Pengetahuan, mesin, dan manusia

Ada yang tanya knp tertarik dengan machine learning. Sederhananya karena saya pikir Engine Machine Learning tercanggih adalah otak kita (sepertinya semua berfikir hal yg sama), dengan sensor 5 indra yang kita miliki sebagai penangkap input, setelah itu kita dapat melakukan identifikasi aksi yang akan kita berikan.

Engine tersebut trs dilatih dan terus belajar, improving dan konsisten terhadap experiences yang kita dapat hingga saat ini. Jika experiences yang kita dapatkan buruk (tidak valid) maka pengetahuan yg dibentukpun akan buruk. Itu kenapa kita membutuhkan guru dan referensi yg baik dan benar dalam belajar, untuk memvalidasi informasi yang sudah kita dapatkan.

Itu kenap dalam Qur’an pengetahuan itu sangat penting, dalam datamining bahkan disimbolkan dengan berlian, dan Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Itu juga kenapa referensi yang valid/shahih itu sangat penting, karena dapat berdampak pada pengetahuan yang kita bentuk di otak kita.

Kita pun pasti paham untuk mendapatkan referensi sebagai nutrisi data yang benar kita perlu dilatih untuk dapat mengenali nutrisi tersebut dengan “membaca” sebagai tahap awal Knowledge Discovery, kita butuh mendapatkan datanya, memahami datanya, memproses datanya setelah itu kita akan menemukan model atau pola atau pegetahuan yang terdapat dalam tumpukan data tersebut. Sehingga saya berfikir (sesat sepertinya) itu kenapa wahyu petama yang datang pad Rasulullah adalah “Iqra”, kalau tidak salah pun saya pernah membaca arti Iqra pun sebenarnya adalah “menghimpun”.

Setelah kita memiliki model pengetahuan tersebut kita coba membedakan mana yg haq dan yg batil, suatu saat ternyata kita salah, lalu kita mengetahuinya. Kita gunakan informasi kesalahan/error tersebut untuk memperbaiki model pengetahuan yang kita miliki (improve), dan adalah suatu kesalahan besar ketika menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, membiarkan “error” yg kita miliki bertambah dgn berjalannya waktu. Model pengetahuan yang kita miliki harus secara berkelanjutan diupdate (improve), sehingga terus menekan agar konvergen menuju kebenaran.

Hemat saya, mungkin dapat dikatakan sebagian (entah besar entah kecil) yang kita pahami hari ini hanya bersifat stochastic hingga nanti Sang Pemilik pengetahuan yang bersifat deterministic yg akan membuka segalanya (atas seizinNya).

Wallahu’alam