Masa Depan Institut Teknologi Bandung
Institut Teknologi Bandung memang sewajarnya bersyukur menjadi perguruan tinggi peringkat pertama menurut Kemenristek Dikti yang dirangking dari 3320 PTN dan PTS se-Indonesia pada Agustus 2015 lalu. Hal ini ditinjau melalui 4 komponen yaitu kualitas sumber daya manusia, kualitas manajemen, kualitas kegiatan mahasiswa, serta kualitas penelitian dan publikasi.
Hal yang menarik adalah ITB mendapatkan nilai terbaik pada kualitas penelitian dan publikasi. Artinya, institut ini memberikan sumbangan publikasi terbanyak se-Indonesia yang bisa dilihat pada kompilasi hasil data Scopus oleh Prof. Hendra Gunawan, guru besar prodi Matematika ITB. ITB telah mengeluarkan 5033 publikasi per 4 Januari 2016 dimana nilai tersebut jauh mengalahkan Universitas Indonesia (UI) pada urutan ke-dua dengan 4123 publikasi dan diikuti Universitas Gadjah Mada (UGM) sebanyak 2741 publikasi pada urutan ke-tiga.
Riset dan Publikasi
Bolehlah kita berbangga hati jika hanya melihat nama besar ITB di dalam negeri. Namun Prof. Mikrajuddin Abdullah, guru besar prodi Fisika ITB menyarankan untuk sesekali berkaca pada negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia) menghasilkan sekitar 4 kali lipat dari publikasi terbanyak di Indonesia (ITB-red) sebesar 22692. Apalagi jika dibandingkan dengan NUS (National University of Singapore) yang jumlah publikasinya jauh lebih tinggi lagi, ITB sudah sangat jauh tertinggal. Menurut Beliau, jika trend jumlah publikasi hampir tetap maka dalam 10 tahun ke depan, ITB ibarat pengendara sepeda yang ingin lomba balapan dengan mobil avanza dan formula 1; dengan mobil formula 1 start terdepan, mobil avanza start di posisi kedua, dan sepeda start jauh di belakang.
Artinya apa? Menurut Prof.Mikrajuddin, jika kita hanya mengejar keterpandangan perguruan tinggi di level internasional, ITB akan semakin tenggelam. ITB tetap berada di posisi teratas di Indonesia, tetapi di tingkat ASEAN, ITB semakin tak berdaya. Itu terjadi jika trend tetap dan tidak ada revolusi besar-besaran dalam perbaikan iklim riset di Indonesia. Solusi baru yang beliau tawarkan adalah memfokuskan riset dimana Indonesia yang sudah unggul seperti kegempaan, gunung api, tanaman-tanaman tropis, dan lain-lain.
Hal ini sejalan dengan perkataan Presiden Joko Widodo (29/1/2016 dimuat di Tempo.com) agar perguruan tinggi jangan bekerja hanya untuk lingkungannya sendiri, tapi bekerja untuk kemanfaatan bangsa dan masyarakat. Komunitas kampus bisa mengambil peran dengan menggenjot jumlah riset yang berfokus menemukan solusi aplikatif bagi persoalan bangsa yang nantinya akan meningkatkan daya saing Indonesia sehingga bisa membuahkan manfaat secara nyata.
Begitu juga visi dan misi rektor ITB sekarang, Prof.Kadarsah Suryadi bahwa ITB harus tak hanya menjadi universitas berbasis riset yang diakui masyarakat internasional tetapi juga memiliki karakter entrepeneur yang memberikan manfaat kepada masyarakat lokal dan nasional. Menurutnya, hal ini tentu agar penelitian tidak berhenti di atas kertas.
Peran Mahasiswa
Lantas, bagaimana peran mahasiswa ITB tahap sarjana yang jumlahnya makin lama makin besar (dan makin membuat sesak kampus) namun belum dituntut untuk memberikan konstribusi pada publikasi di jurnal ilmiah? Padahal berdasarkan data, potensi yang mungkin bisa dihasilkan dari mahasiswa ITB tahap sarjana cukup tinggi mengingat jumlah lulusan ITB tiap tahun mencapai 3000 wisudawan. Dulu, kewajiban riset dan publikasi sempat didengungkan oleh Dirjen Dikti Djoko Santoso tahun 2012 yang menyarankan pada program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Tetapi, seperti yang diduga bahwa hal ini tidak terlaksana karena belum ada kajian kesiapan untuk hal tersebut.
Hal yang semakin menarik adalah potensi mahasiswa tahap sarjana ITB yang sejak awal sudah memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi untuk bisa masuk ke ITB, contohnya pada tahun 2014 sebanyak 62.756 pendaftar dan hanya 3.524 siswa yang dapat diterima. Amat sayang potensi mahasiswa tahap sarjana ini belum difasilitasi oleh kampus ITB yang setidaknya memberikan atmosfer riset di kalangan mahasiswanya sejak awal. Perlu dicatat bahwa kebanyakan mahasiswa ITB S1 baru benar-benar merasakan iklim riset saat mengerjakan tugas akhir itupun di penghujung semester. Dengan atmosfer riset yang baik ditambah sejalan dengan produktifitas menulis memungkinkan peningkatan publikasi ITB. Namun, perlu diingat bahwa riset bukanlah sesuatu yang bisa jadi dalam sekejap seperti permintaan candi oleh Roro Jonggrang, butuh proses panjang dan berkala yang tentunya sangat melelahkan baru bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas, makanya riset perlu menjadi iklim yang positif seperti yang dilakukan pada universitas di negara Korea Selatan. Ditambah menjadi tantangan tersendiri bahwa budaya menulis makalah menurut Dr. Rinaldi Munir, dosen prodi Teknik Informatika ITB, kalah dengan pekerjaan lain yang menjanjikan materi cukup besar seperti proyekan dan pengabdian masyarakat yang berkedok proyek.
Dengan demikian, pertanyaan pertama, adakah negara maju tanpa riset dan publikasi yang baik oleh institusi pendidikannya? Pertanyaan kedua, bisakah melihat masa depan Institut Teknologi Bandung jika bercermin dengan keadaan mahasiswanya hari ini? Mengingat di tangan mereka, ITB (dan jika boleh mengatakan: Indonesia) berada.
Btw, Selamat ulang tahun ya.
Oleh: Nova Lailatul Rizkiyah/10212042, masih mahasiswa tingkat akhir.
Referensi:
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiAz5CTjZ_LAhVLHI4KHQGoBgcQFggbMAA&url=http%3A%2F%2Fristekdikti.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2016%2F02%2Fklasifikasi20151.pdf&usg=AFQjCNECiLVaIRt7rB6at_LFBSfJspd0rw&sig2=CDOvGbAAWU0gaB2rkOfsDA&bvm=bv.115339255,d.c2E klasifikasi pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia
http://karijal.blogspot.co.id/2010/06/menduniakan-universitas-kita.html
http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/2014/03/11/kinerja-riset-perguruan-tinggi-kita/
http://www.itb.ac.id/about-itb/facts
http://www.itb.ac.id/agenda/1515.xhtml pada bagian unduh/download booklet pameran hasil penelitian itb tahun 2016
http://education.stateuniversity.com/pages/1400/South-Korea-EDUCATIONAL-SYSTEM-OVERVIEW.html
y-ơ