Menunggu Pagi
Surabaya, 18 Maret 2019 (02:36 AM)
Sedang menonton pertunjukan dibalik jendela-jendela kaca raksasa di ruang sempit ini
Tangan dinginku memegang erat cangkir teh panas menikmati kekosongan langit kota dari lantai dua belas
Tengah malam aku mengira Surabaya tidak tidur
Tapi malam itu sunyi sepi seperti mati
Hanya beberapa lampu yang berlalu lalang
Sekilas datang dan sekilas hilang
—
Aku masih terpaku mencerna dan memahami
Hari ini aku baru saja kehilangan
Seorang laki-laki tempatku selalu pulang
Seseorang yang menangis mengatakan
“Jangan coba-coba pisahkan aku dan kamu. Tuhan-pun akan marah.”
Hari ini dia meninggalkan aku dengan alasan Tuhan yang membuka jalan perginya
Jadi? Kamu men-Tuhan-kan egomu? Begitu?
Kuputar ulang ratusan kali voice note itu seraya menertawakan tangismu tentu dengan tangisku
—
Aku sedang menunggu pagi datang
Ingin tau apa yang akan dibawa pagi untukku
Aku terus memaksa diri terpejam
Kujaga hatiku kupeluk ia kututup telinganya agar ia tak tau apa yang sedang terjadi
Cukup mataku dan telingaku yang menjadi saksi agar tak ada tumpah darah hari ini
—
Tapi terlambat sudah
Hatiku tersadar ada yang tak beres
Tiba-tiba dadaku berdetak keras-keras hampir meledak
Indera-inderaku tercekat tak berkerja sungguh seperti ada yang mengikat
Nafasku tersengal terengah-engah kepalaku serasa tinggal tersentil dan terpenggal
Kudapati kakiku sudah tidak dapat menapak
Aku jatuh tersungkur hingga membiru lalu ungu
Hari ini kamu telah tusuk aku dengan 762 pisau yang kamu rangkai dengan banyak hari bersamamu
Demi Tuhan rasa sakit yang mematikan
Sampai kututup mulutku sendiri
Untuk bisa berteriak tapi tak ingin bersuara
—
Aku darurat setengah mati
Kucari Tuhanku sebelum aku gegabah
Kupaksa diriku terseok-seok membasuh diri
Dengan gemetar aku hamparkan sajadah
Tapi satu takbirpun aku tak sanggup lanjutkan
Hingga aku berlutut
Aku hanya menangis dalam sujudku
Tanpa marah
Tanpa pertanyaan
Tanpa permintaan
Tanpa suatu katapun
Aku hanya menangis dalam sujudku
—
Aku terbangun dari sujudku yang lama
Lalu menyeret paksa kakiku berdiri menatap nanar bayangan diri di kaca
Ingin kuseka air matanya dengan caci maki
Tapi nyatanya lidahku tak sampai hati
Tidak ada yang pantas disalahkan disini
Hanya Tuhan sedang menegurku dengan tirani
Aku tersenyum beradu tatap dengan mata indah namun basah dan merah perempuan di kaca ini
Kulihat ia baik-baik saja tidak tergores tidak terluka
Tapi aku melihat dunia sedang hancur lebur di matanya
Di matanya laut tidak biru lagi
Di matanya senja tidak jingga lagi
Di matanya dirinya sudah tak hidup lagi
Di matanya dia terus mati sekali lagi
Akhirnya aku dengan lirih membisiki
“Pagimu akan datang dan semua akan baik-baik saja”
— A
