PSDA Post #11: Totalitas Dalam Menjalankan Amanah

“Karena ketika amanah datang, ia dapat memuliakan dan dapat pula menghinakan”.

Amanah berarti sesuatu yang dipercayakan. Bayangkan saat ini kamu sedang menjalankan amanah dengan memangku sebuah jabatan. Entah itu kepala lembaga, kepala divisi, ataupun staf di suatu lembaga. Bagaimana kamu ingin orang mengingatmu, setelah kamu selesai menjalankan amanah itu? Apa yang ingin kamu rasakan setelah selesai menjalankan amanah itu?

Di film Rogue One: A Star Wars Story, Jyn Erso memiliki misi dari Rebel Alliance untuk memimpin kru Rogue One menginfiltrasi markas lawan dan mencuri skema Death Star, senjata andalan milik Galactic Empire. Ia pergi ke planet Scarif dan berhasil menjalankan rencana mereka. Ketika Death Star memasuki orbit dan akan menembak planet Scarif, ia punya pilihan untuk kabur namun datanya tidak dikirimkan atau tinggal dan mengirimkan datanya. Ia memilih untuk tidak melarikan diri, dan memutuskan mengirimkan datanya ke Rebel Alliance, meski dengan ganti nyawa. Death Star kemudian menghancurkan planet Scarif, beserta Jyn Erso dan anggota tim Rogue One.

Jyn Erso pada film Rogue One: A Star Wars Story
Kurozumi Orochi pada serial One Piece

Di cerita One Piece, negara Wano yang memiliki sumber daya melimpah sebagian besar rakyatnya hidup dalam kemelaratan dan kelaparan. Pemimpin mereka, Kurozumi Orochi sang Shogun, hidup bergelimang kemewahan. Hanya pengikutnya yang diberikan kemudahan akses mendapatkan uang dan makanan. Ia bekerjasama dengan bajak laut yang dipimpin Kaido untuk melindungi rezim politiknya. Ia dikenal sebagai tiran yang opresif dan menggunakan kekuasaannya hanya untuk dirinya sendiri.

Keduanya memegang amanah, tapi menjalankannya dengan berbeda.

Cerita tentang amanah ini dapat kita lihat juga di sekitar kita. Ada orang yang mendaftar menjadi staf suatu acara, namun jarang datang rapat dan kontribusi seadanya. Ada yang dipercayakan memimpin suatu departemen atau divisi, namun tidak cukup memperhatikan kinerja anggotanya. Ada yang sekadar iseng saja mendaftar menjadi panitia, namun setelah diterima hilang begitu saja, lupa bahwa menjadi panitia adalah pilihannya sendiri. Sebutlah orang-orang ini golongan pertama.

Ada pula, orang-orang yang dengan senang hati berdiskusi panjang lebar membahas persiapan acara meski perlu merelakan waktu tidur dan belajarnya. Ada yang bahkan rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membantu operasional program kerjanya. Ada yang mengorbankan waktu liburannya untuk melaksanakan proker, hingga yang rela bolak-balik selama kerja praktik untuk mengawasi keberjalanan acara di himpunannya. Sebutlah mereka sebagai golongan kedua.

Apa yang membedakan orang-orang golongan satu dan dua? Ya, bagaimana mereka menjalankan amanah itu. Golongan kedua adalah mereka yang memiliki totalitas dalam menjalankan amanahnya. Totalitas menurut KBBI berarti keseluruhan, atau keutuhan. Dalam konteks ini, totalitas dalam memegang amanah berarti seseorang yang menggunakan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menjalankan amanah. Karena utuh, artinya tidak setengah-setengah atau asal jalan. Mereka mengusahakan yang terbaik karena sadar bahwa amanah adalah hal yang berat dan patut dipertanggungjawabkan.

Kadang kala kita menjadi golongan kedua, mungkin saja kita pernah menjadi golongan pertama. Nah, tentunya kita semua ingin selalu menjadi pribadi yang memiliki totalitas, untuk itu kita perlu mengetahui cara-caranya.

Agar dapat menjadi orang yang totalitas, kita harus mengetahui dahulu apa yang membuat orang tidak totalitas, supaya kita dapat mengidentifikasi alasannya dan menjauhinya. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

1. Menganggap sepele

Karena job description suatu peran terlihat sederhana, bisa saja seseorang melihatnya dengan sebelah mata karena menganggapnya mudah. Ini dapat menjebak seseorang menjadi menyepelakan pekerjaan, sehingga tidak total dalam mengerjakannya.

2. Tidak menyukai pekerjaannya

Ketika seseorang tidak suka hal yang ia kerjakan, karena tidak berminat atau tidak sesuai ekspektasinya, biasanya akan membuat enggan menjalankannya dengan sepenuh hati.

3. Tidak memiliki/lupa akan purpose

Purpose (maksud/tujuan) adalah hal yang penting dalam mengerjakan sesuatu. Jika purpose tertanam kuat dalam pikiran dan hati seseorang, ia memiliki alasan yang kuat untuk memberikan yang terbaik dalam setiap hal. Namun jika tidak memilikinya atau lupa, mengerjakan sesuatu menjadi tidak sepenuh hati.

4. Salah mengukur kemampuan diri

Ini hal yang kerap terjadi pula di lingkungan mahasiswa. Kerap kali orang-orang memiliki keinginan untuk terlibat aktif dan berkontribusi di suatu hal, padahal ia juga memiliki kewajiban atau amanah lain yang juga menyita waktu dan tenaganya. Untuk setiap orang, kemampuan dalam membagi porsi waktu dan tenaga untuk lebih dari satu amanah berbeda-beda. Kerap kali keinginan untuk aktif berkontribusi tidak diimbangi dengan kemampuan membagi waktu yang sesuai, sehingga seseorang kewalahan dan tidak bisa maksimal.

5. Tidak komitmen

Cukup jelas. Memang karena sesederhana tidak serius ketika mengiyakan amanah. Jangan seperti ini ya. Hargai orang lain yang memberi amanah kepada kita. Hargai diri kita sendiri sebagai individu yang profesional dan bertanggungjawab. Ingat pertanggungjawaban akan amanah itu ke orang lain, dan sebagian agama juga menyatakan pertanggungjawaban amanah itu ke Tuhan. Ingatlah kalau amanah itu dapat pula menghinakan bagi yang asal-asalan.

Nah setelah menghindari hal di atas, lalu bagaimana caranya supaya kita dapat memiliki totalitas?

1. Miliki purpose

Miliki tujuan/maksud dalam menjalankan amanah. Hal ini perlu ditumbuhkan dari diri sendiri, serta diingatkan oleh sekitar kita. Untuk yang menjadi pemimpin, perlu senantiasa mengingatkan dan menyadarkan purpose besar ke semua anggotanya.

2. Tumbuhkan rasa cinta

Love what you do! Ingatlah purpose yang sudah dimiliki tadi, lalu hayati dan nikmati perjalanan memegang amanah ini. Sering-sering mengerjakan hal tersebut, karena cinta datang karena terbiasa. Ada dua emosi utama yang menggerakkan manusia: cinta dan takut. Ketika sudah cinta, totalitas akan muncul dengan sendirinya.

3. Tumbuhkan rasa takut/malu

Jika kita masih memiliki rasa malu, tentu kita tidak ingin hasil kerja kita dilihat tidak baik oleh orang lain. Takut dianggap tidak capable, takut dilihat tidak serius. Dari rasa takut ini dapat pula muncul keinginan untuk melakukan sesuatu semaksimal mungkin agar hasilnya baik, agar hal yang kita takutkan tidak terjadi. Takut adalah satu dari dua emosi yang menggerakkan manusia.

4. Tumbuhkan rasa mawas diri

Mawas diri berarti dapat melihat dan menilai diri sendiri secara jujur. Jika kita mawas diri, kita akan tahu kemampuan kita dalam memegang amanah sejauh apa saat ini. Sehingga, kita tidak asal dalam menerima amanah yang sekiranya kita belum sanggup. Atau, kita jadi tahu bahwa kita masih harus meningkatkan kapasitas diri agar mampu mengemban suatu amanah. Kita dapat memperkirakan sejauh apa kita mengeluarkan usaha lebih untuk meningkatkan diri.

Ketika menjalankan amanah, ingin jadi seperti yang mana kah kita? Bagi yang ingin menjalankan dengan totalitas, asahlah rasa dalam hati kita: temukan tujuan kita, tumbuhkan cinta, tumbuhkan takut dan malu, mawas diri. Sesederhana apapun amanah yang diemban, lakukanlah sebaik-baiknya. Buatlah ia menjadi istimewa, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang di sekitar kita.

Ketua HMIF ITB 2018/2019

Muhammad Fikri Hafiya