MIMPI SOSIALISME DI DIRANJANG REZIM BORJUIS. Banyak yang bermimpi sosialisme mewujud dalam kekuasaan rezim borjuis seperti Jokowi. Dikasih konsep pendidikan sosialis dengan pendidikan ditanggung negara. Orang bermimpi sosialis ini berujar: program sosialis harus gratis dong (padahal ngurus anak saja tak mampu sehingga anaknya mati, tapi begitu negara mau menanggung, menolak dengan sok sokan revolusioner). Dikasih jaminan kesehatan. Orang yang bermpi itu mengigau: jaminan kesehatan harus gratis dong. Ketika Jokowi menjalankan program sosialis membangun infrastruktur di luar Jawa (rel kereta api, jalan raya, dll). Orang yang bermimpi sosialis mengigau: itu pemborosan. Ketika Jokowi menjalankan agenda demokrasi seperti membuka dialog terhadap peristiwa 65. Orang yang bermimpi sosialis meracau: harus diadili dong para pelaku pembantaian. Masih banyak lagi contoh-contohnya. Maka namanya mimpi sosialis yang muncul selanjutnya adalah "ingin itu, ingin ini." Tak sadar sedang bermimpi di ranjang rezim borjuis. Tapi beda tentunya kalau dilihat dari perspektif gerakan Kiri. Gerakan Kiri bersandar apa yang ada, bukan apa yang diinginkan; dari kondisi obyektif, bukan keinginan subyektif. Gerakan Kiri paham bahwa rezim borjuasi memiliki takdir sejarah yang tak akan mampu dilompati oleh rezim itu. Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa dipetik dari sebuah rezim borjuasi yang akan menguntungkan/memberikan peluang bagi gerakan Kiri untuk membesar gerakan. Demokrasi borjuis merupakan salah satu peluang. Dengan kebebasan berpropaganda, gerakan kiri bisa mempropagandakan program program sosialis. Dan, ketika program program sosialis dijalankan (yang tentu saja tidak konsisten dilakukan oleh rezim borjuasi) di sinilah tugas gerakan Kiri untuk mendorong pada batas semaksimal mungkin. Ketika rezim Jokowi mulai menawarkan pendidikan ditangung negara dengan full day, jaminan kesehatan (KIS, dll), jaminan pendidikan (KIP, dll), pembangunan infrastruktur di luar Jawa, dialog untuk menyelesakaikan kasus 65, dll, disinilah tugas gerakan Kiri untuk memajukannnya (bukan seperti Trotskisme, Anarko, dan LSM yang biasa menjual penderitaan rakyat, yang langsung: tolak, bikin petisi, bikin tagar); prinsip mereka semua yang dari rezim borjuasi adalah najis. Contoh gerakan asal tolak ini yang paling koyol adalah penolakan (dengan dalih yang digagah gagahkan) rencana bela negara . Padahal program ini bisa dimanfaatkan oleh gerakan Kiri (buruh, tani, mahasiswa, kmk) untuk memasukkan kader kadernya untuk berlatih kemiliteran (taktik yang sama digunakan oleh gerakan Kiri sewaktu melawan Jepang dengan memasukkan kader kader Kiri ke dalam PETA untuk bisa belajar kemiliteran, dan terbukti berhasil). Begitulah ketika bermimpi tentang sosialisme di ranjang borjuasi, maka yang muncul adalah kehendak subyektif, tidak berusaha memanfaatkan setiap peluang yang ada. Mereka ini menolak tela goreng yang ada di depan matanya, memilih memakan piza di dunia mimpi. Untungnya yang seperti itu tak begitu menjangkiti gerakan Kiri. Di sinilah kata kata Deng Xioping menemukan relevansinya: "Tak penting kucing berwarna merah (PRD) atau berwarna putih (PKS). Yang penting kucing itu berani dan berhasil menangkap tikus."; bukan "pokok e" harus kucing berwarna merah yang harus menangkap tikus. Dan siapa bisa memungkiri keberhasilan sosialisme di Tiongkok sampai detik ini. Akhirnya, pamlet yang ditulis Lenin adalah "Apa yang harus dilakukan" bukan "Apa yang harus dimimpikan".