#EKONOMIKELEMBAGAAN5 : Teori Kontrak dan Tindakan Kolektif

Credits : http://www.navratriwishesz.in/wp-content/uploads/2016/04/May-Day-Pictures-3.jpg

Posisi tawar-menawar (Bargaining Position) dan kepemilikan informasi kerapkali tidak setara. Akibatnya, keuntungan dan kerugian pada pelaku aktivitas ekonominya tidak sama. Teori kontrak dan tindakan kolektif berperan membantu membuat aturan main tersebut. Mempelajari teori ini diharapkan bermanfaat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kontrak dan mengetahui posisi kita sebagai pelaku ekonomi.

Teori Kontrak dan Informasi Asimetris

Biaya transaksi adalah basis unit analisis kontrak atau transaksti tunggal antara dua pihak dalam hubungan ekonomi. Umumnya, kontrak menggambarkan kesepakatan antara kedua pihak pelaku dalam melakukan tindakan yang memiliki nilai ekonomi dengan tindakan balasan atau pembayaran. Terdapat lembaga hukum yang berperan sebagai agen penegakan kontrak dari luar yang mengatur kontrak, walaupun kinerja lembaga hukum seringkali mendapatkan hambatan.

Konsep kontrak pada NIE berbasis pada hak kepemilikan. Sedangkan, teori neoklasik mengasumsikan kondisi lengkap dapat dibuat tanpa biaya. Faktanya, pembuatan dan penegakkan pada kontrak komplet sangat sulit terjadi tanpa adanya biaya. Kontrak selalu tidak lengkap pada kenyataannya dengan dua alasan,

1. Adanya ketidak pastian yang menyebabkan muncuknya biaya untuk mengetahui dan mengidentifikasi kemungkinan ketidakpastian itu sendiri.

2. Kinerja kontrak khusus yang kerapkali membutuhkan biaya dalam melakukan pengukuran.

Adanya ketidaklengkapan dari kontrak yang eksplisit pun membutuhkan biaya kehadiran “biaya sewa semu” yang digunakan perusahaan untuk melakukan investasi.

Faktor ketidakpastian di atas dapat ditandai dengan adanya informasi asimetris dalam kegiatan ekonomi. Informasi asimetris ini sendiri menggambarkan adanya ketidaksetaraan informasi yang dimiliki antarpelaku ekonomi. Semakin besar ketidaksetaraan tersebut maka semakin besar pula usaha yang dikerahkan dalam menyusun kontrak yang lebih komplet.

Terdapat tiga jenis kontrak menurut ekonomi modern, yaitu

1. Teori Agensi

Terdapat dua pelaku yang berhubungan, yaitu prinsipal dan agen. Prinsipal mempekerjakan agen untuk melayani kebutuhan prinsipal. Dalam hal ini, terdapat informasi asimetris dimana prinsipal tidak mengamati secara langsung tindakan agen ( hidden action) dan agen membuat beberapa pengamatan yang tidak dilakukan prinsipal (hidden information).

2. Teori Kesepakatan Otomatis

Tidak seluruh hubungan atau pertukaran dapat ditegakkan secara hukum. Hukum memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak pelaku ekonomi. Oleh karena hukum itu sendiri tidak sempurna dan informasi yang relevan dapat saja tidak diverifikasi oleh pengadilan.

3. Teori Kontrak Relasional

Kontrak ini tidak bisa menghitung keseluruhan ketidakpastian di masa depan, tapi hanya kesepakatan di masa silam. Kontrak ini bersifat implisit, informal, dan tanpa ikatan. Maka, penegakan otomatis pada kontrak ini berperan penting. Seringkali ditemui pada struktur hubungan transaksi yang longgar. Pemecahan masalah pada jenis kontrak ini seringkali diselesaikan melalui kerjasama imbang dan pemaksaan atau koersi, bukan melalui pengadilan.

Mekanisme Penegakan dan Instrumen Ekstralegal

Terdapat empat aspek yang membedakan kontrak, yaitu jangka waktu, deajat kelengkapan, insentif, dan prosedur penegakannya. Mekanisme penegakan akan menjadi rumit apabila terdapat rasionalitas terbatas sehingga bukan hanya perlu membuat aturan baru. Namun, lebih lanjut penting untuk menegakkan aturan-aturan yang sudah ada.

Pilihan Rasional dan Tindakan Komunikatif

Tindakan kolektif ini berguna untuk mengupas masalah kepentingan kelompok dan mengatasi masalah penunggang bebas. Determinan penting atas keberhasilan tindakan kolektif ini ditentukan oleh ukuran, homogenitas, dan tujuan kelompok. Tindakan kolektif di dunia nyata seringkali terlihat pada perilaku memilih (voting behavior), perilaku protes (protest behavior), formasi negara (state formation), pertumbuhan organisasi (the growth of organizations), bahkan altruisme (altruism). Altruism sendiri konsepnya adalah berusaha untuk mendahulukan kesejahteraan orang lain, baru dirinya sendiri (atau bahkan tidak sama sekali).

Teori pilihan rasional memiliki dua pendekatan, yaitu pendekatan kuat (strong approach) yang memandang kelembagaan sebagai produk dari tindakan rasional kemudian menyebabkan munculnya analisis pilihan rasional; dan pendekatan lemah (weak approach) yang menempatkan rintangan sosial dan kelembagaan sebagai suatu kerangka yang pasti ada (given framework) karena aktor-aktor dengan pola pikir yang rasional berupaya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan menekan biaya serendah-rendahnya. Jika pendekatan kuat menilai mereka sebagai produk, maka pendekatan lemah menilai mereka sebagai kerangka.

Studi Kasus

Credits : cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/1038411/big/083870100_1446193612–20151030-Demo-Buruh-Jakarta1.jpg

Persatuan buruh yang turun ke jalan setiap 1 Mei merupakan salah satu bentuk tindakan kolektif. Tentunya, demo buruh ini termasuk pada tindakan kolektif dalam bentuk perilaku protes. Selain itu, buruh juga erat kaitannya dengan kontrak relasional antar buruh dengan perusahaan. Umumnya, pemerintah akan berperan sebagai pihak ketiga dalam memberikan jalan tengah yang adil bagi perusahaan dan buruh itu sendiri.

Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta. Erlangga.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.