Tak Apa Menjadi Bukan Siapa-siapa

Miftaahul Jannah
Jan 10 · 4 min read
Ilustrasi tak apa menjadi bukan siapa-siapa

Satu hal yang saya sadari tatkala sebuah dimsum ayam dengan saus pedas yang agak sedikit encer memasuki mulut saya adalah tak apa menjadi bukan siapa-siapa. Saat itu saya menahan air mata untuk tidak berjatuhan. Saya tidak ingin orang-orang melihat sisi saya yang lemah ini. Saya harus terlihat kuat, atau setidaknya, begitu yang dikatakan oleh orang tua saya. Namun uluran tissue yang diberikan senior saya memecah dinding yang selama ini saya buat. Kata-katanya menusuk hati saya, dan akhirnya membuat saya menjadi manusia kembali. Sambil menepuk pundak saya secara perlahan, mereka memberi saya kehangatan dan tempat aman bagi saya. “Keluarin aja, Mips, jangan ditahan biar tenang semuanya.”

Sebenarnya untaian kata yang diberikan senior saya itu cukuplah sederhana. Sesederhana perkataan “Ayo makan dulu.” Namun entah mengapa malam itu menjadi belati yang menusuk hati. Ini semua mungkin karena saya baru saja lulus dan belum ada kejelasan pasti tentang kehidupan. Sehingga saya merasa ekspektasi orang sekitar sedang mencekik saya secara perlahan. Sampai akhirnya saya terjerumus dengan pikiran-pikiran saya sendiri.

Maksud saya begini, Siapa sih hari gini yang tidak dibebani oleh ekspektasi? Tentu saja, bukan saya. Tapi jika kamu, yang membaca saat ini, merasa bahwa kamu tidak pernah dibebani oleh ekspektasi, maka selamat! Kamu adalah orang yang merdeka. Sebab sepertinya, saya bukanlah orang yang merdeka. Padahal kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Ya-kan? Oh iya, tapi lupa! Saya-kan bukan bangsa. Saya hanya individu yang kebetulan berkebangsaan.

Saya yang anaknya masih sok asik dan mencari pembenaran atas pemikiran yang saya pikirkan, mulai mencari alasan logis kenapa ekspektasi untuk menjadi ‘siapa’ selalu membebani saya.

Menurut Jeffrey Arnett, seorang peneliti dan profesor psikologi di Universitas Clark, Massachusetts, menyebutkan bahwa mereka yang berada pada umur 18 sampai 29 tahun berada dalam demografi yang disebut sebagai emerging adulthood. Demografi yang sangat spesifik ini memiliki karakteristik yang amat teramat menyedihkan namun menarik untuk diangkat sebagai objek penelitian. Ya, mereka adalah kita. Orang-orang yang setengah mati ingin menjadi mandiri dan berani menjelajahi kehidupan.

Dalam kata lain, mereka yang termasuk dalam populasi ini adalah mereka yang terpaksa untuk meninggalkan posisi bergantung pada orang lain seperti saat masa kanak-anak. Namun, belum siap untuk mengambil tanggung jawab sepenuhnya sebagai orang dewasa. Alhasil mereka harus siap mencoba berbagai macam pilihan dalam kehidupan.

Terdengar sangat familiar sekali bukan? Ya, tentu saja. Soalnya kita berusaha sebisa mungkin untuk menjadi mandiri. Atau terlihat mandiri. Walaupun dalam hati kita masih ingin gegoleran di kasur tanpa harus memikirkan apapun. Tapi nyatanya, kita merasakan keresahan dalam berbagai hal kehidupan. Seperti: Kapan punya pacar? Kapan bisa dapat pekerjaan yang stabil? Atau kapan jadi kaya agar bisa kasih makan kucing kesayangan dengan Royal Canin? Ketidaksiapan dan keterpaksaan itulah yang seakan-akan membuat kita seperti didorong ke lubang tanpa dasar.

Ditambah lagi, sebagian besar dari emerging adulthood memiliki sedikit hingga tidak sama sekali support system yang baik. Namun dalam perihal ekspektasi, mereka, emerging adulthood, dibebani oleh ekspektasi yang besar dari lingkungan sekitar dan dirinya sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Benbenishty and Schiff (2009), yang kemudian disadur oleh Yafit Sulamani-Aidan (2016) dalam artikel berjudul Future Expectations as a Source of Resilience among Young People Leaving Care, menyatakan bahwa ekspektasi masa depan membuat para emerging adulthood merasa tertekan, termasuk ketika dihadapkan dengan tantangan-tantangan baru. Hal ini tentu saja disebabkan atas tidak adanya bekal yang cukup secara mentalitas dan secara support system sosial yang baik.

Dan dalam artikel yang sama juga menitikberatkan bagaimana seorang emerging adulthood mencoba untuk coping dalam ekspektasi dan kehidupannya dengan berbagai cara. Ya, contoh yang paling gampangnya ya, saya. Salah satu coping mechanism saya adalah dengan main games dan trolling orang di grup chat yang saya ikuti.

Atau sebut saja, Mas Andre, teman sepermainan saya, yang mempunyai coping mechanism dengan mengikuti aplikasi kencan dan anonimus seperti Tinder, OkCupid, dan Whisper untuk mencari tambelan hati. Ya syukur-syukur bisa dapet teman bobo cantik semalam.

Mereka yang memiliki dan dibebani oleh ekspektasi tinggi, biasanya memiliki kelemahan dalam prestasi akademik dan kesehatan mental. Sedangkan mereka yang mempunyai pemikiran optimis tentang masa depan menghasilkan opini positif terhadap ekspektasi masa depan.

Lalu saya jadi berpikir, ya kan, tentang bagaimana pemikiran optimis dibentuk bagi emerging adulthood ini. Dengan harapan saya ingin mempunyai sudut pandang positif yang akan menghasilkan dampak baik terhadap masa depan saya.

Ternyata dalam penelitian lain yang juga disadur oleh Yafit, pandangan optimis itu lahir dari adanya support sistem dan akses untuk pengembangan diri. Huff, lagi-lagi intinya adalah memiliki support sistem yang baik. Dalam kata lain, seharusnya ekspektasi ada diiringi dengan support sistem yang baik dalam segi sosial maupun fasilitas.

Nyatanya dari berbagai banyak riset yang mencoba mencari pembenaran atas hipotesa tentang kehidupan, saya menyimpulkan bahwa tak ada orang yang siap menghadapi hidup. Bahkan walaupun memiliki sistem dukungan yang baik, ekspektasi tetaplah ekspektasi yang mencekik jika hanya untuk memenuhi harapan masyarakat. Dan bagi orang seperti saya yang terlalu gemar berpikir hingga menjadi toksik, ekspektasi bisa menjadi racun yang bisa membunuh diri saya secara perlahan. Padahal, ekspektasi lahir karena adanya harapan dan harapan timbul karena adanya keinginan untuk menjadi lebih baik.

Lantas apakah saya tidak ingin menjadi lebih baik?

Tentu saja saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi. Tapi mungkin bukan dengan memenuhi ekspektasi orang-orang disekitar saya yang menginginkan saya menjadi siapa-siapa. Mungkin saya menjadi lebih baik dengan menjadi seorang figuran pada cerita orang lain. Orang yang hanya sekedar lewat untuk memberi tahu si pemeran utama jalan mana yang benar. Mungkin dengan seperti itu saya akan menjadi lebih bahagia dan lebih baik. Tak ada yang tahu, karena hidup bukan perihal salah dan benar. Tapi menurut saya hidup adalah perihal memaknai dan mengapresiasikan diri sendiri.

Bersenang-senanglah kawan. Menjadi bukan siapa-siapa kadang semenyenangkan itu dibanding menjadi siapa-siapa!

Written by

A writer that want to be a writer. She has interest in Women, empowerment, science, food, technology, game, entertainment, and mindfulness.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade