Sakit Rindu Dalam Dua Puisi Rusydi Tolareng
Oleh: Slendang Sulaiman
Saya pernah membaca bahwa “kritik sastra memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara karya sastra dengan masyarakat penikmat sastra. Sumbangan pikiran dan analisis kritikus yang baik bisa menimbulkan minat yang menyala-nyala bagi pembaca-pembaca lain untuk membaca karya sastra tersebut.” Jadi saya berfikir setelah membaca lagi dua puisi Rusydi Tolareng untuk kemudian diulas. Sebab ulasan yang akan saya lakukan, diharapkan jadi pemandu bagi pembaca dan bagi si penyair. Maka, saya menulis kritik dengan rasa tanggung jawab dan kejujuran sebagaimana kritikus yang profesional.
Sebab “seorang kritikus tidak akan terbawa hanyut oleh keterpakuannya terhadap apa yang dinikmati dan dihayati atau terbius dan terbuai oleh kesan-kesan belaka sehingga apa yang ditulisnya bukanlah sebuah kritik melainkan rekaman kesan-kesan, atau laporan perjalanan batin di dalam keterbuaiannya dengan kesan-kesan itu.” Maka, saya mencoba mengkritik dengan sedikit pengetahuan saya sehingga malahirkan satu kritik yang rasional.
Dalam hal ini saya mencoba jadi kritikus dengan menggunakan pendekatan struktural terhadap puisi yang saya baca. Jadi, pendekatan structural atau Struktur merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Berikut ini saya mengutip pendapat A. Teew bahwa “analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intrinsik yang dapat digali dari karya itu sendiri (A. Teew. 1984 : 135)
Pendekatan Struktural yang digunakan untuk mengulas puisi Rusydi Tolareng, barang tentu akan menghasilkan gambaran yang (mendekati) jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khias, bait dan baris, emosi, dan ide yang digunakan pengarang dalam menulis puisinya. Di bawah ini akan disajikan dua puisi yang dianalisis berdasarkan pendekatan struktural. Dua puisi dengan tema yang sama yaitu, Rindu. Puisi pertama “Sketsa Rindu”
Kadang aku ingin terjatuh ke cakrawala Mengintip, memanggilmu kembali Bersama angin bisu yang mendebu-membatu Suaramu tahun lalu Dan, sepertinya daun gugur tak memberikan kabar.
Tubuhmu disana Tubuhku disini kehilangan matahari Mataku mencari bayang-bayang Mari kembali, rinduku sudah mulai beruban Sewaktu langit lepas Janjimu menanti di kursi depan Kembalilah Sebelum hujan datang menginjak pasir Mematahkan reranting, menguning lalu pupus Karena kamu, dan kita tak bisa mengulangi sejarah Ia, sejarah tanpa kisah
Jogjakarta, 2012.
Sajak Malam Hari Langit retak Gerhana bintang berganti kunang-kunang Gelombang kandas di pelabuhan Terjatuh kemuka jurang Lantaran jiwa terbakar Jantung berganti jarum jam hari menyanyikan sedih berkisah Dan, rindu memisau di dada Jogjakarta, 2012.
Dalam membaca puisi-puisi di atas akan dimulai dari pembacaan terhadap diksi-diksi atau pemilihan kata yang digunakan oleh si pengarang. Diksi merupakan pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pembaca. Dalam puisi “Sketsa Rindu dan Sajak Malam Hari” di atas, terdapat beberapa pilihan kata sederhana yang digunakan oleh pengarang. Kata-kata yang digunakan oleh penyair sebagian memang mudah dipahami.
Seperti pada bait I pada baris 1 dan 2; “Kadang aku ingin terjatuh ke cakrawala/Mengintip, memanggilmu kembali”.Betapa sangat sederhananya pilihan kata tersebut. Misal si pengarang sedang merasakan kerinduan, maka pembaca sudah dapat merasakannya pula dari dua baris yang dipilihnya. Walaupun, pada kata “Terjatuh” dan “Cakrawala” sedikit sulit untuk diketemukan. Sebab kita sudah sama tahu jika setiap yang jatuh, pasti ke bawah. Sedangkan cakrawala ada di atas. Bagaimana bisa, sesuatu yang ada di bawah dapat jatuh ke atas? Kenapa tidak menggunakan kata “terlempar” ke cakrawala?. Biarpun demikian kenyataannya, bukan berarti setiap pengarang mesti melakukan hal serupa. Bisa jadi si pengarang ketika menulis puisi Sketsa Rindu pada bait I pada baris 1 ingin melahirkan penempatan kata yang baru. Dan berusaha keras untuk merasionalkannya, jika yang dipilihnya kemudian dituliskannya adalah sudah benar. Sebab pada baris ke 2 pengarang dengan sangat sederhanya menggunakan kata, dan dapat dirasakan kemesraannya yang sederhana. Kemesraan yang masih berupa pengharapan si aku lirik dalam puisi atau si pengarang. Hal ini dapat dilihat pada baris ke 3 sebagai penegas terhadap kata “ingin” di baris 1.“Bersama angin bisu yang mendebu-membatu”
Dalam menggunakan kata-kata Bersama angin bisu yang mendebu-membatu angin bisu, pembaca barangkali akan lebih mudah mengetahui makna sebenarnya dari puisi tersebut, bahwa si aku lirik atau si pengarang sedang dalam kesendirian yang akut dan sedang dilanda kerinduan. Mari kita imajinasikan tentang “angin bisu”, “debu” dan “batu”, dari ketiga kata yang dipilihnya itu, menunjukkan keakutan yang dalam, dimana si pengarang atau si aku lirik sudah tidak berdaya oleh rindu yang mengikatnya sehingga ia hanya akan diam sediam-diamnya serupa batu. Dapat dikatakan pula sipengarang sudah mampu menempatkan turunan kata yang sistematis dalam satu baris kalimat. Artinya, menempatkan kata yang bermakna sederhana, ke kata yang bermakna sedang, sampai pada kata yang bermana keras.
Pada baris ke 4 bait I “Suaramu tahun lalu”, Si pengarang memunculkan sebab adanya kerinduan. Sebab atau hal ihwal si aku lirik menjadi sepi sendiri dan menghaayalkan sesuatu yang lampau terjadi kembali. Dan dapat dikapan pula, jika bari ke 4 tersebut hanya ingatan patah yang dipaksakan lahir pada bait I, yang mana pembaca akan menjadi buyar untuk memaknai bait I itu.
Sampai di baris ke 5 “Dan, sepertinya daun gugur tak memberikan kabar”. Kata-kata yang digunakan oleh si pengarang dalam kalimat puisi di atas menggunakan kata-kata yang mengandung unsur perumpamaan, ini bisa dilihat jelas pada kata “daun gugur tak memberikan kabar”. Jika ditautkan dengan baris-baris sebelumnya, maka di baris ke 5 ini, pengarang meberikan isyarat pada pembaca jika harapannya telah sia-sia. Dan pengarang tampak pesimis terhadap yang akan terjadi setelah puisi ini lahir atas kerinduan yang dirasakannya.
Bait II “Tubuhmu disana/Tubuhku disini kehilangan matahari/Mataku mencari bayang-bayang/Mari kembali, rinduku sudah mulai beruban/Sewaktu langit lepas/Janjimu menanti di kursi depan”.Di bait kedua ini dengan enam baris kalimat yang satu sama lain saling terikat dan tak dapat dipisah, pengarang telah menggunakan kata-kata yang metaforik dan penuh dengan diksi-diksi yang beberapa saling bertautan, misal “matahari” dan “bayang-bayang” di baris 2 dan 3 bait II. Keresahan sebab kerinduan kembali lahir disini. Kemudian harapan-harapan “mari kembali” lahir pula di baris 4,5 dan 6. Harapan dengan penegasan adanya rindu terdalam dengan metafor “beruban” dengan optimisme yang dihadirkan dengan kalimat “semwaktu langit lepas”, serta alasan pada objek yang menguatkan kenapa harapan itu mesti terjadi, yaitu pada baris 6 “Janjimu menanti di kursi depan”.
Bait III: “Kembalilah/Sebelum hujan datang menginjak pasir/Mematahkan reranting, menguning lalu pupus/Karena kamu, dan kita tak bisa mengulangi sejarah/Ia, sejarah tanpa kisah”. Kata “kembalilah” yang teramat sederhana dan merupakan kata dengan makna yang sebenarnya menjadi penekanan terhadap pengharapan si perindu dalam puisi Sktsa Rindu. Tetapi, penekanan yang berarti optimesme itu masih terjadi pengulangan adanya keraguan si perindu. Hal itu dapat dilihat di baris selanjutnya “sebelum hujan datang menginjak pasir/mematahkan reranting, menguning lalu pupus”, apa hubungannya sebuah pertemuan dengan hujan yang kaki-kakinya menginjak pasir kemudian mematahkan reranting, menguning lalu pupus?. Ada. Kalimat tersebut merupakan syarat dan batas kapan pertemuan itu mesti berlangsung. Hanya saja, di bait ke III ini si pengarang ditak konsisten dalam menggunakan diksi. Sebab bertentangan dengan pemilihan kata yang digunakan pada bait ke I dan II. Apalagi bila ditautkan dengan dengan baris ke 4 dan 5, seolah struktur bangunan dair puisi sketsa rindu di buyarkan lagi tanpa bekas di benak pembaca. Walaupun kalimat-kalimat itu dapat dipahami maknanya wahwa setiap kita tidak dapat mengulangi sejarah. Dan lebih kacaunya lagi, kata-kata “sejarah tanpa kisah” yang dijadikan definisi akhir oleh sipengarang telah meruntuhkan sekian keutuhan dalam puisi Sketsa Rindu.
Hal serupa juga terjadi pada puisi ke dua; Sajak Malam Hari. Bait I: “Langit retak/Gerhana bintang berganti kunang-kunang/Gelombang kandas di pelabuhan/Terjatuh kemuka jurang”. Pemilihan kata yang begitu rumit di sini, kata-kata benda dari alam hampir semuanya ingin dimasukkan ke dalam bait I Sajak Malam Hari. Diksi dari benda-benda yang nampak secara kasat mata, dengan makna yang beragam, mulai dari “langit retak”, “gerhana bintang” yang berganti “kunang-kunang”, “gelombang” yang kandas di “pelabuhan” kemudian “terjatuh” kemuka “jurang”, menjelma satu bangun bait yang sama sekali tanpa pemaknaan yang utuh. Misal ingin merujuk pada judul, maka pada bait I itu, pengarang semacam selesai melakukan perjalanan panjang pada sebuah malam.
Jika akan divisualkan menjadi satu perjalanan yang dipenuhi keresahan si pengarang, walaupun tanpa terdapat subyek si “aku lirik”, bait I tersebut merupakan kesimpulan dari sebuah perjalan imajiner. Pertama, berdiri di bawah langit, tengadah dan melihat langit retak dan diwaktu yang bersamaan terjadi gerhana bintang yang tiba-tiba menjelma kunang-kunang. sesampainya di pelabuhan, tak ada gelombang, berarti sebuah kempaan yang berujung pada sebuah jurang.
Memang diksi-diksi yang dipertemukan oleh si pengarang, sulit dinalar oleh (mungkin) kaum pembaca yang budiman. Pertama, “gerhana bintang” ini sulit sekali untuk diimajinasikan kembali, sebab belum ada dalam kehidupan tata surya terjadinya gerhana bintang. Dan betapa sakitnya si pengarang dalam mencari diksi semacam itu, bintang-bintang yang bertaburan dan tak terhitung jumlahnya oleh mata manusia, tiba-tiba tanpak gerhana di mata si pengarang dan kemudian menjelma kunang-kunang (kunang-kunang langit, kunang-kunang mata, atau kunang-kunang yang sebenarnya). Kedua, gelombang yang kandas di pelabuhan dan kemudian terjatuh kemuka jurang. Penempatan diksi tersebut, hampir benar dan dapat dikatakan sudah benar sebanar-benarnya menurut perjalanan imaji atau sebuah khayal si pengarang yang pecah-pecah dalam “Sajak Malam Hari”, sebuah sajak yang sulit mencari subyeknya.
Pada Bait II: “Lantaran jiwa terbakar/Jantung berganti jarum jam/hari menyanyikan sedih berkisah/Dan, rindu memisau di dada”.Pada bait II ini, mulai memunculkan subyek dengan malu-malu, yakni ialah sang jiwa yang terbakar dengan jantung yang berganti jarum jam. Sampai di sini, kesakitan si pengarang dalam mencari diksi melalui perjalanan imjinernya semakin jelas. Sebuah perjalanan yang entah bagaimana si pengarang melewatinya di sebuah malam yang benar-benar malam dan mengungkunnya, hingga lahirlah Sajak Malam Hari. Tetapi, kenapa mesti timbul diksi “hari menyanyikan sedih berkisah” yang maknanya sangat ambigue.
Baris ke 3 bait II ini, sesak sekali oleh rangkaian kata-kata yang sulit untuk dipahami dengan satu pemaknaan utuh. Terkecuali jika kalimat tersebut akan dipecah, misalnya dengan hanya “hari menyanyikan sedih” yang waktunya di malam hari. Maka SPO-nya jelas: Hari/subyek, menyanyikan/predikat, dan sedih/objek, dengan tanpa keterangan, sebab berkisah tidak cukup syarat menjadi keterangan. Terkecuali jika “hari menyanyikan sedih” jadi satu suku kata dan “berkisah” sebagai kata kerjanya atau predikatnya, tetapi tanpa objek. Sampai pada baris terakhir bait II ini, si pengarang baru muncul sebagai dada, renungkanlah ini “dan, rindu memisau di dada”. Betapa sakitnya dada itu atau si pengarang itu sendiri karena rindu yang mengeratnya.
Dengan lain kata, Sajak Malam Ini hanya ingin mentakan tentang sebuah rindu yang dialami oleh si pengarang. Rindu yang menyayat si pengarang dalam perjalanan imajinernya, sahingga simbol-simbol yang dihadirkannya juga penuh luka-luka sampai tak terbentuk.
Selanjutnya, kedua puisi di atas akan dilihat cara Pengimajian (citraan)nya. Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan. Pada puisi “Sketsa Rindu dan Sajak Malam Hari” pengimajian yang digunakan oleh pengarang terdapat pada: Citraan Penglihatan terdapat pada, Pertama, “sepertinya daun gugur tak memberikan kabar”, Kedua, “Langit retak” dan ketiga, “Gerhana bintang berganti kunang-kunang/Gelombang kandas di pelabuhan/Terjatuh kemuka jurang.” Sedangkan Citraan Pendengarannya terdapat pada; Pertama, “Bersama angin bisu yang mendebu-membatu/Suaramu tahun lalu” dan Kedua, “hari menyanyikan sedih berkisah”. Selain itu masih ada yang dapat dimasukkan ke dalam kedua citraan yang dituliskan di sini. Pencitraan yang sesuai dengan penggunaan dan fungsinya.
Setelah melewati diksi dan pengindraan disini akan disebutkan terkait dengan Kata-kata Konkret dalam kedua puisi di atas. kata konkret yang dimaksud adalah kata-kata yang dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh. Pengonkretan kata berhubungan erat dengan pengimajinasian, pengembangan dan pengiasan. Pada puisi “Sketsa Rindu” kata konkret terdapat pada: Pertama, “Bersama angin bisu yang mendebu-membatu”, Di mana si pengarang di sini menghiaskan bahwa dirinya yang tersiksa dalam kesendirian kemudian hanya diam tersebut disamakan dengan angin bisu, debu dan batu. Kedua, “Dan, sepertinya daun gugur tak memberikan kabar” dalam hal ini si penyair mencoba menghiaskan atau mempersamakan daun dengan manusia yang bisa memberi kabar. padahal daun tentu tak bisa bicara. Ketiga, “rinduku sudah mulai beruban”, kata uban yang dijadikan sebagai kata hiasan sebenarnya sudah digunakan oleh pengarang sebelumnya, tetapi dalam puisi sketsa rindu, si pengarang menggunakannya untuk usia rindu yang panjang, rindu yang bagi si pengarang sudah tak dapat ditahan lagi untuk sebuah pertemuan dengan si objek atau yang sedang dirindukan.
Sedangkan pada “Sajak Malam Hari”, terdapat pada: Pertama, “Jantung berganti jarum jam” dan kedua, “Dan, rindu memisau di dada”. Si pengarang telah mencoba untuk mengibaratkan rasa sakitnya sebab kesendirian dalam kerinduan yang berkepanjangan dengan kata kiasaan “jarum jam” dan rindu yang “memisau”.
Selain menggunakan pembacaan terhadap diksi, pengindraan dan kata konkret yang erat kaitannya dengan pengimajinasian, pengembangan dan pengiasan. Kedua puisi di atas akan dianalisis pula berdasakan Struktur Batin si pengarang. Pertama, terkait dengan tema atau gagasan pokok yang dikemukakan oleh si penyair. Pada puisi “Sketsa Rindu” penyair menggunakan tema kerinduan, karena terdapat pada beberapa bait sang penyair mengatakan rindu atau sang penyair ingin bertemu dengan objek yang dirindukan kehadirannya saat si penyair sedang sendiri. Begitu pula dengan yang terjadi dalam “Sajak Malam Hari”, si penyair sebenarnya juga ingin mengemukakan tentang rasa rindunya dalam puisi. Rindu yang kemudian tidak secara mendalam dilukiskan dalam kedua puisi tersebut.
Kemudian tentang perasaan (feeling), suasana perasaan sang penyair yang diekspresikan dan harus dihayati oleh pembaca. Pada puisi “Sketsa Rindu” dan “Sajak Malam Hari” sang penyair merasakan kesendirian yang akut dan ingin segera menunaikan pertemuan. Seiring dengan optimisme dan perasaan pesimis akan peristiwa yang diinginkannya itu, yakni pertemuan.
Tetapi bagaimana dengan suasana yang dibangun oleh si penyair dalam kedua tersebut. Dalam hal ini tentu akan bertautan dengan keadaan jiwa para pembaca setelah membaca puisi-puisi tersebut. Apakah para pembaca telah bisa merasakan kedua puisi si penyair? Atau apa yang diungkap oleh si penyair dalam kedua puisinya, melahirkan suasana berbeda di hati para pembaca?. Pertanyaan ini tentu akan terjawab setelah bedah puisi-puisi ini berlangsuh. Selain dari pada itu, penting pula untuk disinggu terkait dengan amanat yang merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Bagaimana sebenarnya, si penyair menulis puisi-puisinya? Seperti pada “Sketsa Rindu” dan “Sajak Malam Hari” dapat ditemukan amanat yang terkandung di dalamnya, yaitu : setiap diri manusia yang dilanda rindu, tentu akan mengalami diri yang sepi dan seolah-olah hidup dalam kesendirian. Apalagi bagi si pengarang, kerinduan yang dialaminya telah menjelma puisi-puisi yang tak kalah sakitnya untuk dibaca sebagaimana rasa sakit yang dialami si penyair dalam kerinduannya.
Blandongan, 8 november 2012 #21:12