Apa Yang Menjadikan Kita Manusia?

photo by Joshua Earle
“I’ve seen things you people wouldn’t believe. Attack ships on fire off the shoulder of Orion. I watched C-beams glitter in the dark near the Tannhäuser Gate. All those moments will be lost in time, like tears in rain. Time to die.”

Kutipan di atas berasal dari film klasik Blade Runner (1982). Kata-kata itu diucapkan oleh android bernama Roy Batty, menjelang kematiannya. Menurut saya, itu salah satu solilokui paling menggugah dalam film. Kutipan itu mempertanyakan eksistensi hidup kita sebagai manusia.

Belakangan saya berpikir tentang segala yang akan kita tinggalkan ketika mati. Apa yang terjadi saat saya mati? Siapa yang akan mengurus mereka yang saya sayangi? Apa yang akan terjadi pada mereka? Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak bisa menghindar saat waktunya tiba. Kematian sama nyatanya dengan hidup. Kita lahir, lalu akan mati.

Tapi apakah makna dari hidup itu sendiri? Jejak apa yang kita tinggalkan di dunia? Apa yang membuat kita manusia? Namun sebenarnya, apa yang lebih manusiawi daripada ketakutan akan kematian? Tapi apa yang sebenarnya kita takutkan?

Sebagai manusia, kita pernah melihat Tannhäuser Gate versi kita sendiri, dan ketika kita mati, kita membawa apa yang kita lihat itu ke liang kubur. Dan itu menggelisahkan. Apakah manusia adalah semacam bintang? Yang baru bisa dilihat sinarnya ketika mati?

Kematian, bagi saya, juga berkaitan erat dengan penyesalan. Tentang segala hal yang tidak sempat saya lakukan. Bahkan dukacita ketika ditinggalkan orang yang saya sayangi biasanya lebih berkaitan dengan rasa sesal karena tidak melakukan apa yang sudah tidak bisa saya lakukan lagi bersama orang itu. Kehilangan kesempatan menciptakan momen dengan orang yang sudah meninggal.

Mustahil untuk tidak berpikir tentang kematian ketika kita masih bernapas. Namun, sayangnya dalam hidup, kadang kita terlalu fokus pada apa yang terjadi setelah kematian, sehingga kita lupa bahwa saat kita masih bernapas itulah yang penting. Pada saat itulah, kita bisa menghasilkan momen-momen dalam narasi kehidupan. Momen-momen yang berharga, walaupun ketika kita mati nanti, lenyap seperti air mata dalam hujan.

“But when you’re gone, who remembers your name? Who keeps your flame?” — Lin-Manuel Miranda, Hamilton Musical

Tulisan ini juga dimuat di: www.hetihrusli.com