Kesaksian

Like father like son. Like mother like daughter

Pepatah tersebut, sepertinya memang sangat tepat untuk menggambarkan tentang dirimu Mbak. Terutama si Bungsu, yang tingkah lakunya amat mirip denganmu. Mulai dari caranya berteriak, caran bersikapnya yang perfeksionis, bahkan caranya mencebikkan bibir, mirip, mirip sekali denganmu!

Memandang mereka bertiga, menjadikan salah satu sarana pelepas rindu. Ketika doa hanya terbayang rupa yang kian hari kian memburam, kehadiran mereka kembali memperjelas wajahmu. Menerbitkan seulas senyum dan buncahan rasa kangen yang bergelora di dada.

Aku bersyukur pada Allah atas kebersamaan kita yang sangat sebentar, karena meskipun bertemu dalam waktu yang singkat, kudapat ilmu yang tak kan ku dapat dari buku-buku manapun. Ku dapat adab yang tak tersedia dalam majelis manapun. Hampir setiap pertemuan denganmu, selalu ada ilmu baru yang kureguk. Entah itu terselubung dalam cerita tentang mimpi-mimpimu, terselubung dalam cerita tentang masa lalumu, terselubung dalam setiap dialog-dialog seru dengan buah hatimu, terselubung dalam senyum hangatmu ketika menjamu tamu, terselubung dalam panggilan telefonmu berkali-kali yang memintaku bersegera menjemputmu karena kau takut terlambat menghadiri sebuah majelis..

Demikianlah, setiap kebersamaan itu menjadi sekian waktu yang amat berharga bagiku. Maka ya Allah, semoga sekelumit ceritaku ini menjadi saksi bahwa beliau adalah orang baik, beliau adalah orang baik, dan beliau adalah orang baik.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu’anhaa.. Aamiin