Catatan Guangzhou

Mengapa suka minum teh?

www.echinacities.com

Layaknya warga Inggris yang memiliki budaya Tea Time, warga di Guangzhou juga memiliki budaya serupa. Aktifitas minum teh dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Warga setempat menyebutnya 茶叙会 (cha xu hui), atau yang berarti ‘waktu untuk mengobrol dan ngeteh’.

Teh diseduh dengan pot dan gelas keramik berukuran kecil. Jenis teh yang diminum bermacam-macam, mulai dari teh hijau, teh bunga, teh Dewi Kwan Im, dan sebagainya. Karena itu, tidak sulit menemukan kursi kecil dengan meja bulat di depan warung makan atau pelataran kecil rumah-rumah penduduk. Ruang kecil itulah yang menjadi lokasi Tea Time ala Guanghzou.

Mengapa ada budaya ini?

Salah satu warga mengatakan, kebiasaan minum teh di kota ini diawali oleh kumpulan masyarakat yang tidak lagi produktif untuk memiliki banyak aktifitas. Sebut saja, menganggur, tidak bekerja, atau tidak bersekolah. Kerana itu, tidak heran, dari segitu usia, kegiatan minum teh didominasi oleh orang tua.

Dengan kata lain, banyak masyarakat usia non produktif di Guangzhou, yang punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan minum teh tiap pagi dan sore hari, sembari menikmati sekantong kwaci.

Sebagai informasi, selain orang tua, Tea Time juga didominasi oleh ibu rumah tangga. Ngobrol sambil ngeteh memang pas untuk ibu rumah tangga.

Apa iya orang Cina berumur panjang?

Pertanyaan ini murni dari pengamatan saya.

cookiesound.com

Saya tinggal di lingkungan yang asri untuk berolahraga. Pohon memenuhi sepanjangan kawasan kampus. Jalan setapak juga terawat, cocok untuk berjalan kaki atau lari. Lapangan olahraga juga terbuka untuk umum. Biasanya, di depan atau di dekat lapangan, selalu tersedia tiang-tiang untuk latihan fisik. Karena itu, kampus juga seketika berubah menjadi kawasan milik publik setiap akhir pekan.

Untuk ibu rumah tangga di Jakarta atau kampung halaman saya di Pontianak, tiang ini akan dijadikan tiang jemuran. Tapi tidak demikian halnya untuk warga Cina.Bentangan tiang selebar 1,5 meter dengan tinggi variatif, mulai dari 1,5 meter, 2 meter, 3 meter ini dimanfaatkan secara variatif oleh warga.

Misalnya, latihan mengangkat badan dengan menumpukan beban ke tangan yang menggenggam erat tiang (sayang saya belum menemukan fotonya). Untuk golongan ibu-ibu, latihan biasanya dilakukan dengan membentangkan satu kaki ke tiang tertinggi, sambil memijat ujung kaki atau melakukan stretching ringan dengan menundukkan kepala ke ujung kaki. Dua tiang yang dibentangkan sejajar biasa dimanfaatkan untuk push up.

Yang paling mencengangkan, tiang juga dimanfaatkan untuk latihan dengan mengayunkan badan bak bianglala. Bayangkan struktur bianglala yang berputar searah jarum jam, 360 derajat, dengan kecepatan ayunan, demikianlah latihan fisik yang bisa warga Cina lakukan dengan tiang tersebut.

Ajaibnya, pelaku olahraga ini tidak hanya pria usia 30an. Beberapa kali saya melihat latihan tersebut dilakoni oleh pria berperawakan seorang kakek, berambut putih, yang asyik mengayunkan badannya seperti bulatan bola yang diikat pada seutas tali, yang kita putar dengan gampangnya. Hanya orang bertangan sangat kuat yang mampu mengayunkan badannya seperti itu, begitu komentar teman laki-laki saya. Tentu saja, saya setuju.

Saya pernah mendengar cerita bagaimana warga Cina sangat menjunjung tinggi kedisiplinan yang telah dibangun sejak usia sekolah. Di dunia olahraga, hal itu juga yang kerap menjadi sorotan media atas prestasi atlet-atlet Cina yang mencetak rekor-rekor dunia. Disiplin.

Saya rasa tidak perlu menyisakan keraguan terhadap anggapan tersebut lagi. Sang kakek cukup layak menjadi bukti nyatabagaimana disiplin bisa melahirkan kemampuan fisik setinggi kakek.

20 April 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hervinny Wongso’s story.