Atletico Madrid asuhan Diego Simeone, filosofi Marcelo Bielsa, dan Dortmund ala Juergen Klopp. Atau pressing berbentuk defensive forwardyang dijalankan Pep Guardiola di Barcelona dan Bayern Muenchen.Pressing tidak jarang dilakukan secara zona. Antara lain pada bangunan pendek merapat Arrigo Sacchi di AC Milan atau sistem zona Zdenek Zeman.

Intinya, pressing digunakan untuk membuat permainan lawan tidak berkembang. Ayah saya pernah mengatakan, pemain lawan yang sedang menguasai bola harus “diganggu” supaya kontrol bolanya hilang atau bahkan salah umpan. Tapi konotasi pressing bukan berarti harus man to man marking. Inilah bedanya dengan praktek di Indonesia. Di sini, para pemain seperti belum tahu cara mempraktikan pressing tanpa terkesanman to man marking nan usang itu. Secara kasar, pressing seperti merangsek. Ganas setiap kali ada lawan mendapat atau menguasai bola. Jadi, memang tak mesti seperti pengawal paspampres yang senantiasa “menempel” obyek VVIP.

Sulit untuk melakukan pressing bila tak sadar ruang. Pemain kelihatannya bisa merangsek seenaknya ke arah lawan. Tapi sebenarnya dalam kondisi vice versa, pemain bergerak dalam ruang terbatas. Misalnya, penyerang hanya akan menekan di area diagonal kiri dan satu gelandang diserahi tanggung jawab bergerak ke diagonal kanan. Tapi ini pun tidak berdiri sendiri. Selalu ada pemain lain dalam jarak dan zona tertentu. Bangunan zona itu membuat bola liar dari lawan bisa diamankan pemain lain untuk kemudian berbalik menyerang. Lihatlah pergerakan Angel Di Maria di Real Madrid. Pergerakannya selalu di area segitiga kiri belakang-tengah-kiri depan. Kiri belakang dengan peran defensif, tengah sebagaipressure, dan kiri depan sebagai penopang serangan. Dia hampir tidak pernah mengelana hingga ke kanan jauh, kecuali ada instruksi dan posisi peninggalannya ditanggung pemain lain.

Pundit The Guardian, Jonathan Wilson, pernah menulis hal ini. Dia bilang, di masa kini tak ada lagi pemain mengandalkan skill dan teknik individu secara berlebihan. Tim bermain secara kolektif atau teknisnya zona. Setiap pemain lawan memegang bola maka akan ada tiga-empat pemain menutup ruang. Barcelona, Manchester United (era Sir Alex Ferguson), dan sejumlah tim Italia menggunakan prinsip ini. Itulah tujuan pressing, menutup ruang sehingga permainan lawan tak berkembang.

Malangnya, sejumlah pemain Indonesia gemar sekali bergerak sendiri dan mengolah bola meliuk-liuk meski lawan sudah menutup ruang geraknya. Paddahal pemain sejago Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi serta para pemain Brazil tak lagi rajin melakukan itu. Ini buah dari jarangnya asupan pengetahuan filosofi pressing dan ruang pergerakan (baca: zona) kepada para pemain Indonesia. Proses gol kedua Al Qadsia ke gawang Persipura kemarin salah satu buktinya. Bader Al Mutwa menerima bola di sisi kanan pertahanan Persipura, namun hanya dihadapi bek Fandry Imbiri. Itu pun hanya menanti dan membiarkan Al Mutwa mengolah bola dengan bebas. Berkali-kali para pemain Al Qadsia bebas mengolah bola di sepertiga akhir lapangan Persipura tanpa tekanan dan pengawalan berarti.

Menerapkan pressing memang tidak mudah. Apalagi melakukannya secara konsisten dari menit awal hingga akhir. Dalam bahasaFourFourTwo, melelahkan. Tapi itulah permainan. Mana bisa santai. Masalahnya, pemain Indonesia jadi punya PR tambahan. Selain minimnya pemahaman pressing dan ruang pergerakan, stamina pun terbatas. Tak pernah kelihatan ada upaya serius memperbaikinya. Andai ada pun, para pemain biasanya protes karena dianggap terlalu keras. Padahal latihan keras adalah syarat awal menuju sukses. Ronaldo tak akan pernah menjadi pemain sukses bila porsi latihannya tidak ekstra. Timnas Indonesia tak akan pernah meraih medali emas sepak bola pria SEA Games 1991 bila fisik dan staminanya tidak “dihajar” selama tiga bulan.

Ini bukan soal memandang benar atau salah. Masalahnya, tim-tim di luar sana sudah menerapkan pressing. Bila Indonesia tak pernah membiasakan diri, tentu akan sulit menemukan antidotnya. Lebih ironis kompetisi liga (Indonesia) yang seharusnya menjalankan peran pembinaan paripurna justru kerap menghadirkan pressure. Apalagi para pengurusnya. Alih-alih mengajarkan pengetahuan, mereka justru memberi beban. Misalnya, gaji ditunggak berbulan-bulan tanpa ada kejelasan pelunasan. Suram benar.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hedi’s story.