FINDING THE RIGHT LIKES

Sudah beberapa tahun semenjak era manusia hidup dengan teman pribadi bernama smartphone dimulai. Beberapa kebiasaan manusia banyak yang mengalami pergeseran, mulai dari kehidupan sosial, productivity, entertainment, dll. yang pengen gue bahas adalah dari sisi sosial.
Semenjak beberapa tahun memakai gadget canggih berisi aplikasi social media hidup gue memiliki pola baru dalam bersosial. untuk menunjukkan bahwa lu “ada”, “exist” di dunia sosial gue jadi terdorong memposting semua hal yang menyangkut hidup gue dan mengikuti arus trend sosial . gue terseret arus ini dan sampai di suatu titik gue merasa gue bangun setiap hari mencari buttons like, love, atau gambar gambar tersenyum mungil dari apa yang gue posting tentang hidup gue. gue mencari likes dari orang yang bahkan gak gue kenal, bahkan orang yang mungkin tidak sebegitunya peduli dengan hidup gue. ataupun mereka memencet tombol likes bukan karena mereka menyukai nya, mungkin mereka juga ingin gue melakukan hal yang sama terhadap post mereka? I don’t know, but, gue merasa bahwa hidup gue menjadi sempit. gue menunjukkan gue tertawa di dunia maya terhadap sesuatu yang bahkan mungkin ga membuat gue tersenyum di dunia nyata. Gue terdistraksi dengan hal hal yang menyangkut orang lain dan itu mempengaruhi hidup gue. sampai suatu saat gue meletakkan kotak kecil bernama smartphone dan melihat sekeliling gue,
Hidup gue tidak semeriah itu.
gue bertanya dalam hati : “inikah yang gue cari?”
Gue pernah baca bahwa director film keren yang sangat gue suka filmnya, Nolan,itu bisa membuat karya terbaiknya hingga berkali kali meraih box office, bahkan tidak mempunyai handphone bahkan sebuah email pun tidak. mitra bisnis nya pun harus menggunakan notes,surat, dan hal old school lainnya untuk berkomunikasi dengannya. Nolan beralasan hal ini ia lakukan agar dirinya tidak terdistraksi dari pekerjaannya dan ia ingin berinteraksi secara langsung dengan manusia, dengan orang orang yang bekerja dengannya, dengan keluarga, dan orang orang yang disayanginya. Berkaca dari itu gue memutuskan untuk mengurangi banyak aplikasi sosial media yang gue punya di HP gue. dan gue memutuskan hidup gue tidak lagi mencari “likes” dari dunia maya, tapi “likes” dari dunia nyata dan orang yang tepat. yaitu orang orang yang gue sayangi dan terus men support gue. gue taruh HP gue dan gue menyempatkan waktu menemui orang tua gue untuk sekedar berkata hai dan menanyakan kabar. Gue pergi keluar menemui sahabat-sahabat baik gue, gue juga tidak lagi memposting foto pekerjaan gue untuk memberitahu orang lain bahwa gue benar2 bekerja. gue bahkan tidak memegang gadget dan tidak sempat melihat nya saat nge date dengan pacar gue.

Is it worth it?

menurut gue iya, karena so far gue merasakan perubahan yang luar biasa di hidup gue. gue gak menyarankan kalian yang baca buat ngehapus sosmed kalian. tapi yang gue harapkan dari kalian sesudah membaca tulisan ini adalah :
Taruh lah gadget kalian, temui orang orang yang berarti di hidup kalian secara personal, di dunia nyata. spend time with them more than kalian memandangi jendela dunia fantasi yang banyak kepalsuan di dalamnya. Lakukan sesuatu untuk mereka. Bahagiakan mereka.
Find the right “Likes” fellas

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.