Opini Untuk Generasi “Y”

Generasi yang penuh dengan ide brilian

Photo by Karol D on Pexels.com

Saya ingin menyampaikan opini saya terkait gen “Y” yang selalu membuat “heboh” ditahun-tahun ini. Gen “Y” adalah sebutan untuk mereka yang berusia belasan tahun hingga awal tiga puluhan (lahir awal 1980 hingga awal 2000). Didalam dunia kerja mereka adalah aset yang sangat berharga karena penuh kejutan dan melahirkan ide-ide brilian. Berikut merupakan opini pribadi saya terkait gen “Y” dan apa yang sebenarnya mereka capai khususnya didalam dunia kerja.


1. Fleksibilitas

Mereka merupakan generasi yang ingin bekerja secara fleksible tanpa harus datang ke kantor. Didukung dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat membuat generasi ini semakin malas untuk keluar dari rumah. Apalagi bila mereka hidup di kota besar seperti Jakarta yang setiap hari berangkat dan pulang kerja menghabiskan energinya di jalan (red: macet) dibandingkan di kantor. Fleksibilitas dalam bekerja jarak jauh atau remote work memang dambaan semua generasi ini, namun dibutuhkan tingkat “kepercayaan” dan komitmen yang tinggi dari sisi perusahaan dan juga sisi developer untuk menjaga bahwa tidak ada yang dirugikan.

Menurut pendapat penulis yang pernah bekerja remote work di salah satu startup di Jakarta, terkadang kerja remote menjadi dilema tersendiri apabila sebuah perusahaan selalu tidak percaya kalau kami benar2 sudah bekerja (tidak nganggur). Selalu ada rasa “dikejar-kejar oleh pembunuh” yang membuat kerja tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. Untuk perusahaan yang ingin menerapkan sistem kerja remote, memang perlu memberikan 100% kepercayaan pada developer-nya apabila belum dapat ikhlas untuk memberikan kepercayaan kepada developernya salah satunya bisa menggunakan tracking screen record seperti Upwork Desktop App.

2. Suasana Kerja yang Kekeluargaan

Suasa kerja merupakan faktor yang sangat penting dimana tingkat loyalitas karyawan diuji. Mereka generasi “Y” cenderung bekerja untuk dapat menerapkan kreativitasnya, serta mencari lingkungan kerja yang santai penuh hura-hura. Selain itu mereka sangat membutuhkan apresiasi dari atasannya juga ingin merasa seperti tidak ada “sekat” antara para petinggi sepert C level (CEO, CTO, COO, dsb). Selain itu memberikan apresiasi terhadap kinerja mereka salah satu cara yang baik untuk menghargai mereka dapat dilakukan dengan cara seperti, diberikan kartu ucapan selamat ataupun “sertifikat” yang berisi ucapan terimakasih. Atau paling mudah saat mereka ulang tahun dapat diberikan kartu ucapan ataupun kue ulang tahun sebagai salah satu cara bahwa keberadaan mereka itu berharga disana. Suasana kerja yang baik akan menghasilkan produk yang baik.

Hanya berbagi cerita, penulis pernah mengobrol dengan salah satu ex-project manager di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Salah satu faktor terbesar karyawan tidak loyal yaitu pada saat daily standup atau meeting progress harian yang “mengkambing hitamkan” seseorang yang belum selesai task-nya merupakan salah satu faktor dilema tersendiri bagi para karyawan yang akhirnya mumutuskan tidak loyal dengan perusahaan tersebut. Tujuan report tersebut seharusnya memberikan solusi kepada karyawan tersebut bukan dijatuhi hujatan atau malah dibiarkan saja. Generasi “Y” yang sedang dalam masa mencari jati diri akan merasa sangat terpuruk dan menjadi dilema tersendiri tapi menjadi pelajaran berharga buat dirinya buat di masa mendatang.

3. Selalu Mencari Tantangan Baru

Selalu mencari tantangan baru merupakan salah satu ciri yang rekat dengan generasi “Y”. Hal inilah mengapa generasi “Y” dianggap tidak memiliki komitmen tinggi dan loyalitas. Dalam bekerja, mereka cenderung seperti kutu loncat. Ketika tempat kerja tak lagi menyenangkan atau tak sesuai dengan gaya hidup, mereka tak segan-segan mencari tempat kerja baru. Yang dikejar di perusahaan baru biasanya income tahunan yang lebih tinggi dan prestise bekerja di lingkungan kerja yang lebih sophisticated, lebih keren.

Tidak selalu mereka mencari tantangan baru dengan cara memutuskan hubungan kerja. Biasanya cara mereka melampiaskan hal tersebut yaitu dengan cara bekerja secara freelance di situs seperti Upwork, 99design, freelancer.com, dsb. Atau membuka usaha bisnis sampingan seperti software house ataupun startup sendiri yang dibangun bersama dengan rekan kerja mereka di kantor. Tidak berlangsung lama nama mereka muncul sebagai CEO, CTO, COO dan C level yang lainnya :v haha.

4. Kolaborasi Antar Rekan Kerja Yang Baik

Kolaborasi antar rekan kerja yang baik merupakan hal yang tidak boleh disepelekan. Pengaruh ikatan teman juga dengan mudah membuat mereka mengubah karier dan pekerjaan. Mereka merupakan generasi yang haus akan tantangan karena itu mereka akan cenderung banyak melakukan kesalahan dalam perjalanannya. Namun mereka akan cepat belajar dan bangkit kembali dan terkadang rekan kerja di generasi sebelumnya akan merasa tersaingi oleh title “senioritas” hal tersebut yang akan membuat kolaborasi akan memburuk.

Nothing amazing happens when you are in your comfort zone. Take risks, be smart, and live your dream.