Tentang suatu sore di bulan delapan.
Hari yang panas. Orang ramai-ramai merindu hujan, termasuk aku; agar tak repot bertemu kamu, tapi langit malah semakin kebiru-biruan. Lucu ketika semesta seperti mendukung pertemuan kita kala itu.
Siang itu aku tidur dipeluk ragu. Sepi senyap yang terdengar hanya detak jam yang kudengar seperti berbisik… Terlalu cepat untuk kamu. Terlalu cepat untuk kamu. Terlalu cepat untuk kamu. Hingga di kepalaku rasanya bising, terlalu banyak suara tapi suara itu mengucap kata-kata sama berulang kali; haruskah pergi bertemu kamu?
Benar, kita bertemu. Ditemani perut sakitku akibat kopi hitam mess-hall kantor saat pagi. Aku yakin wajahku saat itu tidak menyenangkan. Dan fakta jika hanya dua minggu terpaut dari perkenalan; sekarang kamu disebelahku, aku yakin jelas terlihat cemas.
Seperti sebuah petikan “life humbles you down and keep your mouth shut” diamku memang panjang, dan disambut diammu pula. Tak ada yang rasa istimewa saat itu, basa-basipun rasanya sudah basi. Aku sudah menghakimi bahwa ini akan jadi terakhir kali kita akan bertemu. Hingga tak tau bagaimana kita sampai ke tempat itu, tak direncanakan, terjadi begitu saja apa adanya…
Di atas suatu bukit di pinggir kota kita, laut jauh dibawah sana masih berkilau pada jam itu, jalan raya berkelok-kelok, langit seluas-luasnya dan burung-burung terbang seperti menertawakan keraguanku. Familiar? Iya. Mengingat aku adalah pecinta karya-karya Tuhan di dunia dan rela berpergian jauh untuk mengapresiasinya; mungkin pemandangan itu akan terlihat biasa untukku. Namun aku nikmati dan hargai setiap detiknya, terimakasih membawaku ke tempat yang aku suka. Tapi tak lama dari kita berdiam…
Aku bersumpah dengan tiba-tiba aku tersentak dalam lamunan, sesuatu menyerangku. Suatu ingatan. Ingatan yang selaras dan jelas. Apa ini? Aku seperti pernah merasakan detik yang sama persis tapi di ruang waktu yang lain. Dengan warna yang sama, hiruk-pikuk yang sama, dan hangat yang sama. Aku terperanjat karena ini tak biasa. Aku memutar kepalaku mencari kamu, dan benar…..
Déjà vu. Kamu duduk setengah bersandar di mobilmu, diam tak banyak bicara hanya menghela asap rokokmu, tak bergeming namun tersenyum ketika mata kita bertemu. Jantungku terasa ingin melompat dari curamnya tempat itu. Ingatan itu langsung menyekat dadaku; sesak. Kurasakan alur yang sama tertata rapi tapi ntah di bagian waktu yang mana ini sudah terjadi. Benar, ini déjà vu. Yang datang di waktu dan perasaan yang salah, keraguanku dan kerasnya aku jatuh pecah menjadi beling-beling kaca yang siap membelah hingga berdarah…
Sudah kuputuskan ini adalah pesan. Aku yakin sudah Tuhan tidak mungkin main-main kali ini. Siapa kamu? Di dimensi mana kita bertemu? Semesta mana yang menulis aku dan kamu? Apa di ruang waktu itu kita berakhir satu? Siapa nanti yang meninggalkan lebih dulu?
Suatu malam di bulan ke sepuluh.
Tiga bulan sudah kita merajut asa. Ya, asa. Bukan cinta. Berbahagia tanpa tau apa ujungnya. Nyatanya pertanyaan-pertanyaan itu masih menyesakkan aku. Apa benar kamu orangnya? Yang Tuhan kirim karena bosan melihatku terisak dicekik lelah? “Mungkin bukan” Kali ini hanya itu yang aku mampu teriakan untuk diriku sendiri. Telah kusadari; akan sakit jiwaku nanti. Semakin jauh kita berlari, semakin takut aku. Kuputuskan tak mau jadi perempuan menyusun banyak harap, mengingat realita sudah pernah ditampar keras dunia yang tak berjalan sesuai angan. Aku akan lebih memilih jika semua mengalir begitu saja; harus, walau aku tak suka dan susah menerima, lagipula kita sudah dewasa dan tau apa yang tidak bisa dipaksa.
Tentang perasaanmu, aku tak banyak tau dan aku tak ingin tau, sungguh itu urusanmu. Begitu pula perasaanku kan? Apapun itu, kamu tak perlu tau dan itu sepenuhnya urusanku…
Tetaplah tinggal sebelum memang harus saling meninggalkan; hanya…. Terimakasih banyak telah menjadi déjà vu yang paling klise yang pernah ada.
— A (25/10/19)
