Instagram (1) — Prolog & A
Instagram merupakan media sosial yang sangat populer saat ini. Kamu bisa menemukan banyak hal di dalamnya.
Kamu suka masak?
traveling?
komik?
film?
musik?
Semua ada di Instagram!
Bahkan gosip, dunia clubbing, politik, haters, fans club dan agama pun ada di sana :)
Jadi, Instagram merupakan tempat yang sangat menarik buatku. Aku bisa belajar banyak hal dari akun-akun yang aku follow. Ngga harus dari konten postingannya, tapi lihat gimana para netizen bersabda hihi ;)
Setiap akun, cenderung memiliki karakter followers yang berbeda-beda namun homogen, sehingga aku bisa belajar terkait karakter-karakter tersebut.
As The Philosophy Book: big ideas simply explained prologue said,
Ga semua pemikiran filosof di sini (di buku ini) pada akhirnya sesuai dengan kondisi sekarang, banyak juga yang pada akhirnya terbantahkan. Tapi, pemikiran mereka ngga dinilai dari ‘benar’ atau ‘salah’-nya, melainkan kita bisa belajar terkait bagaimana mereka bisa melakukan suatu konklusi. Kita bisa melihat bagaimana proses berfikir mereka.
Dan ya, that’s what I love when scrolling on the Instagram feeds… and comment.
Sebetulnya yang aku rasakan ini sama aja seperti kamu-kamu yang kerjanya harus bertemu orang yang berbeda setiap hari, seperti sales, konsultan dan profesi-profesi lainnya.
Ngobrol dengan orang lain tentu enak, kan? You could learn anything from them. Kamu ga perlu mengalami, tapi kamu bisa mengambil pelajarannya :)
Namun karena aku kerjanya di kantor yang pasti bertemu orang itu-itu lagi yang sangat terbatas, jadi pelampiasannya melalui Instagram. And basically, aku introvert. Aku sangat mau ngobrol dengan berbagai orang, tapi ngga tau bagaimana memulainya :(
Fenomena A (seorang selebgram)
Siapa sih yang ga tau A? BANYAK! Haha bercanda kok, jauh lebih banyak orang yang kenal dia dibanding aku hihi :)
Dia itu menarik banget buatku, and I don’t care about her branding, “Nakal tapi ga munafik dan ga pakai narkoba”. Yang buat aku tertarik adalah karakter dia secara personal.
Yap, aku bukan seorang psikolog atau kuliah di jurusan terkait itu, tapi kalau ngepoin akun A, teman-temannya, hatersnya, atau mencoba mempelajari dramanya, itu menarik banget… dan miris. You’ll learn a lot from her story.
But so sorry kalau tulisan ini terkesan jahat :(
1. Dia itu TERLIHAT suka mendominasi dan menjadi pusat perhatian.
Setiap kali berganti kelompok pertemanan, yang menjadi pusatnya adalah dia. Contoh yang paling kentara adalah ketika dia bermasalah dengan salah satu temannya, LL.
Dia itu KELIATANNYA dominan banget di salah satu grup Line pertemanan mereka, dia ngekick LL dan ngomong segala unek-unek keselnya tentang LL tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Pokoknya dia ngomong apa yang dia mau, tapi ngga mau dengerin nasihat yang lain. Like she have to control everything.
Tau dari mana???
Anak jaman sekarang emang kalau ada masalah suka diumbar-umbar di socmed :(
Kamu juga bisa lihat dominasinya ketika bareng teman-temannya yang lain. She’s different :)
2. TERLIHAT drama dan suka menyalahkan orang lain. Atau kalau kata orang-orang, she likes to playing victim.
Ini yang paling gila sih. Kalau kamu niat ngepoin A, terutama perjalanan pertemanannya, kamu akan melihat image orang yang suka membuka aib teman lamanya… terutama kalau sudah memiliki teman baru. Kalau ngga membuka aib, ya menyalahkan orang lain tanpa disensor.
Tulisanku kali ini jahat abis sih, judgemental parah. Tapi mau bagaimana lagi? Aku geregetan :((
Intinya, kenapa sih kalau kesal ngga bisa direm dulu? Dicari akar permasalahannya, apa itu benar atau ngga. Ya pokoknya dipikir baik-baik dan ga perlu sembarangan buka kartu orang. A berani umbar aib teman-temannya — yang menurutku sangat sensitif untuk diketahui publik — di social media miliknya.
Teman yang baik, seharusnya mengingatkan secara personal, bukan mencari sensasi publik, kan? :)
3. What can we learn from A
Menurutku, A ini masih terlalu muda, terlalu fokus dengan branding “gue ga munafik”, sehingga ga peduli pendapat orang lain. “Kalo gue kelakuannya jelek, yaudah, emang gue gini”. Tapi buatku, dia sudah terlalu kebablasan dalam kebebasannya. Dia terlalu mudah bereaksi terhadap masalah yang ada, ngga memikirkan secara matang apa akibat yang ditimbulkan. Terlalu teledor untuk mudah membuka aib orang lain, menyalahkan orang lain untuk berlindung dari masalah yang ada. Dan… dia hidup di zaman dimana social media telah menjadi makanan sehari-hari.
Tapi di sini aku sedikit heran, biasanya ‘anak bandel’ itu memiliki teman yang solid, tapi dia… sepertinya terlalu menginginkan memiliki citra nakal yang dipaksakan, namun terlalu egois dan ingin menjadi pusat perhatian semata.
Dari berbagai kisahnya tersebut — yang secara ga sadar dia ekspos sendiri — publik bisa mendapat gambaran negatif terhadap dirinya. Kalau misalnya dia melakukan ini dengan sengaja, sudah dia rencanakan sejak awal… aku ga bisa ngomong apa-apa, cuma salut. Mencari uang ga mesti dengan cara seperi itu, kan? :)
So sorry about this post. Semoga kedepannya A lebih sadar, bahwa dia memiliki 2 juta followers yang akan melihat semua perbuatannya.
Bahwa kehidupan ini masih panjang… dan hidup ngga sebercanda itu untuk dihabiskan dengan menjelek-jelekan diri sendiri dan orang lain :)
And for the last, semoga A ngga terkena depresi dan dapat berubah menjadi lebih baik diwaktu yang tepat. Kenyataannya, pasti sangat berat lho menjadi A… sudah terlalu banyak orang yang menjudge dia buruk dan dilontarkan melalui beragam cara. Jadi, semoga dia lebih kuat dan cepat sadar untuk berubah. Harapan itu selalu ada, kan? Jangan branding nakal lagi 😉
Kenakalan kamu, cuma jadi tontonan yang menghibur buat sebagian besar orang… dan influence yang ga baik bagi dedek-dedek emesh yang menjadikan kamu goals mereka. Ini semua ga akan bertahan lama, terlebih lagi kalau kamu terus ceroboh dalam membuka aib orang lain atau aib kamu sendiri. Please calm down, rencanakan masa depan kamu dengan lebih baik, perbaiki sebelum terlambat. Hidup dari sensasi itu bukan sesuatu yang baik :)
Dari kasus ini kita juga bisa belajar bahwa menjaga image di social media merupakan sesuatu yang penting. Ini bukan masalah munafik, tapi… “and if anyone covers up a Muslim (his sins), Allah will cover him up (his sins) on the Resurrection Day” — apa lagi menutup aib diri sendiri? Aku juga bisa menilai macam-macam tentang A gara-gara image yang dia buat di social media, padahal aku ngga mengenalnya sama sekali hihi. Be careful with your social media ;)
