Berhenti Mengusiknya.

Gerimis…..

Ia pun langsung mencari tempat yang teduh dengan langkah santai sementara orang di sekelilingnya sibuk berlarian mencari tempat yang tak terkena air hujan. Sepertinya Ia tak peduli lagi dengan hujan, mungkin pikirnya tetap sama, hujan tetap saja bening.

Seperti biasanya, Ia tidak pernah berubah. Sikapnya masih dingin, Ia hanya akan menjawab pertanyaanku seperlunya. Saat aku berada di dekatnya Ia juga tak akan bercerita banyak hal kepadaku. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sekilas untuk sesuatu yang Ia sukai selebihnya Ia memilih menjadi pendengar yang baik atau tidak berkomentar sama sekali.

Suatu waktu aku pernah bertanya perihal hujan kepadanya. Dan tak kusangka Ia menjawab agak panjang, walaupun masih dengan sikapnya yang dingin.

“Hujan hanyalah permainan awan dan kroni-kroninya untuk menciptakan suasana bumi menjadi mendadak melankolis untuk manusia-manusia yang hatinya tengah teriris.” Katanya.

Sejak saat itu kuputuskan untuk berhenti mengusiknya ketika hujan. Karena, ia akan lebih sering terdiam dalam kesunyian. Namun, aku mengerti bahwa di dalam hatinya tengah terjadi kegaduhan yang bahkan belum mampu Ia redam.

Orang-orang berkata bahwa mencintai seorang introvert akan membuatku kelelahan. Katanya, banyak ruang-ruang sunyi di pikirannya yang sulit untuk kujangkau. Namun, perasaanku masih sama, seperti beberapa tahun saat pertama kali mengusiknya. aku tidak pernah mendobrak maupun memaksanya memasukkanku dalam ruang-ruang rahasia di pikirannya. Aku memilih untuk menciptakan ruang baru yang bisa membuatnya nyaman untuk berbagi keresahan dan kegundahannya bersamaku.

Tiba-tiba lamunanku terpecah.

“Hujan sudah berhenti, ayo kita pergi” katanya sambil menggandeng tanganku menelusuri jalanan basah berwarna abu-abu pekat. Tangannya terasa makin dingin bertolak belakang dengan sikapnya yang perlahan menghangat.