Hijrah Kedua

Saat ini banyak rekan yang menggunakan terminologi hijrah untuk menyatakan dirinya (atau harapannya) telah berubah. Tentunya berubah menjadi lebih baik sesuai ajaran rasul Nya, ajaran melalui ulama yang baik, bukan ajaran dari YouTube atau WhatsApp.

Saya mempunyai rekan "bule" yang mualaf (converted), seorang wanita Amerika. Suaminya orang Canada adalah Muslim sejak lahir. Si perempuan ini berkisah mengenai saat ia menjadi muslimah hingga kini.

Saat ia tertarik menjadi muslimah, maka ia belajar agama Islam pada imam masjid di Detroit dan sekitarnya. Alhamdulillah ia berhasil masuk menjadi muslimah "dengan resmi". Dan cerita dimulai.

Pendalaman agama, selain bimbingan suaminya, ia lakukan juga dibanyak kegiatan masjid. Juga dipertemuan2 ibu2 "pengajian" di sana. Ia mengenakan hijab yang rapi dan berusaha masuk ke komunitas keagamaan. Tetapi kemudian ia temukan hal aneh, dimana banyak sekali dibicarakan tentang "kesalahan si anu dan kebenaran kita", bukanlah bagaimana menghadirkan Sang Pencipta didalam hati dan kehidupan. Dengan berjalannya waktu ia menjadi goyah, beginikah Islam? Saya bisa membayangkan peristiwa yg ia alami, karena saya berpengalaman menjalani suasana demikian.

Singkat cerita, ia akhirnya mengundurkan diri dari acara2 kajian masjid tersebut. Ia, seijin suaminya, melepas hijab dan kembali ke kehidupan semula, tetapi tetap sebagai muslimah ("hijrah kedua"). Keluarganya dan keluarga saya cukup akrab dengan saling mengunjungi, dan ia banyak mendengar suasana di Indonesia sebagai salah satu asupan pengetahuan dari kami, kondisi baik dan buruknya (tentunya versi kami). Sampai kini kami tetap terhubung baik.

Rupanya kisah serupa banyak terjadi, dan salahsatunya menimpa rekan kami di Bogor. Ia juga ingin hijrah dari kehidupan glamour menjadi muslimah yang baik dan benar. Ia mengikuti beberapa pengajian dengan tekun. Sampai akhirnya ia menghentikan aktivitasnya dengan alasan: hampir semua pengajian yg diikuti berisi opini menjelekkan satu pihak dan memuji pihak lain. Tidak ada pendalaman berarti bagaimana mendapatkan ibadah yang benar dan penerapannya dikehidupan.

Demikianlah pengalaman serupa pada lokasi dan budaya yang berbeda. Ada terlihat benang merahnya?

Saya teringat nasihat imam Sohail saat di masjid East Lansing: orang tidak akan melihat agamamu tetapi melihat perilakumu, jadi jika kamu mau menegakkan agamamu maka cerminkanlah pada kehidupan nyata dengan bijak.

Curug, Bogor, 6 April 2019.