Amaryllis dan Kita

Keindahan padang bunga Amaryllis (bunga Lili Hujan) di desa Salam kecamatan Patuk (Gunung Kidul, Yogyakarta) hanya sekejap. Bunga yang hanya mekar setahun sekali saat mulai musim hujan ini ditanam oleh bu Wartini, yang tidak menyangka akan kedatangan banyak sekali tamu yang sebagian justru melindas keindahan padang bunga ini.

Kegaduhan akan pujian keindahan padang bunga ini segera berubah menjadi peperangan antara para pengagum dan para pelindasnya. Sebagian pelindas membalas dengan ringan dan cuek walau dihantam oleh gelombang pencibir kelakuan mereka terhadap padang bunga ini. Inilah pentas media sosial yang memanas minggu akhir bulan November tahun 2015, walau belum melebih kegaduhan #papamintasaham.

Kata-kata pada paragraf diatas saya buat lebai dan tidak biasa, untuk menggambarkan asiknya kegaduhan dimedia sosial. Saya menikmatinya :D

Topik bunga Lili Hujan ini dapat menjadi kajian banyak pihak, baik pemerintah daerah (yang selalu digambarkan lambat merespon), masyarakat (yang selalu dikatakan “sudah cerdas”), dan kota istimewa Yogyakarta (yang tiada pernah ingin dikecilkan dari sudut apapun), serta mungkin banyak pihak lain yang meramaikan (topik skripsi mahasiswa kota pelajar? Bisa jadi, bisa jadi).

Saya tidak ingin menyalahkan pemilik, yang mengakui tidak mempersiapkan pekarangannya untuk didatangi ribuan (baca: ribuan) penikmat foto selfie dengan gaya bibir merat-merotnya. Bu Wartini tidak dalam kapasitas menyiapkan infrastruktur wisata, tentunya.

Tidak pula berniat menyalahkan para generasi muda (dan sebagian tua) para pendatang ke desa Salam ini, yang telah berkontribusi akan kerusakan tanaman-tanaman yang ada. Mereka salah? Ya, pasti ada sisi kesalahannya. Tapi biarkanlah, kapan-kapan mereka akan sadar kok, mungkin setelah mereka meninggalkan dunia ini.

Saya justru “lebih senang” menyalahkan anda. Ya, anda yang membaca tulisan ini. Satu telunjuk saya menghujam kearah anda.

Jika anda remaja dan mencintai keindahan alam, relakah anda saat ada taman bunga yang indah menjadi rusak karena ketidak-tahuan orang lain dalam bersikap mencintai dan menikmati keindahan itu? Jika tidak rela, lakukan sesuatu dengan segera untuk mengajak rekan-rekan mu bertindak yang asik-asik agar keindahan alam tetap terjaga. Belajar berkebun bunga itu asik. Lakukan dengan berkelompok lebih asik lagi. Banyak sekali kelompok-kelompok berkebun yang ada dibanyak kota Indonesia.

Anda yang sudah merasa dewasa, ya, anda yang sedang membaca tulisan ini, ini salah anda! Senangkah melihat keindahan taman bunga yang hancur luluh oleh pengunjungnya dalam sekejap? Jika tidak senang, maka mari berpikir sistematis, masif dan terstruktur tentang bagaimana melakukan edukasi pada masyarakat (yang katanya “sudah cerdas”) untuk bersikap pada keindahan alam. Gunakan semua lini dalam proses edukasi ini, jejaring media sosial dapat dioptimalkan. Buat berbagai metode pendekatan pada “orang-orang cerdas” tadi. Jangan pakai metode “menggeruduk” atau perisakan massal, itu nggak jaman lagi. Kalau perlu pendekatan dan pelaksanaan dijadikan sebagai tulisan ilmiah, akan lebih joss...!

Tudingan saya terakhir pada para orang tua dan yang dituakan, ini kesalahan kalian! Siapapun akan melihat dan meniru dengan modifikasi terhadap apa yang dilihat dari orang yang dihormatinya. Nah, “masyarakat cerdas” ini pastilah telah melihat bagaimana orang tuanya (atau orang yang dituakan/dihormati) memperlakukan keindahan alam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tingkat kecerdasan itu maka mereka memodifikasi dengan riang hati dalam menikmati padang bunga Lili Hujan ini. Jelas ini kesalahan menahun dari para tetua yang dijadikan teladan. Takut mengakui?

Tiga kali telunjuk saya menghujam ketiga pihak, yang saya anggap bertanggungjawab atas kegaduhan tragedi taman bunga di desa Salam ini. Dan… sekarang saya memerhatikan tangan saya, jari-jari saya.

Dalam setiap menujuk anda, ada satu jari mengarah kemuka anda, tiga lainnya mengarah ke saya. Tiga kali menunjuk maka, secara matematika, tiga kali tiga, atau sembilan kali saya menunjuk diri sendiri.

Baiklah, agar saya tidak dirisak dimedia sosial atau masuk petisi daring, maka saya mengakui bahwa kehancuran taman bunga amaryllis di Gunung Kidul Yogyakarta adalah andil saya juga.

Saya belum peduli dan bersikap benar dalam menikmati keindahan alam.

#bungabakung #lilihujan #amaryllis

Haslett, Michigan, 28 November 2015