Seribu Hari

Tentang bagaimana cara merayakan kematian.

Seribu hari sudah tante berpulang. Orang yang ketika saya masih kecil, saya anggap selalu merepotkan keluarga, terutama mama. Selepas SMA dia memutuskan untuk merantau dan tinggal di rumah untuk mencari kerja yang menurutnya lebih layak daripada di kampung. Akan tetapi, dia seperti kena cultural shock. Dia kaget dengan lingkungan barunya yang “keras”. Dan celakanya, jatuh cinta dengan seorang preman di daerah tempatnya bekerja. Lengkap sudah. Di masa awal — awal hubungannya dengan kekasihnya itu, dia sudah mengalami kekerasan. Suatu hari mama dihubungi oleh pihak berwajib. Mengabarkan kalau tante saya dipukuli sampai harus masuk rumah sakit. Akan tetapi, namanya sudah cinta dan sekeras apapun perlakuan pria itu kepadanya, akhirnya dia memutuskan untuk menikah dan tinggal bersama. Tamat sudah. Walau mama tidak setuju bahkan tidak sudi untuk datang ke pernikahannya, tante tetap bersikukuh. Dia merasa dia bisa menghadapi apapun yang akan terjadi di kemudian hari. Ya sudah. Mama membiarkannya toh sudah dewasa.

Selama bertahun — tahun, tante masih beberapa kali mengunjungi mama. Bahkan dua minggu sebelum kematiannya, kami masih bertemu dengan cerita darinya yang selalu mengiris hati. Tentang suaminya yang saat itu dipenjara, anaknya yang sangat nakal dan selalu bermasalah di sekolah, hingga keluarga suaminya yang selalu menuntut uang lebih. Hingga akhirnya saat itu saya sudah di Jogja untuk persiapan masuk kuliah, dikabari kalau tante meninggal. Penyebabnya pun kurang saya pahami sampai hari ini. Tepat di hari ulang tahun saya, dia meninggalkan dunia yang sesak dan tidak adil kepadanya.

Sedikit perasaan lega dan kesal. Lega karena akhirnya mama tidak perlu berurusan dengannya lagi. Kesal karena hingga kematiannya masih saja merepotkan keluarga. Saya yang sedari kecil melihat hal — hal itu, merasa kalau memang hidup ini terlampau keras dan fana. Sinisme dalam diri saya tumbuh gara — gara itu. Saya jadi berpikir, dalam hidup memang harus kolektif. Tapi kalau begini terus, siapa yang tahan?

Menghitung kematian.

Di tanah Jawa sendiri, ada tradisi untuk mengadakan tahlilan bagi orang yang sudah meninggal. Umumnya dilakukan pada hari ke-7, 40, 100, dan 1000. Perhitungan pun dilakukan menurut penanggalan Jawa. Kali ini kami sekeluarga merayakan hari ke-1000 di mana ada tradisi syukuran dengan mengadakan tahlilan disertai makanan — makanan tertentu sebagai pendamping, dan juga memoles kuburan dengan membangun sebuah “candi” di atasnya. Candi disini maksudnya si kuburan ini dibuatkan sebuah bangunan dengan nisan baru. Menurut penuturan orang sekitar, tradisi ini terinspirasi dari kebudayaan Hindu yang membuatkan candi dengan salah satu fungsinya yaitu untuk orang yang sudah meninggal sebagai tempat persemayamannya dan pemujaan.

Di acara tahlilan itu sendiri, keluarga saya memasak makanan yang cukup banyak untuk nantinya dibagikan kepada jamaah pengajian dan diantarkan ke rumah — rumah kerabat. Ada beberapa makanan wajib seperti ayam dan kambing. Juga tentang aturan yang menyebutkan kalau makanan yang ada pada hari itu tidak boleh bersisa. Jadilah se-keluarga masak dan makan besar dengan dibantu tetangga dan kerabat sekitar. Untuk pemotongan hewan — hewan sendiri pun ditujukan kepada Tuhan untuk menghindari kesialan dan kebaikan dunia.

Walaupun begitu, saya sedikit merasa ada yang janggal. Pertanyaan tentang mengapa kematian harus dirayakan sedemikian rupa dengan biaya yang tidak sedikit, toh orang yang sudah meninggal tidak bisa mencicipi makanan yang ada. Tapi itulah tradisi.

Sesumbar saya bertanya kepada mama saya; “ma, kenapa sih ada merayakan kematian kayak gini?”,”ya, itulah intinya. Orang yang sudah meninggal gak harus terikat sama urusan duniawi lagi dan biar tenang dan senang di alam barunya, makanya dirayakan. Daripada kita disini masih hidup aja dan gak tahu mau sampai kapan ngejar — ngejar yang fana”,”tapi ma, emang di sana bakal makan ayam sama kambing juga?”,”ya nggaklah. udah, makan aja. Kapan lagi anak kos makan enak?”.

Like what you read? Give Nia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.