Antara Uzlah, Koleksi Piringan Hitamnya, dan Paul Anka

HMHI UI
HMHI UI
Apr 14 · 4 min read

Di edisi Humans of HI UI bulan April 2019 ini, kami mewawancarai Uzlah (HI UI 2018) untuk membicarakan hobinya mengoleksi piringan hitam (vinyl) dan mendengarkan musik Amerika Serikat tahun 1950-an.


Halo, Uzlah! Kenapa sih kamu bisa suka musik era 50-an?
Halo juga! Oke, menurutku, karena musik tersebut mengingatkan aku dengan era 50-an. Memang dari kecil aku suka hal-hal yang berbau 50-an, sih. Misalnya, mobil-mobil klasik kayak Chevy Impala 57.

Menurut kamu, apa ciri khas dari musik era 50-an?
Orang-orang atau musisi di era tersebut kalau bikin lagu terkesan lebih sopan. Selain itu, lirik mereka lebih menyentuh, engaging, dan intimate. Dibandingkan dengan yang aku lihat di musik-musik pop zaman sekarang, biasanya seseorang memproduksi lagu hanya untuk popularitas.

Siapa musisi favoritmu dari era 50-an?
Etta James dan The Drifters. Menurutku, lagu yang tadinya biasa aja, kalau dicover sama The Drifters bisa menjadi lebih alive dan asyik.

Apa sih, perbedaan musik di era 50-an dan 60-an?
Menurutku, 50's music tends to be more jazzy. Furthermore, most of the men suaranya lebih berat, meanwhile yang perempuan lebih powerful. Sedangkan musik di era 60-an lebih fokus ke instrumennya.

Denger-denger kamu punya koleksi vinyl (piringan hitam), ya? Gimana awalnya kamu memulai koleksi vinyl itu?
Sebenarnya aku mulai mengoleksi vinyl baru-baru ini. Kakekku punya banyak vinyl dan orangtuaku merasa tidak perlu beli lagi. Tapi, karena selera kami berbeda, aku memulai koleksiku sendiri.

Sampai sekarang, berapa banyak vinyl yang kamu punya?
Ada belasan tapi beberapa ada yang dibeliin Kakak sama Papa, dan nggak semuanya musik era 50-an.

Biasanya kamu beli vinyl di mana?
Biasanya aku beli di Blok M atau di Jalan Surabaya. Kalo beli di Jalan Surabaya itu bekas dan murah, tapi kadang vinyl-nya rusak di garis-garis tertentu. Kalau di Blok M itu baru dan murah. Tapi, karena banyak banget dan not every single vinyl of record there is good, nyarinya agak susah. Untuk yang indie, biasanya aku beli di Ruang Seduh Kemang tapi koleksinya sedikit dan very pricey.

Berapa, sih, kisaran harga vinyl di toko tersebut?
Di Jalan Surabaya kisaran Rp100.000–200.000 per vinyl bekas. Kalo di Blok M paling murah Rp75.000, tapi nyarinya susah. Di sana, tokonya besar gitu dan banyak banget vinyl-nya jadi untuk mencari secara spesifik dan disuka itu agak susah.

Your most favourite vinyl?
My most favourite itu Paul Anka, it’s a live record from his New York show, di covernya ada tulisan “France” gitu dan stiker atas vinyl-nya berwarna kesukaanku, yaitu biru toska. Itu kubeli di Jalan Surabaya dan itu sangat tua umurnya jadi kualitasnya kurang bagus.

Apa saran kamu untuk permusikan di Indonesia?
Dulu waktu aku SMA, aku melihat kebanyakan orang membuat lagu untuk mendapat popularitas tanpa memikirkan kualitas. Bahkan, waktu aku SD pun, boyband dan girlband kebanyakan hanya menjual visual, bukan kualitas musiknya. Yang aku lihat, makin ke sini musik di Indonesia berkembang dan berubah jadi lebih baik. Meskipun begitu, banyak lagu-lagu indie bagus yang kurang mendapat apresiasi dari radio dan media. Makanya menurutku, Indonesia harus berubah supaya musik-musik kita semakin banyak diapresiasi, terutama musisi yang bekerja keras sepenuh hati menciptakan lagunya.

Opinimu tentang RUU Permusikan?
It’s really bad. RUU kayak gitu yang kena dampak tuh banyak pekerja musik dari pengamen sampai musisi besar. Berbeda dengan pengamen (atau street performer) di Singapura yang harus mendapatkan lisensi, pengamen Indonesia ngamen karena tidak punya pilihan dan harus mendapatkan uang untuk makan. Musisi besar juga bisa di-banned gara-gara RUU ini. Indonesia sendiri masih banyak hal yang lebih buruk untuk difokusin dibandingkan mengeluarkan RUU yang nggak ada background-nya kayak gini. It’s nonsense, nggak ada manfaatnya. Apa lagi alasan mereka melarang lagu-lagu itu karena mengandung unsur porno dan seksual. Mendingan mereka menyediakan early sex education yang — oke, memang dianggap tabu — tapi membuka pikiran. Jangan malah menutup pikiran dan jadi narrow-minded sehingga negara kita nggak maju-maju.


Humans of HI UI adalah sebuah serial artikel wawancara yang meliput kehidupan non-akademis para mahasiswa Hubungan Internasional UI. Ditulis oleh Divisi Hubungan Masyarakat HMHI UI.

HMHI UI

Written by

HMHI UI

Kanal Medium resmi Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade