Sore untuk Seorang Barista.

Hrarasy
Hrarasy
Nov 6 · 2 min read

Tulisan ini merupakan riset kecil untuk melihat kondisi relasi kerja manusia modern. Peneliti mengambil sampel lokasi di sudut kedai kopi Balai Pustaka, Jakarta Timur.

Dimiliki oleh seorang penyedia modal dari Pontianak. Bos tersebut mempekerjakan seorang tenaga gawai untuk memotong dan menyajikan segelas kopi dari alat pembuatnya yang lengkap. Sebagai seorang barista ia dituntut untuk bekerja selama 12 jam tiap harinya. Dari mulai membuka gerai kedai kopi pada pukul 11.00 WIB, memotong biji kopi hingga menyajikan kopi pada tiap konsumen, serta menutup gerai kedai pada pukul 23.00 WIB. Rutinitas ini adalah aktifitas yang musti dilakoni seorang barista yang bertempat tinggal di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur demi memenuhi dompetnya.

Dalam aktifitas memamah, memilih, hingga meracik segelas kopi, tak ada harga yang mampu ia otak atik kecuali ketentuan dari bos sebagai pemilik kedai. Mulai dari 15k hingga 23k adalah harga yang harus dibayar oleh konsumen yang ingin menikmati sajian seorang barista yang sampai saat ini namanya tidak pernah tercantum dalam secarik kertas yang menempel di sudut kedai atau di seragamnya. Apalagi membayangkan jika nama seorang barista tersebut muncul dalam tiap menu yg disodorkan kepada konsumen sebagai bentuk penghapusan alienasi terhadap karya ciptanya.

Saya memesan segelas kopi arabika dengan standar pembuatan manual. Sewaktu proses pembuatanya, sesekali saya melontarkan pertanyaan kepada barista. "Di Jatinegara sudah jadi makin sempit ya bang, dulu sempit sekarang makin sempit, ya bang?" dengan suara yang parau barista itu menjawab "Ya mau gimana lagi bang, kalo kita berkoar pun ga bakal didenger"Jawabnya pesimistis melihat persoalan pembangunan yang begitu arrogan. Kopi pun datang untuk dihidangkan, aromanya menusuk hidung dan rasanya familiar seperti kopi arabika pada umumnya. Sembari santai kami menikmati sore yang perlahan membunuh waktu dan nafasnya. Sebab, saya pikir bagaimana bisa menghabiskan rutinitasnya yang begitu mencengkeram kebebasanya agar semakin dekat dengan orang-orang yang dicintainya.

Ya, anggapan saya terlampau terburu-buru. Dengan penghasilan dibawah UMR yakni 1,5 Juta per bulan. Dari yang awalnya begitu asing dengan kopi menjadi terpaksa mencintai kopi adalah kondisi yang harus ia lalui ketimbang memikirkan orang yang ia cintai.

    Hrarasy

    Written by

    Hrarasy

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade