Žižek : Film dan Surplus Kenikmatan

Hrarasy
Hrarasy
Nov 8 · 8 min read

Slavoj Žižek

Lahir pada 21 Maret 1949. Slavoj Žižek terinspirasi oleh beberapa lintas disiplin dan tradisi berfikir mulai dari marxisme beserta varianya, psychoanalisa, cultural studies, teori politik, teologi, hingga filsafat barat abad-21. Bertempat tinggal pada salah satu apartemen di ibu kota Slovenia, Lljubana. Žižek, secara resmi berprofesi menjadi direktur urusan internasional pada Universitas Birbeck London Inggris, Global Scholar Eminent dari Universitas Kyung Hee Korea Selatan dan professor di bidang sosiologi, peneliti senior di department filsafat pada Universitas Ljubljana Slovenia.[1] Terlibat aktif sebagai intelektual public sejak 1990-an dengan total publikasi lebih dari 50 buku (telah di alih bahasakan lebih ke-20 bahasa). Pernah terlibat, dalam aktivisme politik komite sentral liga komunis Slovenia dan turut juga mendirikan partai demokrat liberal Slovenia dengan pengajuan kandidat dirinya sebagai calon presiden pada salah satu putaran pemilu Republik Slovenia. Uraian biografis mengenai utas kehidupan dan karir Slavoj Žižek dapat di gali lebih dalam pada tulisan Diane Rubenstein yang menyadur hasil penelitian formasi pembentukan intelektualitas awal Žižek — dari kehidupan masa remajanya yang sering aktif pada kegiatan sineas dengan keterlibatanya pada produksi film oleh produser film-film Hollywood serta seni Eropa yang ia tekuni dalam wadah Cinematheque[2]. Di tempat itu, Žižek bisa menghabiskan satu hingga dua film sehari selama lima hari dalam satu minggu. Sebagai Mahasiswa, ia pernah mengajukan tesis sebanyak 400 halaman berjudul “The Theoritical and Practical Relevance of French Structuralism” yang telah ia revisi dengan banyak kritiknya terhadap tema Marxisme. Pada 1981 ia menghabiskan selama satu tahun untuk mengikuti kuliah di Perancis bersama mentornya yaitu Jaqcues Alain Miller — murid Louis Althusser dan juga sebagai pewaris teori Lacanian yang menjadi menantu Lacan sendiri. Di Paris Žižek berhasil merampungkan tesis keduanya berjudul “Les plus sublime des hysteriques-Hegel passé” yang selanjutnya ia kemas menjadi buku pertamanya yang berjudul The Sublime Object of Ideology. Ia, kemudian melakukan analisis bersama Alain Miller dalam eksplorasi lebih dalam terhadap disiplin Lacanian-psychoanalisa.[3]

Dalam, dunia sinema sendiri setidaknya telah terdapat beberapa tawaran produksi film yang mendorong keterlibatan secara lebih jauh dari Žižek. Dengan, kerjasama bersama sinematografer inggris bernama Sophie Fiennes. Žižek, berhasil merumuskan sebuah film yang menjelaskan teori-teori kritisisme — secara langsung ia peragakan dalam beberapa adegan penjelasan di beberapa potongan gambar — diantaranya film itu adalah dua sequel The Perverted Guide to Cinema (2006)[4] & The Perverted Guide to Ideology : They Live (2012) [5] . Kemudian, sejak penelitian ini ditulis setidaknya terdapat proyek terbaru di bidang film oleh Žižek yang berjudul Liberation Day (2016).[6] Film terakhir, tersebut merupakan besutan Žižek bersama produser Kroasia bernama Morten Traavik. Di sisi lain Žižek juga sering terlibat memberikan komentar terhadap beberapa film-film populer Hollywood seperti Enigma, Batman : The Dark Knight Rises, Kungfu Panda, dan masih banyak lainnya. Tentu, dengan menggunakan landasan intelektualitasnya film-film yang mendapat komentar dari Žižek tersebut adalah objek kajian yang begitu menarik untuk diteliti lebih lanjut secara terbuka dibandingkan dengan komentar film pada umumnya yang cenderung melihat film hanya ke arah hiburan.

Dalam laman situs internasional yang didirikan pada tahun 2007 dengan fokus kajian terhadap studi Žižek dan publikasi ilmiah terdapat beberapa topik penelitian mengenai utas pemikiran dan teori film yang diangkat oleh Žižek. Salah, satu contohnya, dari hasil penelitian Rachel Joseph yang menggambarkan ulang pemikiran Žižek kedalam layar sinema dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa secara dialektis. Ia, menambatkan posisionalitas film dokumenter dengan begitu fleksibel. Dalam, perhatian Žižek dapat pula digunakan sebagai alat bantu dalam menjelaskan teori kritik ideologi secara perforrmatif dan eksplanatif. Misalnya, film The Perverted Guide to Ideologi : They Live! (2012) yang menjelaskan dengan gamblang di beberapa potongan gambarnya bagaimana Žižek menjelaskan realitas tidak berdiri secara an sich — terdapat realitas dibalik realitas (dalam potongan bingkai film terdapat dua mata sisi realitas, pertama bagaimana realitas berdiri telanjang dan realitas dengan citra yang tampil dengan kacamata untuk mengaktifkan nalar kritis) sesuai dengan beberapa adegan film tersebut. Bagi Žižek, seperti halnya dalam film, kehidupan kita selalu bergerak ke dalam dunia dimana realitas dan ilusi telah bercampur aduk.[7] Di sisi lain, secara psikoanalisa kondisi tersebut dapat secara tepat tergambarkan dengan sebuah kondisi Lackness atau kekurangan.[8] Di titik ini, Žižek berpijak bahwa realitas seperti halnya diri yang selalu menemui sumur kekurangan secara eksternal bersifat tidak terpadu dalam satu fungsionalitas tunggal. Artinya, realitas bergerak dan dikonstitusikan oleh realitas lainnya atau bahkan realitas yang kita hadapi di depan mata hanyalah ilusi belaka.[9]

Dari ‘Surplus Value’ ke ‘Surplus Enjoyment’

Di bagian awal Das Capital[10] karya Karl Marx, ia menjelaskan bahwa fethisisme komoditas merupakan suatu pandangan fantastik manusia modern terkait teknis hubunganya dengan sesuatu benda. Asumsi tersebut, merujuk pada suatu sikap berlebihan yang seringkali tidak sadar dilakukan setiap orang terhadap benda yang ia klaim sebagai miliknya. Di sisi lain, produsen (kapitalisme) mendapatkan keuntungan dari sikap tersebut dengan mengakumulasi keuntunganya secara ekonomis sebagai nilai lebih atau surplus value dengan melakukan pendekatan diberbagai celah melalui komodifikasi tersebut.

Dengan, mengajukan klausul pada paragraf sebelumnya. Žižek, mencoba melampaui analisa Marx dengan mengajukan elaborasi teori sosial ekonomi dengan psychoanalysis. Ia, mengutip, Lacan pada seminar psikoanalisis di tahun 1977 tentang subjek berhasrat yang menemui sumur kekurangan. Ia, menggambarkanya dengan notasi objet petit à[11]. (objek kecil a) :

Sebuah detail dalam objek yang membuat subjek menghasrati objek — sesuatu yang disebut Lacan sebagai sesuatu yang “ada dalam dirimu lebih ketimbang dirimu sendiri.”

Karena objek kecil di dalam objek inilah yang membuat subjek menghasrati objek, maka Lacan menyebut objet petit à ini sebagai “objek-penyebab hasrat”. Namun, “objek a kecil” ini tak pernah dapat sepenuhnya direngkuh oleh subjek, persis karena ia tak tersimbolisasikan, ia tak dapat direpresentasikan melalui struktur sosial, sementara hasrat — seperti yang sudah kita lihat — senantiasa mengandaikan struktur struktur sosial untuk mengartikulasikan-dirinya. Kita ambil contoh: Seseorang melihat tayangan iklan tentang film keluaran terbaru pada hari ini, yang sebelumnya film seri pendahulunya ia telah ia tonton pada bioskop. Dengan, perasaan menggebu-gebu, seseorang ingin melanjutkan penyaksianya terhadap jalan cerita film tersebut, karena ia merasa kekurangan baik dari segi jalan cerita maupun teknis sinematografi terhadap film seri yang sebelumnya ia tonton, maka ia memutuskan untuk membayar tiket mahal dengan mengurangi jatah makan sehari-harinya yang ia beli di bioskop sebagai aturan sosial yang mengakumulasi dan memonopoli nilai lebih secara ekonomi-sosial dan nilai kenikmatan konsumen secara psiko-sosial. sehingga, seseorang tersebut harus menggadaikan kebutuhan pokoknya dengan hasratnya untuk menonton film. Tindakan repetitive, tersebutlah yang kemudian dibahasakan oleh Lacan sebagai Jouissance atau kenikmatan lebih. Berdasarkan argumentasi anthropologi filsafat dari Lacan, pada titik selanjutnya Žižek menarik benang yang melampaui pendasaran ‘fethisisme komoditi’ ala marxisme sebagai surplus value menjadi surplus enjoyment.[12]

Posisi Film di tengah Kapitalisme tahap Akhir

Di tengah perayaan kematian ideologi oleh tradisi pemikir pascamodernisme, pendapat lainnya menganggap pula bahwa ideologi telah menunjukan bahwa akhir zaman akan dimiliki oleh pemegang kapital dengan memungkinkan relevansinya pada kondisi stagnasi sejarah. Pandangan yang populer karena pendapat Fukuyama itulah yang mengasumsikan bahwa gerak sejarah pada akhirnya merujuk pada naturalisasi kapitalisme[13]; memandang bahwa kapitalisme sebagai pemenang tunggal dari gerak sejarah, dan kondisi hubungan internal yang secara inheren sebagai humanisme dengan menggadaikan hubungan kontradiktif antara pemilik alat produksi dengan penyedia tenaga kerja sebagai mekanisme kebertahanan zaman merupakan semangat yang sampai hari ini tetap dipertahankan sedari dahulu.

Atas penolakan terhadap rumusan sejarah itulah, Slavoj Žižek menjawab dengan optimis bahwa proyek emansipatoris politik abad-21 masih dapat dimungkinkan. Baginya, Suatu persimpangan super-ego yang bermula mendorong penekanan hasrat kini berubah drastis dengan mengandaikan dorongan pemenuhan hasrat, dengan kata lain kelemahan kapitalisme sebagai paham yang bermula berkembang di eropa kini kian mengindikasikan suatu sikap surplus jouissance[14]. Contohnya, alih-alih menggunakan agama sebagai penuntasan kebutuhan spiritual manusia. Namun, pada dasarnya kapitalisme sedang memikirkan bagaimana tempat bermukim terakhirnya karena sikap kerakusanya itu sendiri. Lantas, pertanyaan selanjutnya akan merujuk pada sebuah persoalan apa yang dimaksudkan dengan konsepsi Subjek Radikal? Bagaimana koherensi sosiologis yang secara sederhana dapat ditarik persinggunganya dengan film?

Dengan mengacu pada konsepsi Anthony Giddens dan Ulreich Beck, Žižek melihat suatu kemungkinan pemecahan subjek ditengah masyarakat beresiko (Risk Society).[15] Baginya, masyarakat risiko mengacu pada kondisi “probabilitas rendah — konsekuensi tinggi” (low probability — high consequences) dan pembahayaan diri (self-endangernment) dengan akibat munculnya Refleksivitas Subjek yang seringkali ditengarai sebagai konsekuensi dari kondisi kapitalisme akhir dengan upaya yang memungkinkanya suatu tindakan subyek yang melampaui pendefinisian struktur sosial. Dengan kata lain, titik tersebut merupakan titik nol substansial — subjek bergerak dari sistem sosial yang telah begitu lama mereifikasi keberadaan subjek hanya dengan basis reflektif. Atas dasar itulah, dengan mengajukan preposisi Lacan, ia mengandaikan dengan sebuah premis Kematian Sang Lain Besar / Le Grand Autre pada kondisi inkonsistensi ketimbang merayakan kematian subjek yang sebelumnya telah disinggung. Melihat Rekonstruksi kompleksitas pemikiran dan tesisnya kedalam film. Žižek pada dasarnya berupaya melakukan pembacaan ulang terhadap beberapa karya rumitnya menjadi lebih mudah dipahami. Sekaligus, ia menjelaskan pendasaranya yang menjadi titik awal keberlanjutanya di arena kebudayaan film. Pada satu kesempatan dalam film The Perverted Guide to Cinema[16]. Žižek, merumuskan film sejalan dengan psikoanalisa Lacan sebagai cara berhasrat ketimbang menjadi hasrat itu sendiri. Dasar itulah yang memungkinkan bahwa keberadaan film sebagai produk yang berdiri di tengah dinamika masyarakat mampu menjelaskan fungsinya yang lebih tegas yakni sebagai kritik ideologi ketimbang menjadi alat propaganda ideology bagi kapitalisme.

Catatan Kaki

[1] Slavoj Žižek, International Director — The Birbeck University For the Humanities, Birbeck, University of London.

[2] Diane Rubenstein “Slavoj Žižek : Critical Thoughts and International Relations” London : Routledge 2009. hal. 444–445

[3] Diane Rubenstein Ibid.

[4] Sophie Fiennes, “The Perverted Guide to Cinema” UK : P Guide Ltd.ICA Projects 2006.

[5] Sophie Fiennes, “The Perverted Guide to Ideology : They Live! “ US : P Guide Ltd, Zeitgeist Films, 2012.

[6] Morten Traavik “Liberation Day” UK : Dogwoof. 2016.

[7] Rachel Joseph, “Performing the Real and Its Lack: the dialectical performances of Slavoj Žižek in The Pervert’s Guide to Cinema and The Pervert’s Guide to Ideology” International Journal of Žižekian Studies, №1 Vol ; 11, 2017. Hlm 2.

[8] Lacan menjelaskan asal muasal lackness secara spesifik dalam Seminar Psychoanalisa XVI. Menurutnya, sebuah totalitas diri bemuara pada suatu awal tahapan identifikasi-diri yang secara eksternal bersifat konstitutif dimulai dari saat manusia atau sang bayi baru berumur 6 bulan. Dimana, dari situ sang bayi memiliki keterasingan pertamanya dengan sebuah pengandaian tentang fase cermin atau Gestalt. Lebih, lanjut dijelaskan dalam Jacques Lacan, The Seminar Book III: The Pschoses diterjemahkan oleh Russell Grigg (London: W.W. Norton & Co.), 1997, hlm. 146.

[9] Bagi Žižek, sinema merupakan pil ketiga. Pil pertama sebagai tawaran yang bersifat ilusi, pil kedua yang membongkar kenyataan dibalik ilusi, dan ketiga sebagai kesatuan dari kenyataan dan ilusi itu sendiri. Op, Cit. Rachel Joseph, International Journal Žižekian Studies of , №1 Vol ; 11 2017. Hlm 3

[10] Karl Marx, “Das Capital Volume 1”hal 77

[11] Jacques Lacan, The Four Fundamental Concepts of Psycho-Analysis, hlm. 263.

[12] Žižek dalam Surplus-Jouissance, Untuk itu baca : Žižek, The Sublime Object of Ideology, 1989. London : Verso. hal 50–52

[13] Baca Žižek, in Defense of Lost Causes, hal 421.

[14] Jacques Lacan dalam Seminar XV menjelaskan logika kapitalisme dan agama dalam kerangka psychoanalisis sebagai surplus jouissance yang berkembang pasca surplus value.

[15] Ulrich Beck, Risk Society: Toward a New Modernity (London: Sage, 1992), hal, 23–24.

[16] Dikutip pada wawancara Slavoj Žižek pada film dokumenter “The Perverted Guide to Cinema” Sophie, Fiennes 2006. P Guide Ltd.ICA Projects (UK)

Daftar Pustaka

Diane Rubenstein “Slavoj Žižek : Critical Thoughts and International Relations” London : Routledge 2009.

Jacques Lacan, The Seminar Book III: The Pschoses diterjemahkan oleh Russell Grigg (London: W.W. Norton & Co.), 1997.

Jacques Lacan, The Four Fundamental Concepts of Psycho-Analysis,

Karl Marx, “Das Capital : Volume 1”1867.

Žižek, The Sublime Object of Ideology, 1989. London : Verso.

Žižek, in Defense of Lost Causes, 2008 London : Verso.

Jurnal

Rachel Joseph, International Journal Žižekian Studies of , №1 Vol ; 11 2017.

Wawancara

“The Perverted Guide to Cinema” Sophie, Fiennes 2006. P Guide Ltd.ICA Projects (UK)

    Hrarasy

    Written by

    Fidelitè, Egalitè, et Libertè.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade