Berjalan Bersama di Idul Fitri

Bersama rekan-rekan internasional merayakan Idul Fitri di Lansing, Michigan.

Perbedaan dalam berkeyakinan yang baik tentunya tidak memengaruhi persahabatan. Momen lebaran kali ini mengingatkan saya setahun lalu saat di perantauan tinggal di lingkungan yang dominan tidak merayakan Idul Fitri.

Selesai sholat Eid di gedung pertemuan yang disewa oleh pengurus masjid yang terletak di tengah kota, saya dan keluarga kembali ke rumah yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota Lansing, Michigan. Kami bergegas pulang karena ada acara yang telah digagas dan akan dilakukan di rumah kami, sedangkan sholat Eid (yang dimulai jam 9.30) dan silaturahmi-nya baru selesai jam 11-an.

Makanan di rumah telah siap, semua adalah masakan ala lebaran di kampung halaman, Bogor, yang menyediakan ketupat, opor, rendang, dan teman-temannya…

Lebaran kali itu kami tidak mengundang saudara-saudara Indonesia ke rumah sebagaimana lebaran2 sebelumnya. selain mereka sudah punya acara sesuai kelompoknya masing-masing, saat itu kami ingin mengadakan acara berbeda. Kami telah mengundang beberapa rekan internasional yang nonmuslim untuk ikut merayakan lebaran dan merasakan makanan khas lebaran Indonesia.

Jam 1 siang mereka mulai berdatangan, ada beberapa rekan Amerika (beberapa pensiunan dosen MSU), juga rekan-rekan dari Korea, Taiwan, Bangladesh. Kami ajak makan siang ala Indonesia, sambil ngobrol panjang lebar tentang banyak hal, tetapi fokus pada Indonesia, Islam, dan Islam di Indonesia.

Diskusi santai bersahabat dan menyenangkan.

Mereka bertanya tentang ISIS, jihad, pemboman di tempat suci Islam sendiri, dan banyak lagi. Saya mencoba menerangkan sejauh saya mengerti dan dengan permintaan maaf akan keterbatasan pengetahuan saya. Mereka (yang American) juga menyadari teror yang dibuat oleh kebijakan pemerintahannya sendiri terhadap dunia.

Lalu saya menceritakan banyak hal tentang kehidupan di Indonesia, tidak hanya tentang makanan yang kami makan siang itu tetapi juga tentang kehidupan antarumat beragama, sambil menunjukkan pada peta Indonesia yang terpampang di dinding ruangan.

Siang itu kami mempunyai banyak pembicaraan yang membangun. Ya, membangun kebersamaan dan persahabatan kami. Kami sepakat untuk terus jalan bersama sekalipun mempunyai perbedaan keyakinan akan Sang Pencipta.

Imam masjid Lansing, pak Sohail, pernah menekankan pada sebuah khotbah Jumat, bahwa jadilah duta agama yang terbaik dengan cara yang benar. Orang lain tidak menilai mu dari baju atau celanamu, tidak dari janggut atau dahimu, tidak dari agama mu, tetapi dari perbuatan mu terhadap orang di sekitar mu.

— — 
Kafe Serambi Sentul City, 30 Juni 2017.