Bang aswin dan guyonan yang ngangenin
Bang aswin itu salah satu dari puluhan bahkan ratusan orang di jakarta yang jual ayam penyet. Pedes. Jualannya di daerah mampang. Kalau dari arah kuningan mampang itu setelah kuningan, kalau dari ragunan mampang ya setelah ragunan tentu saja. Ini kenapa gue jadi ngomongin mampang sih.
Balik lagi ke bang aswin. Katanya di bang aswin ini jenis sambel yang dibikin ada 2. Versi weekdays sama weekend. Nah gue makan yang versi weekend. Kata mereka (red: arif, fafa) versi weekend biasa aja, ngga kaya versi weekdays. Tapi percayalah, itu semua bohong. Semua sama pedesnya (walaupun gue belum pernah makan versi weekdays).
Yang penting jangan sampai makan bang aswin sambil liat foto mantan yang tunangan. Bisa — bisa pedesnya ngga ketulungan, karena sakitnya tuh sampai disini disini disini disini dan disini *nunjukdadasebelahkiri. Iya ini pengalaman gue sendiri.
Oke segitu dulu tentang bang aswin, lain kali bakalan gue bahas lebih banyak lagi. Kali ini gue mau bahas tentang temen gue yang baru saja hijrah ke kampung halamannya (lagi).
Kenal dulu karena sempet satu project bareng di kantor lama. Ya, dia diassign as junior gue di tim gue. Umur emang junior tapi muka udah kaya senior. Sampai — sampai ada orang yang ngira dia adalah PM (project manager) project gue yang dulu.
Selesai dari project, pertemanan kita masih tetap berlanjut. Karena sama — sama suka kopi. Bedanya ama gue, dia beneran tahu mana kopi enak mana ngga, kalau gue doyan ngopi karena suka sama atmosfer tempatnya biasanya. hehehe.
Doyan ngelawak, tapi mukanya selalu datar tiap ngomong. Saking keseringan ngelawak dengan muka datar sampai ngga bisa bedain, kapan dia ngomong serius kapan dia cuma becanda doang.
Terus apa hubungannya kehijrahan dia dengan bang aswin???
Pertemuan kita terakhir saat final perebutan juara ketiga piala dunia 2018. Kenapa bukan final??? Karena final jatuh di hari minggu, anak — anak pada cupu kalau nobar final di hari minggu takut senin pada kesiangan. Jadilah sabtu itu dibuka dengan makan bersama bang aswin. ehem, maksudnya bukan makan bareng bang aswin, tapi makan bareng temen — temen makanan dari bang aswin. Mungkin itu adalah untuk kali pertama dan terakhir gue makan bang aswin.
Keluargalah yang jadi alasan utamanya berhenti merantau dan pulang kembali ke pangkuan (istri) kampung halaman. Satu — satunya alasan yang menurut gue udah ngga bisa dibantah lagi, karena mungkin sang istri yang enggan untuk ikutan merantau.
Arif Nugrahanto namanya yang kalau jalan ke mall paling takut ngelewatin mba mba yang jualan obat penumbuh rambut.
Sampai jumpa lagi koh arif, siap — siap nampung gue kalau gue main ke semarang ya.
