Cuk.

Sebelum membaca artikel ini sampai ke bawah, perlu saya ingatkan bahwa anda yang membaca diharuskan berumur 18 tahun keatas supaya lebih afdol. Jika belum mencapai umur, maka bisa menembak umur terlebih dahulu melalui oknum yang gak jelas disana (eh, kayak ngurus SIM aja main nembak-nembak segala), menunggu kurang lebih satu tahun setelah sweet seventeen anda (jikalau masih berumur belasan tahun kurang dari 18), atau beralih ke artikel edukatif lainnya seperti 10 tips mencari jodoh, 5 tips berkeringat, dan lain-lain.

Tanpa banyak cingcong, Cuk adalah sebuah kata gaul yang berasal dari “jancuk” dan kemudian dihipsterkan supaya terlihat simpel mencadi “cuk”. Sekali lagi, bahasan dari artikel ini lumayan urakan dan mungkin tidak terlalu penting adanya. Disini saya akan mencoba mengulas beberapa informasi apa motif sebenarnya dari adanya kata cuk, dimana asal-usulnya, atau apakah mungkin itu termasuk kearifan lokal dari seorang handai taulani ? Saya juga belum tahu secara pastinya.

Yang saya ketahui, kata itu cukup populer di daerah Surabaya dan sekitarnya dan sudah dapat saya dengarkan ketika masih balita. Niat mau menirukannya, tapi orang tua melarangnya karena itu merupakan kata yang saru (tidak baik, tidak terpuji) menurut mereka dan mungkin juga semua orang tua yang juga khawatir akan kata itu jika diucapkan oleh anak-anaknya kelak. Jadi berterima kasihlah kepada orang tua kalian.

Di tempat tinggal saya di Surabaya, kata cuk sangatlah mainstream dan mudah sekali menemui orang yang bisa mengucapkannya dengan mudah atau juga lantang. Biasanya, dapat digunakan untuk mengekspresikan sebuah kesenangan, menanyakan kabar, kegalauan, atau bahkan kemarahan. Contoh salah satunya adalah untuk menanyakan kabar, “C*k, yoopo kabare ?” yang berarti “C*k, bagaimana kabarnya ?” (Oh iya, dari awal sudah saya beritahu jika boleh membaca asal 18 keatas. Jadi gak pake disensor aja, “Cuk, yoopo kabare ?”). Ada juga untuk mengekspresikan kesenangan seperti, “Cuk, Aku Ganteng !”. Dan kemudian kegalauan, “Cuk, dia sama orang lain”. Dan selain itu juga bisa digunakan sebagai umpatan.

Orang juga pernah mengatai saya cuk ketika saya mengendarai sepeda motor, mungkin karena pengendalian saya terhadap kuda besi yang saya tunggangi tidak beres atau sedang ugal-ugalan. Saya juga pernah mengatai seperti itu di jalan ketika ada orang yang juga mengendalikannya dengan tidak sopan, atau juga ugal-ugalan. Tapi supaya terlihat lebih terpuji saya hanya mengatakannya dalam hati.

Kemudian kita lihat sejarahnya. Dilihat dari sejarahnya setelah menelusuri wikipedia, cuk atau jancuk berasal dari kata Belanda yaitu “yantye ook” yang artinya “kamu juga” dan populer di tahun 1930-an. Ada juga yang berasal dari Bahasa Jepang yaitu “sudanco” yang artinya “Ayo Cepat” dan digunakan pada jaman romusha. Sebenarnya masih banyak juga referensi yang lain di bumi ini, cuma saya lagi malas saja, maafkan ya.

Itulah tadi sedikit opini tentang “Cuk”, apabila ada kesalahan atau baru sadar jika artikel ini tidaklah jelas dan berguna, maka salah anda sendiri tidak menghiraukan himbauan yang saya berikan pertama kali di atas. Wasalam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.